Ventilasi dan Irigasi pada Pot

Hal penting yang sering kali kurang mendapat perhatian. Jika kita menggunakan pot sebagai wadah untuk menanam, teknik irigasi merupakan hal mutlak diperhatikan. Banyak kasus kegagalan terjadi karena buruknya fungsi irigasi. Ada yang menyebutkan bahwa kunci keberhasilan dalam memelihara tanaman, apakah menggunakan pot maupun tidak, adalah terpeliharanya keberadaan fungsi irigasi.

Apa yang menjadikan irigasi begitu penting pada kasus menanam dengan pot? Sebagaimana kita ketahui, pot merupakan tempat untuk menanam dengan berbagai keterbatasan. Hampir 99% kebutuhan tanaman dalam pot sangat bergantung dari perhatian dan keperdulian orang yang menanam. Mulai dari kebutuhan air, unsur hara, kesegaran media tanam dan lain sebagainya. Sulit bagi saya menjaga keseimbangan kebutuhan tersebut. Tidak ada parameter cara mengatasi keterbatasan itu agar kebutuhan tanaman dapat terpenuhi sebagaimana layaknya kondisi di luar pot, sehingga sering terjadi ketidaksesuaian dalam cara memenuhi kebutuhan tanaman itu sendiri.

top

Fermentasi residu pupuk….

Sistem irigasi yang buruk akan menjadikan kelebihan mineral dan protein (nutrisi), dimana seharusnya terbuang terbawa air, mengendap bersama genangan air. Saat kondisi suhu udara hangat, ada dua hal yang mungkin terjadi akibat pengendapan tersebut. Pertama, terjadi proses penguapan genangan air hingga mengering dan meninggalkan residu mineral berbentuk garam. Kedua, genangan air akan tetap tinggal sampai tindakan penyiraman dilakukan lagi. Jika kondisi yang terbentuk adalah kemungkinan kedua dan tindakan penyiraman baru dilakukan setelah melewati waktu > 24 jam, maka akan terjadi fermentasi.

Fermentasi, secara sederhana, dapat dikatakan sebagai satu proses “pelapukan” akibat jamur. Proses ini merupakan suatu hal alami. Salah satu efek akibat fermentasi adalah pembusukan bagian akar yang terendam dalam genangan. Efek lainnya adalah mengundang hama siput dan hewan bertubuh lunak lainnya. Siput, sangat menyukai kondisi bahan fermentasi karena itu merupakan salah satu makanan favorit mereka. Jadi, mengurangi dan membuang bahan-bahan yang mengalami fermentasi (mis. daun busuk) dapat mengurangi peredaran hama siput di sekitar tanaman. Padahal, disisi tanaman sendiri, fermentasi menghasilkan zat-zat yang dibutuhkan selama proses pertumbuhan. Dilema…

top

Fungsi dan efek penyiraman yang luput dari perhatian…

Air, walau sering dianggap sebagai penyebab terjadinya busuk akar jika diberikan terlalu berlebih, merupakan satu-satunya media yang dapat meminimalisir kelebihan maupun kekurangan unsur hara di media tanam. Sesering apapun frekuensi tanaman mendapatkan air, pada dasarnya, tidak akan membuat tanaman menjadi sengsara selama sistem irigasi tempat tumbuhnya dapat berfungsi dengan baik.

Bagaimana menghindari terjadinya fermentasi dalam pot?

Salah satunya dengan mengusahakan keberadaan ventilasi (jalur lalu-lintas udara) dan drainase (jalur lalu-lintas air) yang memadai pada pot. Jika tindakan penyiraman dilakukan setiap hari, akan mengganggu berjalannya proses fermentasi. Keberadaan drainase yang memadai akan mendukung sistem irigasi (pengairan) berjalan sebagaimana diharapkan. Genangan air yang bertahan di dasar pot akan terbuang dalam waktu < 24 jam akibat dorongan air baru dari tindak penyiraman.

