Pupuk Organik Cair dan Tanaman

Banyak sumber menyatakan, salah satu kemampuan daun adalah menyerap unsur hara yang dibutuhkan tanaman dari udara bebas untuk proses fotosintesis. Kemampuan ini, dinyatakan, jauh lebih besar dibandingkan akar tanaman. Banyak yang menyebutkan bahwa daun berperan sebagai akar di atas permukaan tanah bagi tanaman. Jika memang demikian adanya, pemberian unsur hara dengan sengaja melalui daun, sudah tentu akan sangat banyak membantu proses pertumbuhan tanaman.

Pupuk Organik Cair (POC) atau lebih dikenal dengan sebutan pupuk cair atau pupuk daun, lebih diutamakan pengaplikasiannya untuk melengkapi kebutuhan nutrisi (dalam hal ini masih berbentuk unsur hara) tanaman melalui daun dan memang harus demikian penerapannya. POC tidak bisa berperan sebagai jalur utama tanaman dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya. Media tanam tetap merupakan jalur utama tanaman dalam memperoleh nutrisi yang menjadi kebutuhannya. Jadi, apa pun ceritanya, pengaplikasian POC tetap hanya sekedar pelengkap saja. Untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi utama tanaman, tetap harus dengan cara perawatan dan pemenuhan nutrisi pada media tanam. Jika tingkat kelayakan nutrisi di media tanam sudah cukup lengkap, maka fungsi pengaplikasian POC dapat ditiadakan. Namun, jika kita menginginkan pertumbuhan tanaman relatif cepat, pengaplikasian POC secara rutin merupakan alternatif terbaik untuk mewujudkannya.

Terasa cukup sederhana, bukan? Seandainya kita menginginkan pertumbuhan tanaman yang relatif cepat, bisa dengan cara mengaplikasikan POC pada permukaan daun (foliar-feeding) secara rutin. Cukup hanya itu saja.

Tindakan tersebut, akan memberikan sebuah hasil berupa pertumbuhan tanaman yang sangat drastis. Tidak hanya terlihat pada pertumbuhan fisik tanaman dari segi batang dan daun saja, tetapi juga pada kemampuan tanaman menghasilkan bunga. Untuk mendapatkan hasil seperti itu, saya menemukan, bahwa penerapan foliar-feeding harus dilakukan dengan dasar beberapa aturan main tertentu, yaitu : jumlah takaran pupuk, waktu pengaplikasian pupuk dan kondisi kandungan unsur hara dalam pupuk (POC) yang diaplikasikan.

top

Berapa besar kebutuhan tanaman akan POC ?

Berapa jumlah dosis / takaran dibutuhkan dalam setiap kali pengaplikasian POC? Menurut beberapa sumber di internet, mayoritas mengatakan, dalam jumlah yang sangat kecil / sedikit. Jadi, berapa banyak? Berapa definisi takaran jumlah yang sangat kecil itu? Tidak ada parameter yang pasti, karena konsentrasi kandungan unsur hara pada pupuk (organik maupun sintesis) pada setiap kemasan pupuk yang dijual di pasaran, berbeda-beda. Sampai akhirnya, saya berkesimpulan, jika akar hanya mampu menyerap 2% keberadaan unsur hara di media tanam (Wikipedia) setiap harinya, maka takaran yang diperlukan POC untuk daun adalah 2% dari takaran yang dijadikan standar dalam sekali pengaplikasian.

Misalnya, jika pada kemasan dinyatakan takaran maksimum 10 ml dicampur dengan air 1 liter, maka takaran yang dibutuhkan menjadi 2% dari 10 ml per 1 liter air untuk setiap kali pengaplikasian. Jika, rekomendasi pada kemasan menyatakan pengaplikasian dilakukan dalam selang waktu 1 minggu sekali, maka hasil takaran dosis 2% dari 10 ml dibagi 7 (1 minggu = 7 hari) untuk dapat diaplikasikan setiap harinya.

Dasar teori takaran dosis ini adalah keseimbangan penyerapan unsur hara oleh akar berbanding sama dengan penyerapan unsur hara oleh daun. Mengapa demikian? Dalam pemikiran sederhana saya adalah dengan kemampuan menyerap unsur hara lebih besar dari pada akar, maka jumlah maksimum dosis yang bisa diserap oleh akar sudah pasti bisa diterima secara aman oleh daun. Walaupun begitu, frekuensi pengaplikasian pupuk juga harus diperhitungkan, karena (jika tidak diperhitungkan) akan memengaruhi kuantitas pupuk yang sebenarnya diaplikasikan.

