“Namanya, kembang Ang Siau.”

Begitu yang disampaikan almarhum nenek saya selang waktu 45 tahun silam tentang bunga yang menjadi gambar tajuk di atas.

Baru sekitar 7 tahun lalu, saya berhasil mendapatkan bibit cangkok-kan pohon itu dengan wangi bunga menyerupai rasa yang tertanam diingatan saya 45 tahun berselang. Hingga sekarang, bibit yang semula hanya 60 cm, telah tumbuh menjadi pohon seutuhnya setinggi 2 meteran di halaman rumah saya.

Pohon kembang Ang Siau atau lebih sering disebut dengan pohon Ang Siau, merupakan tanaman perdu. Sepengetahuan saya, pohon ini tidak pernah berbuah. Hanya berbunga saja. 

Perbanyakkan tanaman yang paling umum dan kebanyakan berhasil, dilakukan dengan cara mencangkok.

Pohon ini berbatang kayu dan berdaun rimbun warna hijau tua. Ukuran daunnya tidak besar, sekitar tinggi x lebar dua jari tangan orang dewasa. Untuk seukuran tanaman perdu, Ang Siau termasuk pohon yang apik. Tidak banyak membuat sampah daun kering di sekelilingnya.

Tidak dibutuhkan perawatan khusus dalam pemeliharaannya. Pohon akan terus berbunga tanpa berhenti begitu menemukan lingkungan tempat tumbuh yang disukai.

Secara manfaat, pohon kembang ini tidak memiliki keistimewaan apapun selain wangi bunganya yang tajam dan khas. Maksud dari wanginya yang khas, karena tidak ada bunga lain yang menyamai atau bahkan mirip sekali pun. Boleh dibilang itu yang menjadi simbol dari Ang Siau.

Fisik kuncup bunga tepat sebelum mekar tergolong kecil, kira-kira sebesar satu buku ibu jari orang dewasa. Dalam keadaan yang demikian, biasanya bunga dipetik. Karena, aroma wangi paling kuat keluar dari bunga adalah saat bunga dalam kondisi seperti itu.

Cukup dengan 2 – 3 kuncup bunga saja diletakan di ruang keluarga atau ruang tamu, wanginya bisa bertahan menyelimuti ruangan selama 24 jam.

Sekali kita mengenali aroma wangi bunganya, maka dimanapun dan di waktu kapanpun aroma wangi itu menyebar, akan selalu mem-fokus-kan ingatan kita kembali pada kembang Ang Siau.

Namun demikian, tidak semua bunga Ang Siau menebarkan aroma wangi, ada juga bunga yang tidak wangi. Tapi, jarang sekali terjadi kasus seperti itu. Kebetulan saya mendapatkan contohnya, seperti foto di bawah ini :

Beda dengan bunga yang tumbuh dan mekar sempurna terlihat dari kulit kelopak bunga yang berwarna coklat tua.

Salam… ☺

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s