Media Tanam dan Pot

Banyak pembahasan secara sepintas tentang media tanam di beberapa artikel di situs ini. Anda pun bisa memperoleh informasi lebih mendalam dari internet mengenai jenis-jenis media tanam yang dapat digunakan untuk menanam dalam pot. Sulit untuk tidak menyertakan keberadaan media tanam saat sedang membahas mengenai kehidupan flora. Terlebih lagi jika kita menggunakan pot sebagai wadah tempat menanam. Berbeda halnya jika kita menanam langsung di atas permukaan hamparan tanah, dimana selalu ada bantuan dari keadaan lingkungan sekitarnya guna memenuhi kekurangan akan kebutuhan dasar selama proses pertumbuhan (mis. mikro organisme). Menanam menggunakan pot memiliki konsekuensi tetap konsisten dalam memenuhi kelayakan media tanam untuk tanaman yang tumbuh di atas nya, di samping banyak hal lainnya.

Pengertian media tanam (dalam lingkungan awam) sebagai bahan atau materi tempat tanaman tumbuh, telah mengalami evolusi dari bahan asalnya yaitu tanah. Hal ini, mungkin, hanya terjadi di Indonesia dan negara-negera lain yang terletak di daerah katulistiwa, yang sangat kaya akan materi alam flora. Informasi-informasi yang beredar di internet mengenai media tanam, mayoritas selalu mengasumsikan bahwa yang disebut sebagai media tanam adalah tanah. Tidak lebih. Sedangkan media tanam yang sering dinyatakan di Indonesia secara umum di pasaran, seringkali berupa bahan pelengkap kelayakan nutrisi untuk tanah, seperti kompos, pakis, sekam mentah dan lain sebagainya.

Memang sulit merawat tanah untuk tetap bisa memiliki kecukupan kandungan nutrisi bagi tanaman, terlebih bagi yang tidak memiliki dasar pengetahuan dalam bidang tersebut. Mayoritas penggemar tanaman hias adalah awam botani (termasuk saya). Mereka hanya menyukai tanaman hias dan ingin memeliharanya di rumah. Kondisi awam dan tidak mengerti ini membuka kesempatan bagi beberapa pedagang tanaman mencari pengganti media untuk menanam yang lebih mudah perawatannya dari tanah. Tersedialah berbagai jenis media menanam pengganti tanah yang sedianya merupakan, mayoritas, bahan pelengkap kebutuhan nutrisi untuk tanah.

Ternyata, apa yang dilakukan para pedagang itu terbukti efektif. Saat ini, banyak para penggemar tanaman hias amatir, mampu merawat dan menjaga koleksi tanaman-nya dengan baik. Sampai pada akhirnya, pengertian media tanam mulai berevolusi di lingkungan pedagang perlengkapan berkebun. Jika kita menanyakan keberadaan media tanam, mereka akan bertanya balik kepada anda, “Media tanam untuk tanaman apa?”.

Dampak negatif penggunaan bahan pelengkap kebutuhan nutrisi untuk tanah yang dijadikan sebagai pengganti tanah ini adalah jumlahnya yang kian hari kian menipis akibat permintaan yang kian meninggi. Memang, ada juga bahan pelengkap kebutuhan nutrisi untuk tanah buatan manusia, seperti kompos. Namun, permintaan akan bahan pelengkap kebutuhan nutrisi untuk tanah yang alami, tetap saja tinggi. Ada beberapa produk alam yang tetap tidak dapat tergantikan oleh buatan manusia. Sehingga, patut untuk kita menyadari dan menanamkan perilaku tindakan pemakaian media tanam alami dengan lebih bijaksana.

