Efek mematikan Pupuk dan Pestisida Sintetis?

Ladang-ladang Pembunuh

Di provinsi Sri Lanka Utara Tengah, di sebidang hamparan tanah subur disekitar sisa reruntuhan kuil Buddha, para petani telah menanam padi selama ribuan tahun. Sampai tahun 1960an, mereka mengandalkan lembu, bukan traktor, untuk membajak sawah mereka. Namun sejak metode mekanik dan kimiawi diperkenalkan, telah mengikis habis nilai kearifan lokal yang dimiliki dari teknik konvensional tersebut. Negara kepulauan yang dulu pernah mengklaim kepemilikan dari hampir 3.000 varietas padi ini, kemudian menanam dan memproduksi hanya beberapa varietas unggulan saja di areal persawahan yang secara rutin diguyur pestisida dan pupuk sintetis.

Akibatnya, hasil panen Sri Lanka meningkat 60 persen sejak 1979. Sayangnya, “kemajuan” tersebut diiringi dengan berkembangnya bencana kesehatan masyarakat setempat. Saat ini, penyakit ginjal misterius menimpa sekitar 400.000 orang di provinsi tersebut, yang mana mewakili sekitar sepertiga dari jumlah keseluruhan populasi penduduk. 

Ciri-ciri awal yang paling umum dari kelainan ginjal yang terjadi di dunia, biasanya, disertai dengan obesitas, diabetes, atau tekanan darah tinggi; dimana semua faktor tersebut sangat langka terjadi di pedesaan di Asia Tenggara. Para ahli epidemiologi yang kebingungan merujuk penyakit yang menyerang Sri Lanka ini sebagai “penyakit ginjal kronis dari etiologi yang tidak diketahui,” atau CKDu (chronic kidney disease of unknown etiology), yang menyebabkan siksaan perlahan menuju kematian. Penderita tidak dapat buang air kecil, sehingga anggota badan mereka membengkak akibat berubahnya cairan dalam tubuh menjadi racun, sehingga menyebabkan rasa sakit terus-menerus.

Untuk mengantisipasinya, pemerintah Sri Lanka telah memutuskan melarang pemakaian pestisida sintetis yang memiliki kandungan kimia berbahaya. Terdapat silang pendapat dari beberapa sumber ahli tentang alasan apakah pupuk dan / atau pestisida sintetis yang menjadi pemicunya. Namun demikian, belum ada informasi resmi dari pihak manapun yang menyatakan bukti secara keilmuan mengenai penyebab sebenarnya dari penyakit ginjal misterius tersebut.

Tiga paragraf pertama di atas, merupakan cuplikan dari terjemahan artikel “Killing Fields” dari situs Modern Farmer.

Silahkan kunjungi alamat ini : http://modernfarmer.com/2017/07/the-killing-fields/ dan anda bisa menerjemahkan sisa cerita yang disampaikan jika tertarik untuk mengetahui detail kelanjutan cerita seutuhnya.

Pertanyaannya : benarkah pemakaian pupuk dan pestisida sintetis secara berkesinambungan memberi kontribusi kerusakan yang sedemikian parah terhadap kehidupan lingkungan penggunanya?

Meski belum ada bukti ilmiah yang bisa menjadi rujukan, peristiwa bencana penyakit misterius yang menyerang ginjal tersebut merupakan sebuah kenyataan yang menarik untuk dicermati secara bijak. Hal seperti itu tidak banyak bermanfaat untuk diperdebatkan karena inti dari masalahnya masih belum terungkap secara jelas. Namun, jika memang demikian kenyataan yang terjadi, maka seberapa jauh langkah yang telah kita persiapkan untuk menghadapinya?

Pemahaman yang kurang tentang metode perawatan tanaman organik, memberi banyak celah peluang produk pupuk dan pestisida sintetis tetap memiliki peran untuk sama sekali tak tergantikan. Agak sulit meruntuhkan pandangan masyarakat pada umumnya atas superioritas yang selama ini disandang kedua bahan sintetis tersebut. Tanpa berusaha untuk mencoba mengenal lebih dekat, adalah tidak mungkin kita bisa memiliki pemahaman yang benar dari perbedaan antara organik dan sintetis.

Pengalaman menggunakan metode organik yang saya miliki juga bukan dari satu kesengajaan ataupun didasari pengetahuan yang jelas tentang dampak negatif dari pemakaian pupuk / pestisida sintetis. Kepentingan terbesarnya adalah cenderung dari sisi keekonomian. Bukan dikarenakan alasan mencemari lingkungan yang akan mencederai penggunanya.

Menanam tanaman anti hama sekaligus menjalani aktivitas berkebun, mengolah kacang kedelai sebagai pupuk media tanam dan memanfaatkan bumbu dapur sebagai POC; jauh lebih murah biayanya dibanding rutinitas membeli pupuk dan pestisida sintetis. Jika kemudian penerapan metode organik tersebut juga berdampak minimum terhadap kesehatan penggunanya, merupakan bonus menyenangkan tidak terduga diluar yang pernah saya harapkan.

Semoga bermanfaat! ☺

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s