Walaupun tekanan untuk mendorong keluar setelah penyiraman berkurang, air akan tetap mengalir keluar perlahan secara bertahap. Ventilasi merupakan faktor pelengkap kelancaran jalannya aliran air. Keberadaan ventilasi sebagai pendukung sistem aerasi (sirkulasi udara) dalam media tanam, turut menentukan efektifitas kerja sistem irigasi yang ada. Sistem aerasi dapat dikatakan sebagai satu kesatuan dengan sistem irigasi untuk menanam dalam pot. Keduanya mendukung fungsi kerja masing-masing bagian menjadi satu proses terciptanya kondisi aerasi dan irigasi yang baik.

top

Faktor penunjang Aerasi dan Irigasi…

Hal yang sering disebutkan sebagai pendukung agar proses tumbuh-kembang tanaman berlangsung dengan baik adalah jenis dan susunan media tanam di dalam pot. Banyak sumber dengan serius menyatakan betapa pentingnya jenis dan fungsi media tanam yang tersusun dalam pot. Teori mengenai penyusunan jenis media tanam dalam pot, sudah diinformasikan sejak saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saya lupa bagaimana persisnya, yang pasti dimulai dari jenis media berkarakter paling porous di bagian dasar (pecahan genting tanah liat) dan secara bertahap diikuti dengan beberapa jenis media tanam dengan tingkat porous semakin rapat hingga akhirnya ke permukaan (humus/kompos).

Rendaman Andam dan Daun Bambu

Sekarang, penerapan susunan jenis media tanam yang berbeda dalam satu pot, tidak pernah saya praktekkan lagi karena, bagi saya pribadi, tidak mudah dalam pelaksanaannya. Baik untuk memenuhi bahan-bahan yang diperlukan maupun tindakan perawatan ketika proses tumbuh-kembang tanaman sedang berlangsung.
Cara yang saya terapkan hingga saat ini adalah dengan terlebih dahulu mencampur beberapa jenis media tanam (biasanya dua jenis : andam & daun bambu), kemudian diaduk dengan air tawar dalam ember dan dibiarkan terendam selama beberapa jam, kemudian baru dipakai.

Tingkat kerapatan (porous) media tanam merupakan faktor utama berfungsinya sistem aerasi dan irigasi dalam pot. Tingkat kerapatan media tanam akan semakin tinggi setelah mengalami proses pelapukan akibat rutinitas tindakan penyiraman dan proses pengomposan. Keadaan ini dapat langsung dikenali dari berkurangnya (turun) volume media tanam dalam pot. Perlu dilakukan tindakan penggemburan dan penambahan media tanam baru hingga volume media tanam kembali seperti semula.

Faktor lain yang juga penting adalah keberadaan lubang drainase untuk kebutuhan irigasi sekaligus aerasi (secara tidak langsung). Logika letak lubang drainase pada pot paling ideal ada di pertemuan dinding dasar (horisontal) dan dinding samping (vertikal) pot dengan kecenderungan posisi berada di bagian horisontal. Walau pun pada prakteknya, fungsi lubang sangat dipengaruhi kondisi dan tingkat kepadatan media tanam di dalam pot (terjadi penyumbatan), letak lubang di bagian tersebut merupakan posisi terbaik untuk mengeluarkan air dari dalam pot secara maksimal.

Secara teori, ketika penyiraman dilakukan, volume air terbanyak yang masuk ke dalam pot terkonsentrasi di bagian tengah mulut pot atau di bagian pangkal tanaman. Saat air jatuh di permukaan daun, akan mengalir menuruni tangkai daun dan batang menuju pangkal tanaman. Sebagian besar langsung turun ke dasar pot melewati jalur akar dan menyebar ke segala arah bagian dasar pot, sehingga (genangan) air yang telah ada sebelumnya akan terdorong hingga keluar melalui lubang drainase. Untuk menghindari kemungkinan tersumbat, sebaiknya dibuat beberapa lubang drainase.

top

Keberadaan lubang aerasi dan drainase pot pada umumnya…

Keberadaan lubang ventilasi yang berfungsi untuk mengakomodasi aliran oksigen di dalam media tanam, sebenarnya telah terpenuhi oleh keberadaan lubang drainase di bagian dasar pot. Posisi lubang drainase sekaligus ventilasi di dasar pot sebenarnya sudah cukup sempurna. Permasalahannya, lubang ini akan tertutup oleh badan pot ketika pot berada pada posisi berdiri.

Model pot pada waktu-waktu sebelumnya, memiliki kaki di bagian dasarnya setinggi ± 1 cm. Fungsi kaki pot ini sangat besar manfaatnya untuk membentuk sistem aerasi media tanam di dalam pot berfungsi dan berjalan dengan semestinya. Entah apa yang menjadikan pot model sekarang tidak memiliki kaki lagi seperti model sebelumnya.