Seperti pembahasan dalam beberapa artikel di situs ini, pengertian media tanam tidak mengacu hanya pada tanah, tetapi bahan atau materi yang bisa dijadikan menanam tanaman. Saya telah mencoba beberapa jenis media tanam yang biasa beredar di pasaran, seperti pakis, andam, daun bambu, sekam mentah (kulit beras), sekam bakar, sabut kelapa dan termasuk tanah. Cara pengaplikasian yang paling sering digunakan adalah dengan mencampur dan mengaduk beberapa jenis media tanam hingga merata. Tujuannya adalah mendapatkan satu komposisi media tanam yang cukup ideal untuk dipakai sebagai media menanam mayoritas tanaman hias pada umumnya.

top

Media tanam siap pakai vs sampah

Mengapa saya tidak memakai media tanam siap pakai seperti yang biasa dijual oleh pedagang perlengkapan pertanian?

Jika kita mau memerhatikan dengan lebih teliti, banyak bahan / materi pelengkap kebutuhan nutrisi untuk tanah yang beredar secara “gratis” di sekeliling kita dalam bentuk “sampah”. Contoh paling mudah adalah sabut kelapa. Setiap harinya, banyak sabut kelapa beserta kulitnya yang dibuang begitu saja ke tempat sampah. Seandainya kita mau sedikit ber-inovasi, kita dapat memanfaatkannya sebagai salah satu bagian media tanam. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memotongnya empat persegi panjang untuk diletakkan dalam pot di bagian terbawah yang, biasanya, diisikan dengan menggunakan stereo-form bekas. Sabut kelapa + kulitnya, memiliki daya tahan yang relatif “cukup” kuat dan mampu menyerap serta menyimpan air dengan baik. Seiring berjalannya waktu, bahan ini akan mengalami pelapukan dengan waktu “sangat” perlahan. Proses pelapukan ini akan menghasilkan sejenis enzim yang berguna untuk pertumbuhan tanaman.

Selain sabut kelapa, ada banyak bahan / materi lain disekitar kita yang bisa dimanfaatkan sebagai pelengkap kebutuhan nutrisi untuk tanah. Kunci untuk memanfaatkannya terletak pada sejauh mana inovasi kita sendiri.

Namun begitu, tidak ada yang salah dengan media tanam siap pakai. Menggunakan media tanam siap pakai, yang umumnya sudah dicampur dengan kompos, memang efektif. Kita tidak perlu lagi pusing memikirkan kelayakan nutrisi yang ada didalamnya, karena sudah dilengkapi dengan kompos. Dengan harga relatif murah dan volumenya yang banyak, jenis media tanam ini sangat ideal bagi mayoritas penggemar tanaman hias. Di pasaran banyak beredar media tanam siap pakai dengan dua kategori, untuk tanaman buah dan tanaman hias.

Jadi, salah satu alasan terbesar saya yang sebenarnya untuk tidak menggunakan media tanam siap pakai adalah untuk belajar dan mengerti cara memanfaatkan bahan-bahan organik yang ada dan sudah dianggap sebagai sampah di lingkungan sekitar kita. Jika sampah organik yang telah dijadikan kompos bisa berfungsi untuk menyuburkan tanaman, berarti, bahan-bahan organik lain yang statusnya “hampir” menjadi sampah (seperti sabut kelapa) bisa juga kita manfaatkan sebelum terlanjur dimasukkan ke dalam tong / tempat sampah.

top

Media Tanam Andam dan Daun Bambu…

Saat ini, saya hanya akan membahas jenis media tanam hanya pada kisaran andam dan daun bambu saja. Kedua bahan organik ini, lebih banyak digunakan sebagai hiasan di bagian permukaan media tanam untuk tanaman dalam pot. Tidak ada yang salah untuk itu. Namun, bagi saya, kedua jenis bahan organik ini memiliki efek kelebihan tersendiri yang tidak dimiliki bahan organik lain untuk dijadikan media tanam. Saya tidak menyatakan kedua jenis bahan organik tersebut merupakan yang terbaik. Bagi mayoritas tanaman dalam pot, pemakaian kedua jenis media tanam ini menghasilkan efek positif pada proses tumbuh-kembang tanaman.

Media Tanam Andam

Media tanam jenis andam, yang lebih dikenal dengan nama “mulch” dalam bahasa Inggris, merupakan salah satu jenis media tanam yang disukai mayoritas tanaman. Berbahan ranting dan dedaunan dari jenis tanaman pakis-pakisan yang sudah mati. Karakternya lembab dan agak rapuh, mudah menyerap air.