Sebagaimana contoh di atas, hasil takaran dosis 2% dari 10 ml di bagi 7, adalah jumlah yang sama dengan (nyaris) tidak sampai satu tetes pupuk cair per 1 liter air untuk setiap hari pengaplikasian. Sehingga, informasi yang menyatakan jumlah takaran dosis yang sangat kecil / sedikit untuk setiap kali pengaplikasian POC itu, bisa dibilang ada benarnya juga.

Jadi, kunci utama yang sebenarnya harus diperhatikan adalah tingkat frekuensi peng-aplikasi-an berbanding jumlah takaran pupuk yang hendak di-aplikasi-kan. Keseimbangan dan kebenaran penerapan dari kedua hal tersebut, cenderung memberikan hasil terbaik bagi kondisi fisik tanaman seutuhnya. Baik dari segi pertumbuhan maupun daya tahan tanaman.

Dari beberapa eksperimen untuk mendapatkan takaran pupuk ideal, mulai dari takaran dosis terendah hingga tertinggi dengan frekuensi pengaplikasian yang sama, saya menemukan, bahwa semakin besar dosis yang diberikan bukan hanya membuat kemungkinan tanaman menjadi overdosis, tapi juga peredaran hama semakin tinggi. Demikian juga kebalikannya, semakin kecil takaran dosis yang diberikan, peredaran hama menjadi semakin rendah dan tanaman pun tumbuh dengan banyak kekurangan unsur hara.

Pernyataan itu, bukan mengartikan bahwa peredaran hama tanaman bisa diminimalisir dengan cara mengurangi jumlah frekuensi dan takaran pupuk yang harus diaplikasikan. Walaupun ada kebenaran dari tindakan meminimalisir peredaran hama dengan cara seperti itu, tidak sepenuhnya 100% pasti bisa terlaksana.

Penerapan teknik mengaplikasikan POC berdasarkan jumlah takaran dan frekuensi di atas, akan tetap mengundang hama tanaman. Namun, masih dalam taraf terkendali bisa menjadi pernyataan yang lebih mendekati kondisi sebenarnya.

Jika anda memilih jalan ter-aman untuk bisa terhindar lebih jauh dari hama tanaman adalah dengan cara menjaga ketersediaan unsur hara di media tanam, tanpa perlu meng-aplikasi-kan POC pada permukaan daun. Dengan cara tersebut, hama cenderung terfokus di bagian media tanam saja. Walau pertumbuhan tanaman relatif lambat, kemungkinan terjadi serangan hama daun jauh berkurang.

top

Waktu peng-aplikasi-an POC…

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengaplikasikan POC pada daun (foliar feeding). Selain rendahnya konsentrasi dosis pupuk, waktu pengaplikasian juga memengaruhi tingkat penyerapan daun terhadap pupuk. Dengan mengabaikan teori bahwa daun adalah bagian termudah dalam menyerap pupuk, aplikasi sebaiknya dilakukan saat sebelum matahari terbit atau setelah matahari terbenam dimana tingkat kelembaban (relatif humidity = RH) > 80%. Untuk mengetahui tingkat RH dengan tepat, kita memerlukan alat pengukur kelembaban yang dinamakan Hygrometer.

Bagi pelaku tanaman hias profesional, alat tersebut mutlak ada di kebun mereka. Bagaimana untuk yang sekedar iseng (non profesional / hobbies / amatir)? Mengetahui secara tepat berapa tingkat RH hanya dengan menebak adalah tidak mungkin. Namun, yang selama ini saya perhatikan, tingkat kelembaban akan naik saat terjadi pergantian suhu, yaitu sebelum matahari terbit (± pukul 5 – 6 pagi) dan setelah matahari terbenam menjelang tengah malam (± pukul 10 – 11 malam).

Saat sebelum pupuk diaplikasikan, ada baiknya didahului dengan penyiraman. Selain menaikkan tingkat RH, penyebaran pupuk akan lebih merata. Efek dari melakukan penyiraman itu, secara otomatis akan membuat dosis pupuk melemah, sehingga kemungkinan terjadi overdosis bisa diminimalisir. Saya menemukan pendapat yang sama dari cara ini di situs University of Arizona.

top

Membuat Pupuk Organik Cair (POC) sendiri…???