Untuk mengakomodasi kekurangan itu, tidak ada salahnya (bahkan lebih baik) membuat lubang ventilasi baru di bagian dinding vertikal (samping) pot. Berapa banyak lubang ventilasi dan drainase yang dibutuhkan pada sebuah pot? Semakin banyak, semakin baik.

Cara lain yang lebih mudah adalah dengan menambahkan kaki pada pot. Seandainya ini bisa dikerjakan, keberadaan lubang ventilasi di dinding pot dapat diminimalisir jumlahnya atau ditiadakan sama sekali keberadaannya. Tetapi, saya tidak mengerjakan cara itu karena pot dalam kondisi terisi media tanam dengan kandungan air cukup tinggi, ditambah berat fisik tanaman, tidak akan membuat kaki-kaki tambahan itu bertahan cukup lama. Faktor lain yang perlu diperhatikan menggunakan cara ini adalah ketebalan dinding dasar pot.

Silahkan anda menentukan sendiri pilihan cara terbaik dan termudah untuk diterapkan pada kondisi lingkungan yang ada. Tetapi, yang terpenting adalah posisi dan keberadaan lubang drainase di bagian pertemuan dinding horisontal dan vertikal sebagai jalan keluar air dari dalam pot.

top

Fungsi dan manfaat lain dari keberadaan lubang tambahan…

Lubang ventilasi di dinding vertikal pot, juga berfungsi sebagai lubang untuk membantu memperlancar jalur keluar air melalui lubang drainase yang terletak di bagian bawah pot. Saat air mengalir keluar melalui lubang drainase, secara bersamaan ikut menarik udara di luar masuk melalui lubang-lubang ventilasi dan mengisi ruang yang dilalui aliran air dengan udara.

Masuknya udara ke dalam media tanam akan bertahan selama tidak ada jalur untuk jalan keluar di atasnya, dimana (mungkin) terhambat oleh air yang belum sempat mengalir turun atau akibat tingginya konsentrasi tingkat kepadatan media tanam di bagian permukaan. Ini biasa terjadi pada jenis media tanam bersifat halus, seperti pasir atau kompos yang telah mati.

Kondisi ini membuat air di bagian bawah kembali tertarik oleh udara yang tertahan dan menyebabkan proses aliran keluar air melambat. Walaupun pada akhirnya air akan hilang diserap oleh media tanam, dibutuhkan waktu relatif cukup lama. Jika kepadatan media tanam merupakan faktor penyebabnya, perlu ada tindakan penggemburan agar kondisi tertahannya air dalam pot dapat keluar melalui lubang di bagian bawah pot dengan lebih baik dan lebih cepat. Ini merupakan salah satu alasan perlunya tindakan menggemburkan media tanam secara berkala dengan menggunakan bor media tanam.

top

Penggemburan media tanam vs lubang ventilasi…

Jika tindakan penggemburan tetap harus dilakukan, apa gunanya fungsi lubang ventilasi?

Ada atau tidaknya lubang ventilasi, jika media tanam disiram secara berkesinambungan ditambah pupuk yang diaplikasikan, akan tetap menjadikannya padat akibat pelapukan. Selain untuk mengubah sistem aerasi dalam media tanam akibat tidak adanya kaki pot, keberadaan lubang ventilasi di dinding vertikal pot, berefek memperlambat proses kepadatan akibat pelapukan dan mencegah kemungkinan terjadinya fermentasi.

Jika anda memperhatikan media tanam di bagian permukaan pot, kondisinya terlihat tidak jauh berbeda dengan saat pertama kali diletakkan. Hal berbeda terlihat pada media tanam yang terletak di bagian tengah dan bawah pot. Berwarna coklat kehitaman dan relatif lebih lapuk daripada yang di permukaan. Logikanya, media tanam di permukaan selalu berinteraksi langsung dengan udara bebas dibandingkan yang berada dibawahnya.