Daun bambu, seperti namanya, adalah media tanam yang berasal dari bahan daun bambu yang telah tua dan mengering.

Media Tanam Daun Bambu

Karakternya kering, rapuh dan agak sulit menyerap air.

Pengaplikasian kedua media tanam secara terpisah, tidak membawa hasil sebaik jika keduanya dicampurkan. Saya tidak tahu apa sebabnya.

Pencampuran kedua jenis media tanam ini (andam : daun bambu = 2 : 1), akan menghasilkan komposisi media tanam yang bersifat porous dan lembab. Walaupun tidak berdaya tahan lama, campuran media tanam ini sangat ampuh menjaga stabilitas kondisi kelembaban akar tanaman.

Pengaplikasiannya sangat mudah. Bisa langsung dipakai dalam keadaan kering atau terlebih dulu (lebih baik) direndam dengan air tawar.

Ada hal menarik jika media tanam campuran ini digunakan setelah melalui proses perendaman. Selain menghindari debu yang berterbangan yang berasal dari media tanam, proses perendaman ini akan menghasilkan sejenis zat yang disukai tanaman. Jika air hasil proses perendaman >= 24 jam disiramkan ke media tanam dalam sebuah pot, akan menjadikan tanaman yang tumbuh di atas media tanam tersebut tampak segar pada 1-2 hari kemudian. Jenis media tanam yang pernah saya coba siram dengan menggunakan air rendaman ini adalah tanah merah, pakis, sekam mentah dan media tanam yang sudah lapuk (mati). Semua tanaman yang tumbuh di atas media tanam tadi, terlihat segar setelah mendapat siraman air rendaman pada media tanamnya.

Berapa lama efek guna air rendaman itu bisa bertahan? Apakah media tanam yang sudah mati menjadi hidup lagi? Apakah bisa dijadikan sebagai POC? Saya tidak memiliki sumber apa pun yang bisa dijadikan teori untuk menjelaskan kejadian ini, baik secara awam maupun ilmiah.

Namun, saya menemukan persamaan aroma (bau) yang dikeluarkan saat waktu perendaman diperpanjang menjadi 1 minggu dengan perendaman rumput laut selama 3 hari. Mengacu pada nutrisi yang terdapat pada rumput laut, lebih banyak didominasi kandungan nutrisi mikro (micro nutrients) yang cukup lengkap. Jika hal yang sama memang terjadi pada air hasil proses perendaman andam + daun bambu, tentu akan mempermudah dalam melengkapi kebutuhan nutrisi tanaman dengan cara yang lebih mudah dan efektif, karena pengerjaannya sekali jalan. Disamping itu, air rendaman ini dapat diaplikasikan terhadap beberapa jenis media tanam yang berbeda.

Percobaan yang saya lakukan menggunakan air rendaman ini sudah berlangsung cukup lama, dan tidak menimbulkan efek negatif bagi tanaman.

Ampas hasil perendaman bisa ditambahkan ke dalam pot yang mengalami pengurangan volume media tanam. Apakah ampas ini masih memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman? Saya tidak tahu. Biasanya, bahan organik memiliki beberapa kandungan nutrisi dengan karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang mudah di ekstrak hanya dengan menggunakan air biasa, ada yang harus melalui proses pemasakan, dan ada juga yang harus menggunakan media kimia tertentu seperti alkohol atau ether. Jadi, ada kemungkinan ampas hasil proses perendaman, masih memiliki kandungan nutrisi lain yang tidak ikut ter-ekstrak oleh air.

Hasil eksperimen menggabungkan ampas hasil proses perendaman dengan bubuk kacang kedelai berefek pada timbulnya bintik-bintik coklat (dead spot) atau cacat pada daun muda / baru tumbuh. Apa yang menjadi penyebabnya jelas karena kelebihan nutrisi tertentu. Namun, saya belum menemukan jenis nutrisi yang menjadi penyebabnya. Terdapat kemungkinan, hal tersebut disebabkan “ketersediaan” nutrisi yang terganggu akibat kadar keasaman (pH) media tanam yang meningkat, karena tindakan perendaman akan menghasilkan proses fermentasi.