Di awal artikel Membuat Pupuk Organik Cair untuk Daun…, terdapat daftar bahan organik dan cara membuat POC (versi metode pribadi) di bagian akhir artikel. Itu adalah cara membuat POC yang termudah dan teraman. Apa maksudnya?

Tidak semua bahan organik aman untuk dijadikan POC. Selain kandungan mineral dan protein yang bervariasi (tergantung lokasi), pengaruh tingkat pH setelah POC diaplikasikan juga patut diperhatikan.

Menurut keterangan beberapa sumber di internet, unsur hara yang bersifat “mobile” (biasanya termasuk dalam kategori nutrisi makro) pada tanaman, memiliki kecenderungan untuk memengaruhi pertumbuhan bagian tanaman / daun baru. Sedangkan unsur hara yang bersifat “not mobile” (biasanya termasuk dalam kategori nutrisi mikro), cenderung untuk memengaruhi bagian tanaman / daun lama. Bahan organik, baik nabati dan hewani, memiliki kandungan nutrisi yang bervariasi. Kebanyakan, kandungan unsur hara yang dimiliki kedua jenis bahan tersebut bersifat mobile / nutrisi makro, terutama pada biota air.

Sebagaimana fungsi POC yang cenderung diterapkan hanya sebagai pelengkap nutrisi mikro, bukan sebagai pemenuhan kebutuhan nutrisi makro, menjadi penting untuk diketahui dengan jelas jenis bahan organik yang hendak dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan POC. Mengapa? Media tanam layak tanam adalah media tanam dengan kandungan (minimal N-P-K) nutrisi makro yang memadai. Seandainya POC dibuat dengan bahan dasar dengan kandungan nutrisi makro dan diaplikasikan pada tanaman ber-media tanam layak tanam, dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya overdosis nutrisi. Jadi, bahan organik dengan kandungan nutrisi makro tinggi, sebaiknya (atau lebih baik), tidak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan POC.

Nah… sekarang mari kita lihat lebih jauh garis besar karakter yang dimiliki oleh masing-masing bahan organik, baik biota air maupun tumbuhan pada umumnya.

Hampir semua bahan organik yang berasal dari biota air memiliki kemiripan kandungan mineral dan protein. Walaupun berbeda lokasi, kandungan utama mineral dan protein biota air umumnya tidak jauh berbeda, terkecuali lokasi / tempat mereka dibesarkan bercampur limbah bahan kimia. Tingkat pH produk akhir setelah diaplikasikanpun relatif normal.

Berbeda dengan bahan organik yang berasal dari tumbuhan / nabati. Selain kandungan mineral dan protein tergantung lokasi dimana bahan itu tumbuh, tingkat pH produk akhir setelah diaplikasikan juga berbeda. Misalnya, POC berbahan dasar daun teh, memiliki tingkat pH sangat rendah (± 4). Sedangkan untuk POC berbahan dasar kopi, tingkat pH-nya berada pada kisaran 5 s/d 6. Pengaplikasian POC berbahan organik dengan bawaan pH rendah mengakibatkan bilah daun lama menjadi kuning.

Bagaimana dengan komposisi NPK dari kedua bahan organik (nabati dan hewani) tersebut? Sampai dengan saat ini, saya belum menemukan cara atau metode yang dapat menentukan berapa komposisi NPK dari sebuah bahan organik.

Sampai sejauh ini, saya menemukan bahan organik dari biota air (khususnya air laut) memiliki kandungan unsur hara jauh lebih banyak dibanding yang terdapat pada bahan organik nabati. Baik unsur hara yang bersifat makro maupun mikro. Jadi, walau pun memiliki kandungan nutrisi makro yang tinggi, bahan organik biota air jauh lebih baik untuk dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan POC.

Lalu, bagaimana dengan kondisi tingginya kandungan nutrisi makro yang ada didalam bahan biota air tersebut? Apakah kandungan nutrisi makro pada POC yang dibuat dengan bahan biota air akan memberikan efek negatif saat diaplikasikan pada tanaman? Selama masih dalam takaran dan frekuensi pengaplikasian yang tidak berlebihan sebagaimana yang dinyatakan sebelumnya, sangat kecil kemungkinan efek negatif itu bisa terjadi. Selain itu, kebanyakan nutrisi makro memiliki sifat mudah larut dan habis tergerus air. Sehingga, bisa dikatakan, efek negatif yang ditimbulkan nyaris tidak ada.