Seandainya media tanam di bagian tengah dan bawah memiliki keadaan dapat langsung berinteraksi dengan udara bebas, maka kondisinya akan mirip media tanam di bagian permukaan. Namun, tidak ada cara untuk membuat kondisi media tanam di bawah permukaan otomatis sama dengan di permukaaan. Keberadaan lubang ventilasi, setidaknya, dapat memperlambat terjadinya proses pelapukan media tanam yang berada di bagian tengah dan bawah pot.

top

Bentuk dan fungsi pot sesuai kebutuhan pasar…

Mengapa pot yang dibuat dan beredar dipasaran hingga saat ini tidak memiliki lubang drainase dan ventilasi sesuai dengan deskripsi saya? Kenyataannya, tujuan pot dibuat tidak untuk menggantikan fungsi keberadaan hamparan tanah di kebun. Dengan pot, kita dapat memindahkan tanaman untuk sementara waktu ke tempat dimana tidak memiliki kondisi ideal bagi tanaman untuk hidup. Jika kita hendak memindahkan satu tanaman dari kebun ke dalam rumah atau ke ruang pameran, cukup menaruh tanaman tersebut dalam pot baru kemudian dipindahkan ke tempat sesuai keinginan kita. Tidak perlu dengan ikut memindahkan kebunnya, bukan?

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan populasi manusia yang kian membengkak, menjadikan lahan terbuka untuk menanam semakin dipersempit. Fungsi pot mulai bergeser dari tujuan awalnya. Sekarang, banyak ditemukan pohon buah seperti mangga, lengkeng, jeruk dan lainnya, ditanam dalam wadah pot atau lebih dikenal dengan sebutan “tabulampot” (tanaman buah dalam pot). Selain mudah dipindah-pindah, ukuran pot dapat disesuaikan dengan luas ruang yang tersedia.

Modifikasi lubang ventilasi dan drainase pada pot, lebih bertujuan untuk mencoba mendekati kondisi media tanam seperti layaknya hamparan tanah di kebun. Memang benar, merupakan hal yang mustahil untuk mencoba meniru secara persis kondisi yang telah dibentuk oleh alam. Dalam kasus ini saya mencoba, paling tidak, mengusahakan untuk bisa mendekati kondisi tersebut agar diperoleh hasil yang maksimal.

Pernah say mencoba beberapa metode lain untuk mengeluarkan air dari dalam pot dalam waktu relatif singkat (< 24 jam), salah satunya dengan menyelipkan sepotong kain melalui lubang drainase yang telah ada (tanpa memodifikasi tambahan lubang aerasi dan drainase baru) . Cara ini cukup efektif pada awalnya, setelah beberapa lama kemudian potongan kain ditumbuhi lumut yang semakin lama semakin tebal.

Saat lumut mengering, pori-pori kain menjadi tertutup dan menghalangi kemampuan kain untuk meresap air dengan bebas. Ketidaknyamanan lainnya adalah pot harus diganjal agar potongan kain berada pada posisi menjuntai, agar air di dasar pot dapat mengalir lancar. Hal lain penting yang perlu diperhitungkan saat metode ini diaplikasikan adalah fungsi lubang di dasar pot sebagai drainase dan aerasi menjadi tertutup sehingga akhirnya mengembalikan masalah fermentasi di dalam pot terulang lagi.

top

Teknik Pot Gendong…

Istilah “Pot Gendong” ini sebutan dari teknik mengganjal pot yang saya terapkan di rumah. Sering kali pot berisi media tanam namun tidak terpakai karena tanaman di dalamnya sudah mati, digunakan untuk mengganjal pot lain yang masih aktif (ditanami). Tindakan ini dilakukan semata-mata karena rasa malas membereskan pot yang sudah tidak terpakai dan sekaligus menghemat ruang tempat menanam.

Ternyata, dari rasa malas tersebut, saya mendapatkan tanaman dalam pot yang diganjal mengalami proses tumbuh-kembang lebih baik dari sebelumnya. Saya tidak mengetahui penyebabnya. Kemudian, saya mencoba melakukan beberapa eksperimen untuk mendapatkan model “pot gendong” yang cukup layak diterapkan dan berguna dalam perawatan tanaman.

Berdasarkan hasil beberapa eksperimen saya mendapatkan bahwa teknik mengganjal pot merupakan salah satu alternatif cukup mudah dan efektif dalam menangani masalah pengaturan sistem aerasi dan irigasi pada pot. Media untuk mengganjal (pot sekunder) menggunakan pot berukuran 1 tingkat lebih kecil dari pot yang hendak diganjal (pot utama). Ada dua teknik yang dapat diterapkan, yaitu : posisi pot sekunder dibuat terbalik (menopang pot utama) atau menumpukkan pot utama di atas pot sekunder.