Dari beberapa jenis media tanam yang pernah saya coba, pemakaian campuran kedua media tanam ini merupakan yang terbaik dapat diterima oleh mayoritas tanaman, baik tanaman hias (kecuali anggrek) maupun tanaman buah, di rumah saya. Jika hendak menghemat pemakaian kedua jenis media tanam ini, anda bisa menggunakan jenis media tanam berbeda (mis. tanah) di tambah dengan air hasil rendaman dan ampas campuran andam + daun bambu sebanyak ¼ – 1/3  bagian pada bagian permukaan. Tehnik ini cukup efektif melindungi tingkat kelembaban media tanam di bawahnya menjadi relatif stabil. Cara merendamnya dengan menggunakan ember berkapasitas 6 liter diisi dengan campuran andam + daun bambu hingga ¼ bagian ember, isikan air hingga ¾ bagian ember, aduk hingga merata. Cukup direndam selama 24 jam dalam keadaan tertutup (asal tertutup saja), kemudian di siramkan pada media tanam yang sekiranya membutuhkan.

Mengenali karakter tanaman yang (hendak) dipelihara sangat membantu dalam menentukan kebutuhan jenis media tanam oleh tanaman itu sendiri. Memenuhi materi media tanam sesuai dengan kebutuahn tanaman, merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan selama masa perawatan.

Setiap daerah memiliki keunikan sumber materi alami yang berbeda-beda. Selain dukungan faktor iklim, keberadaan faktor materi alami ini patut dipertimbangkan untuk menentukan tanaman yang hendak kita pelihara. Karena, jika  materi media tanam yang dibutuhkan tanaman tidak tersedia secara berkesinambungan, akan sangat merepotkan.

top

Media tanam dalam Pot…

Jika kita menggunakan pot sebagai wadah menanam, merupakan hal penting untuk menjaga keseimbangan antara tanaman dengan volume media tanam yang dibutuhkan. Tidak semua pot memiliki volume sama, walaupun memiliki kode ukuran yang sama. Kode ukuran pada pot mengacu pada ukuran diameter lingkaran dasar pot. Misalnya, Pot 35 adalah pot dengan diameter dasarnya berukuran 35 cm. Namun, tidak ada standar untuk ukuran tinggi pot dan diameter lingkaran mulut pot. Penentuan tinggi dan luas area mulut pot hanya didasari atas kebutuhan tanaman yang akan diisikan ke dalamnya.

Pada saat ini, pot yang beredar di pasaran memiliki bentuk yang sangat variatif dan menarik. Memang demikian dasar tujuan pot dibuat, untuk menambah keindahan. Namun, semua pernak-pernik tersebut tidaklah dapat menjadikan kondisi tanaman yang ada didalamnya menjadi sehat. Jangan mensalah-artikan keindahan yang dihasilkan karena faktor pot dengan keindahan yang dihasilkan karena faktor kesehatan tanaman. Tanaman yang sehat terlihat indah dengan sendirinya, walaupun ditanam pada pot berpenampilan biasa saja.

Pot berbentuk seperti gentong air / tempayan (biasa disebut pot taman) cukup ideal dijadikan sebagai tempat menanam. Pot ini memiliki ukuran lebih tinggi daripada pot yang berbentuk ember, sehingga mampu menampung volume media tanam lebih banyak. Namun diperlukan sedikit modifikasi pada pot guna memenuhi kebutuhan irigasi dan aerasi yang lebih baik untuk mempertahankan kelembaban media tanam agar relatif merata.