Dari pengamatan saya, kandungan unsur hara bahan organik yang berasal dari biota air memiliki toleransi lebih baik untuk bisa diterima tanaman pada umumnya. Meskipun terdapat kandungan unsur hara bersifat makro yang cukup kuat di dalamnya (khususnya unsur N), unsur hara tersebut akan cenderung melemah saat pupuk diencerkan dan diaplikasikan. Bahkan, saya melihat kecenderungan, kondisi nutrisi makro yang sangat lemah itu memberikan kontribusi pertumbuhan tanaman yang lebih baik.

top

Kebenaran kandungan unsur hara pada tabel bahan organik

Jadi, sejauh mana kebenaran informasi kandungan unsur hara dalam satu / beberapa bahan organik yang terdapat pada artikel Membuat Pupuk Organik Cair untuk Daun…???

Saat pertama kali menemukan daftar tersebut, besar harapan saya untuk bisa membuat ramuan POC dengan kandungan unsur hara sesuai seperti dibutuhkan. Beberapa bahan organik yang ada di daftar tersebut, pernah saya coba untuk dijadikan acuan sebagai bahan dasar membuat POC. Parameter kelayakan produk akhir ditentukan berdasarkan efek terhadap tanaman dalam satu periode pengaplikasian. Eksperimen dua bahan nabati, teh atau kopi, menunjukkan hasil jauh dari harapan. Eksperimen dengan bahan biota air, seperti kepala ikan atau udang, menunjukkan hasil sangat memuaskan.

Eksperimen demi eksperimen atas bahan organik yang sama diulang hingga beberapa kali guna mendapatkan kepastian, hasilnya tetap sama. Kemudian saya melakukan penulusuran lebih jauh guna memperoleh detail informasi mengenai bahan nabati. Ternyata, selain menghasilkan perbedaan tingkat pH pada media tanam, bahan nabati juga memiliki kelebihan mineral dan protein dengan tingkat perbedaan yang relatif cukup tinggi. Jadi masing-masing bahan nabati memiliki kelebihan kandungan nutrisi yang unik.

Misalnya, bawang putih (garlic) memiliki kandungan unsur Mn (Manganese) cukup tinggi diantara bahan nabati lain pada umumnya. Perbedaan tinggi-rendah nya tingkat kandungan nutrisi ini akan memengaruhi keseimbangan komposisi kebutuhan nutrisi makro dan mikro pada tanaman yang diaplikasikan (artikel Nutrisi untuk Tanaman…). Menggabungkan beberapa bahan dasar nabati untuk memperoleh komposisi kandungan mineral dan protein yang seimbang bukan tidak mungkin dikerjakan, namun diperlukan alat bantu dan perlengkapan yang lebih memadai.

Beberapa situs, baik akademis maupun non-akademis (amatir), mem-publikasi-kan informasi mengenai daftar kandungan NPK dari beberapa bahan organik. Terdapat jenis bahan organik yang sama, dinyatakan memiliki kesamaan kandungan NPK. Namun, ada juga yang berbeda. Dan, parahnya, tidak satupun dari mereka (sepanjang sepengetahuan saya) pernah menyediakan informasi mengenai metode yang mendasari keberadaan angka-angka kandungan NPK tersebut. Mereka hanya menyertakan informasi kelayakan penerapan pemakaian bahan organik pada luas area lahan tertentu.

Sebenarnya, tidaklah salah jika mereka tidak menyediakan informasi mengenai metode yang mendasari keberadaan angka-angka kandungan NPK bahan organik tersebut. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kualitas suatu bahan organik sangat ditentukan oleh lokasi asalnya. Dengan kata lain informasi mengenai nilai kandungan NPK satu / beberapa bahan organik yang mereka publikasikan, lebih bersifat perkiraan secara umum. Baik untuk dijadikan acuan, namun jangan diandalkan keakuratannya.