Efek yang dihasilkan kedua teknik ini nyaris tidak ada bedanya, menjadikan tingkat kelembaban mulai dari area tepat di bawah permukaan media tanam merata hingga ke dasar pot. teknik menumpuk pot menghasilkan efek kelembaban media tanam lebih merata dibandingkan teknik menopang. Namun, teknik menumpuk ini hanya saya terapkan pada pot berukuran kecil (=<30), sedangkan pot berukuran besar (>=35) digunakan teknik menopang. teknik menumpuk pada pot berkapasitas besar memiliki resiko pot utama tidak dapat dipisahkan dengan pot sekunder atau kemungkinan pot sekunder menjadi retak / pecah akibat tekanan berat beban pot utama.

Pot sekunder pada teknik menumpuk, sebaiknya dilengkapi dengan lubang ventilasi cukup di area dinding pot bagian bawah dan pot utama cukup dilengkapi dengan lubang drainase saja. Model / teknik menumpuk dapat diandalkan untuk menghasilkan proses tumbuh-kembang tanaman yang jauh lebih baik daripada model menopang. Saya sarankan, pot sekunder yang digunakan lebih baik dalam keadaan kosong. Selain lebih mudah dalam perawatannya, tidak akan terjadi kemungkinan lubang ventilasi tertutup akibat proses kepadatan media tanam.

Teknik menopang, walau pun memiliki hasil tidak sebaik teknik menumpuk, cukup efektif untuk menjadikan sistem aerasi dalam pot lebih baik daripada tanpa ditopang sama sekali. Perbedaan dengan tanpa penopang terletak dari tingkat kelembaban media tanam yang lebih kering pada area bagian bawah hingga dasar pot. Dibandingkan teknik menumpuk, dengan teknik ini tidak diperlukan lubang ventilasi tambahan pada pot sekunder. Namun, pada pot utama tetap diperlukan lubang ventilasi dan drainase yang memadai untuk mendapatkan sistem aerasi lebih baik akibat besarnya ukuran fisik pot.

Tujuan dari kedua teknik pot gendong ini adalah untuk menciptakan satu kondisi media tanam dengan kelembaban relatif lebih merata di dalam pot. Kedua teknik ini tidak dapat menggantikan keadaan porous dari media tanam sebagaimana diciptakan oleh bor media tanam. Sehingga, walau pun teknik pot gendong telah diterapkan, tidak serta-merta perawatan media tanam menjadi tidak diperlukan lagi. Tindakan penggemburan media tanam tetap diperlukan, sesuai dengan kondisi kepadatan media tanam akibat rutinitas penyiraman. Banyak kasus tanaman dalam kondisi stagnant (tidur) dapat aktif kembali dengan teknik ini setelah dilakukan tindakan penggemburan menggunakan bor media tanam.

Anda dapat mencoba salah satu atau kedua teknik tersebut sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan. Konpensasi dari menggunakan kedua teknik ini akan berakibat pada tindakan penyiraman yang lebih disiplin untuk dijalankan minimal satu kali sehari.

top

Membuat lubang Ventilasi dan Drainase…

Pot, sebagaimana yang kita banyak temukan saat ini, dibuat dengan berbahan dasar plastik. Menurut penjualnya, mayoritas pot plastik berwarna hitam dibuat dengan menggunakan bahan plastik daur ulang. Itulah alasan mengapa harganya relatif lebih murah daripada yang berwarna bukan hitam. Secara kualitas, tentu saja berbeda jauh. Menurut sepengetahuan saya, ada juga pot hitam berkualitas cukup bagus. Tergantung dari pabrikan yang memproduksinya juga.

Jika membeli pot baru, kita akan melihat lubang drainase dan ventilasi di bagian dasar pot. Besar dan jumlah lubang ini bervariasi, umumnya disesuaikan dengan ukuran pot. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, posisi ideal lubang drainase terletak di pertemuan dinding horisontal dengan dinding vertikal pot yang kecenderungannya berada di bagian horisontal. Diameter lingkaran dari ukuran lubang cukup sebesar 0,5 cm. Dibuat mengelilingi bagian dasar pinggir pot dengan jarak antar lubang ± 1 – 1,5 inci. Sementara untuk lubang ventilasi, diameter lingkaran lubang, idealnya, 1 – 1,3 cm. Dibuat mengelilingi dinding vertikal pot, mengikuti posisi letak lubang drainase. Jumlah lubang ventilasi yang diperlukan tergantung dari ukuran tinggi pot.