Alasan mencukupi kebutuhan volume media tanam tanaman dalam pot merupakan hal yang dianggap cukup untuk tidak perlu diketahui pada sebagian orang. Sering kali kita melakukan tindakan memindahkan tanaman ke dalam pot yang lebih besar berdasarkan pada alasan kondisi fisik tanaman sudah melebihi kapasitas pot. Alasan itu ada benarnya. Semakin besar fisik tanaman, semakin besar kebutuhan ruang untuk akar guna mendukung fisik tanaman.

Namun, hal yang sebenarnya terjadi di bawah permukaan media tanam adalah pertumbuhan akar tanaman akan mendesak dan mengurangi ruang yang semula ditempati media tanam. Berarti, proses tersebut otomatis akan mengurangi volume media tanam yang bisa ditampung dalam pot. Seandainya kondisi itu dibiarkan, maka kebutuhan air dan nutrisi tanaman yang seharusnya dapat diserap melalui akar akan turut berkurang. Ini merupakan salah satu penyebab akar tanaman turun merajalela melalui lubang di dasar pot atau mengikuti jalur aliran air yang keluar dari dalam pot.

Keluarnya akar melalui lubang irigasi dan aerasi pot sudah tentu akan menghambat kemudahan air keluar dengan bebas dari dalam pot. Hal tersebut merupakan awal dari salah satu penyebab terjadinya busuk akar. Terhambatnya lubang irigasi dan aerasi pada pot akan menghasilkan proses fermentasi dan akan berujung pada kesehatan serta daya tahan tanaman. Itulah kondisi yang sebenarnya dari alasan mengapa tindakan pemeliharaan dan perawatan di bagian akar tanaman perlu dilakukan secara berkala, yang mana salah satunya adalah mengganti kapasitas pot sesuai dengan besar fisik tanaman. Kita perlu memberikan ruang yang cukup antara akar tanaman dengan volume media tanam agar proses tumbuh kembang tanaman tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya.

top

Ukuran Ideal Pot Tanaman…?

Berapa besar ukuran pot yang dibutuhkan oleh tanaman agar kebutuhan akan media tanamnya terpenuhi?

Saya menentukan parameter tersebut berdasarkan diameter mulut pot harus pada kisaran sebesar ½ hingga ¾  bagian diameter horisontal fisik tanaman. Jadi, jika diameter horisontal tanaman sepanjang 80 cm, maka ukuran diameter (minimal) dari mulut pot harus 80 x ½  = 40 cm atau 80 x ¾ = 60 cm. Mengapa? Secara logika, jika kita hendak meletakkan penopang di bawah barang dengan ukuran berdiameter horisontal 80 cm, maka ukuran penopang yang ideal agar barang yang ditopang berada pada posisi seimbang adalah sebesar ½ hingga ¾ bagian ukuran barang tersebut.

Apakah dengan cara itu tanaman akan mendapatkan volume media tanam sebagaimana yang dibutuhkan? Tentu saja tidak semudah itu. Tindakan memotong sebagian dari porsi akar tanaman yang ada, sebaiknya juga dikerjakan sebelum kita mengubur bagian akar dengan media tanam. Setidaknya, terdapat jarak / ruang sekitar 2 s/d 5 cm antara akar tanaman dengan permukaan dinding pot. Jika proses tumbuh-kembang tanaman berjalan dengan baik, ruang tersebut akan terisi oleh akar dalam waktu ± 3 s/d 4 bulan.

Walaupun keseimbangan volume media tanam dalam pot perlu mendapat perhatian, hal mendasar yang paling penting diperhatikan adalah kelembaban media tanam yang tetap terjaga secara konsisten. Kondisi kelembaban yang memadai akan membuat proses tumbuh-kembang tanaman berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga pada akhirnya, akan berefek pada kemampuan adaptasi dan daya tahan tanaman itu sendiri dalam menghadapi perubahan yang terjadi pada lingkungan disekitarnya.

top

Tingkat Kepadatan Media Tanam….