Mungkin, ada cara atau metode lebih sederhana dalam pembuatan POC berbahan dasar nabati yang tidak / belum saya temukan, sehingga sampai saat ini penggunaan biota air sebagai bahan dasar pembuatan POC adalah cara termudah dan relatif aman.

top

Kebutuhan POC pada skala rumah tangga…

Berapa liter jumlah POC untuk memenuhi kebutuhan nutrisi seluruh tanaman di halaman rumah kita selama setahun? Jika tujuan membuat POC sendiri adalah memenuhi kebutuhan tanaman di halaman rumah, maka jumlah liter yang dibutuhkan tidak lebih dari ½ liter dalam setahun.

Reaksi tanaman terhadap POC baru benar-benar nampak setelah 1 bulan sejak pengaplikasian. Untuk sekali pengaplikasian POC pada area seluas 3 x 8 meter, saya hanya memerlukan 2 kubus es air rebusan udang yang dicampur dengan 4 liter air tawar dalam sebulan (4 minggu). Jika 1 kubus es dicairkan akan menjadi ±15 mililiter biang POC, jadi dalam setahun saya hanya memerlukan 15 x 2 x 12 = 360 milliter (< 500 mililiter) biang POC. Meskipun frekuensi pengaplikasian ditingkatkan menjadi 1 minggu sekali, maka total kebutuhan biang POC adalah : 15 x 8 x 12 = 1440 mililiter (< 2 liter) selama setahun. Jumlah yang sangat kecil dengan biaya yang sangat murah untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman melalui daun.

Kesulitan memperoleh informasi kandungan nutrisi bahan organik sebagai dasar membuat POC merupakan kendala tersendiri disamping mendapatkan informasi mengenai sifat pH bahan organik tersebut. Bahan organik terbaik untuk dijadikan biang POC, harus memiliki sifat pH netral. Cara termudah mengeluarkan kandungan nutrisi dalam bahan organik adalah dengan menggodoknya di atas api kecil (< 60° Celcius) selama ± 10 – 20 menit, dimana teknik api kecil dan lama waktu penggodokan itu pun tidak mutlak sebagaimana yang tertulis.

Jadi, seandainya anda memiliki bahan organik untuk dijadikan POC, hanya perlu mencari informasi kandungan nutrisi dan sifat pH dari bahan tersebut. Seandainya informasi itu tersedia dan kandungan nutrisi yang tertera sesuai dengan yang diinginkan, anda tinggal memasaknya untuk dijadikan biang POC. Setelah selesai dan menjadi dingin, masukkan ke dalam freezer.

Pada prakteknya, bagian tersulit adalah menilai efek produk akhir terhadap tanaman secara adil dan jujur. Dalam hal ini, perlu dipahami, bahwa satu / beberapa kegagalan produk / hasil akhir adalah hal yang wajar. Puluhan jenis bahan mentah organik pernah saya coba, hanya beberapa yang dapat dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan POC, diantaranya adalah bawang putih (garlic). Ketidaktahuan merupakan hal yang dimiliki oleh setiap orang, menjadi salah atau gagal adalah proses untuk mengikis / mengurangi ketidaktahuan itu sendiri.

top

Semoga bermanfaat!

4 thoughts on “Pupuk Organik Cair dan Tanaman

  1. Salmin arsad haipi

    Sy sdh mncb dgn bhn dsr organik nabati,,dari buah,d campur dgn air cucian ikn at udang dgn parutan bngt putih ,,,trxta sgt baik. Dri sgi produksi dn kwlts dn kwntitsnya beras .trm ks

    Balas
  2. Lailatul akbar

    Brp banyak pemberian pupuk berupa butiran2 kecil utk satu pot tanaman, dan pemberian pupuk apa hrs setiap hari ?
    Terimakasih…

    Balas
    1. Omar Ramlee Penulis Tulisan

      Hai Laila,

      Gali media tanam sekeliling tanaman sedalam 1 buku jari tangan. Taburi sepanjang galian tersebut dengan pupuk. Jangan terlalu banyak. Asal saja di sepanjang galian yang telah dibuat. Lalu tutup / kubur kembali seluruh galian yang telah di taburi pupuk tersebut.

      Untuk pupuk organik padat, umumnya diaplikasikan per 3 bulan sekali. Sedangkan untuk pupuk sintesis padat, anda bisa melihat instruksi cara pengaplikasiannya sebagaimana tertera pada kemasan pupuk (biasanya juga per 3 bulan sekali).

      Salam…

      Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s