Ada beberapa cara untuk membuat lubang di dinding pot. Umumnya, beberapa penggemar tanaman hias menggunakan cara memanaskan paku di atas api yang kemudian ditusukkan ke dinding pot. Cara ini efektif dan tidak memakan banyak waktu. Saya menggunakan bor tangan (manual) untuk memperoleh hasil yang lebih rapi. Pengerjaannya jauh lebih lama dan sedikit rumit. Secara fungsi, saya tidak tahu sejauh mana perbedaan efek yang dihasilkan. Perbedaannya terlihat pada tingkat kerapian dari bentuk lubang hasil bor manual jauh lebih baik daripada menggunakan paku/besi yang dipanaskan.

Kerumitan dalam menggunakan bor manual adalah tingkat ketajaman ujung mata bor. Lubang akan terbentuk sempurna bila ujung mata bor terpelihara dengan baik ketajamannya. Kemampuan daya tahan ketajaman sangat ditentukan oleh kualitas dari bahan dasar mata bor. Tingkat ketajaman akan berkurang sesuai dengan frekuensi pemakaian. Jangan memaksakan untuk menggunakan mata bor dengan kondisi ketajamannya sudah kurang baik, karena dapat merusak pot (menjadi pecah) dan (lebih parah lagi) melukai penggunanya akibat memaksakan dengan menggunakan tenaga yang lebih besar.

Peralatan yang diperlukan untuk membuat lubang dengan menggunakan bor manual adalah :

  • 1 unit bor manual kecil
  • 1 unit mata bor ukuran 0,2
  • 1 unit mata bor ukuran 0,5
  • 1 unit bor manual besar
  • 1 unit mata bor ukuran 0,7
  • 1 unit mata bor ukuran 1,3

Bor Manual Besar dan Kecil

Saat hendak membuat lubang, hal yang harus dilakukan pertama kali adalah menentukan posisi lubang untuk ventilasi dan drainase dengan menggunakan bor manual kecil bermatakan 0,2. Langkah ini perlu dilakukan untuk menentukan posisi kedudukan awal ketika ukuran diameter lubang hendak diperbesar dengan menggunakan mata bor yang berukuran lebih besar. Setelah semua posisi lubang terpetakan, perbesar diameter ukuran lubang satu per satu dengan menggunakan mata bor yang lebih besar secara bertahap mulai dari mata berukuran 0,5 s/d 1.3. Pekerjaan ini harus dilakukan dengan sabar dan hati-hati, karena jika dipaksakan dapat menjadikan dinding pot pecah.

Lubang Ventilasi (Aerasi) dan Irigasi

Tampak atas pot

top

Jadi…

Banyak hal yang bisa diperoleh dengan mengusahakan tambahan lubang aerasi dan drainase pada dinding pot. Selain menjaga asupan oksigen dalam media tanam, juga turut memberikan kontribusi pada tingkat ke-stabil-an kondisi kelembaban media tanam.

Fungsi dan manfaat terbesar yang saya tuju dari modifikasi / penambahan lubang aerasi dan drainase pada pot adalah untuk menahan terjadinya proses pelapukan media tanam sedini mungkin. Jika kita bisa memperpanjang tenggang waktu saat sejak awal media tanam digunakan hingga menuju batas awal proses pelapukan dimulai, maka akan banyak faktor tindakan perawatan tanaman yang otomatis ikut berkurang frekuensi pengerjaannya. Kita bisa lebih mem-fokus-kan kelebihan waktu yang ada pada tindakan perawatan tanaman di sisi konsistensi menjaga kelembaban dan pengendalian peredaran hama tanaman di sekitar area kebun.

Keberadaan lubang aerasi dan drainase tersebut tidak akan menjadikan kita terhindar sepenuhnya dari tindakan perawatan media tanam. Kita tetap harus melakukan hal itu selama kita masih menghendaki proses tumbuh-kembang yang baik untuk tanaman di rumah. Hanya saja, frekuensi pengerjaannya bisa kita kurangi.

Ini semua adalah salah satu alternatif saya untuk mempermudah tindakan perawatan tanaman di rumah. Jika anda memilki cara yang lebih baik dan menyenangkan untuk dikerjakan, silahkan tetap pada pilihan yang anda kerjakan saat ini.

top

Semoga bermanfaat!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s