Berapa tingkat kepadatan media tanam yang ideal? Sedang. Itulah jawaban yang paling pas. Kesulitannya adalah menentukan ukuran tingkat “sedang” tersebut. Tanpa keberadaan “bor media tanam“, bagi saya, sulit untuk mengetahui tingkat kepadatan media tanam. Dengan mempelajari karakter dan penggunaan bor media tanam, anda bisa mengetahui bagaimana caranya mengatur kepadatan media tanam dalam sebuah pot. Beranjak dari pengalaman tersebut, anda akan menemukan tingkat kepadatan yang ideal bagi koleksi tanaman yang ada di rumah. Sulit bagi saya menjelaskan parameter secara umum mengenai tingkat kepadatan media tanam dalam sebuah pot. Faktor kebiasaan tindakan perawatan dan cuaca, berperan sangat menentukan waktu proses media tanam menjadi padat. Dengan asumsi, penyiraman dilakukan setiap hari, maka tingkat kepadatan media tanam akan terjadi pada bulan kedua sejak tindakan penggemburan dilakukan. Hal itu pun sangat bergantung pada jumlah volume air yang disiramkan. Jadi, ada baiknya anda mencoba sendiri untuk mengetahui keadaan tersebut sesuai dengan kebiasaan tindakan perawatan yang diterapkan pada koleksi tanaman di rumah.

Tingkat kepadatan media tanam yang ideal merupakan faktor yang cukup penting untuk dijaga agar kebutuhan oksigen bagi tanaman yang diserap oleh akar dapat terpenuhi dengan baik. Disamping itu, secara tidak langsung juga menjaga kestabilan kadar pH media tanam.

Tidak menutup kemungkinan, bahwa tingkat kepadatan media tanam dapat diketahui dengan menggunakan alat selain bor media tanam. Pada saat ini, hanya alat itulah yang saya gunakan.

Jika anda melakukan tindakan penggemburan media tanam (menggunakan bor media tanam) pada saat musim kemarau, saya sarankan untuk melakukan tindakan penyiraman (setidaknya) minimal 2 kali sehari. Melakukan penggemburan media tanam pada saat musim kemarau, akan menjadikan kelembaban media tanam berkurang drastis akibat berkurangnya kepadatan media tanam.

Bor media tanam, berfungsi dengan sangat baik untuk membuka jalur aerasi dalam media tanam yang padat akibat tindakan rutinitas penyiraman atau akibat siraman air hujan yang berkesinambungan. Pada musim kemarau, jalur aerasi ini akan dilalui oleh hawa panas dan akan mengeringkan (secara bertahap) bagian media tanam yang dilaluinya. Saya cenderung tidak melakukan tindakan penggemburan media tanam selama musim kemarau, untuk menghindari ketidak-stabilan tingkat kelembaban yang sudah terbentuk sebelumnya dalam media tanam.

top

Media tanam yang ideal…

Hingga saat ini, saya menjadikan campuran andam dan daun bambu sebagai standar media tanam untuk menanam di rumah. Memang, hampir sebagian besar kebutuhan tanaman bisa terpenuhi dengan baik oleh campuran media ini. Namun, dari pengalaman yang ada, tetap harus dilakukan tindakan penggemburan media tanam secara berkala dengan menggunakan bor media tanam. Menyertakan pakis sebagai media tanam tambahan untuk mempertahankan media tanam dalam pot tetap dalam keadaan porous, tidak sepenuhnya berjalan dengan baik. Hanya bertahan sementara, karena pelapukan andam dan daun bambu tetap akan terjadi dan pada akhirnya mempersulit tindakan penggemburan, akibat akar-akar yang menempel pada tangkai pakis. Namun, bukan berarti pakis atau jenis media tanam lainnya menjadi tidak cocok digunakan sebagai media tanam.

Jenis media tanam apa pun yang kita gunakan tetap membutuhkan tambahan bahan pelengkap yang berupa “tindakan perawatan” secara rutin terhadap media tanam itu sendiri. Bahan pelengkap berupa “tindakan perawatan” inilah yang, pada akhirnya, lebih berperan dalam menjadikan jenis media tanam apa pun yang digunakan menjadi ideal bagi tanaman yang tumbuh di atasnya.

top

Semoga bermanfaat!

One thought on “Media Tanam dan Pot

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s