Bawang Putih dan Hama Siput (Snails)

halaman 1 dari 3

Bawang putih (garlic) merupakan salah satu umbi tanaman yang “sangat” terkenal keberadaannya. Banyak cerita yang berkaitan mengenai bawang putih. Mulai dari cerita / film horor hingga pengobatan herbal.

Saya sendiri suka mengkonsumsi satu siung bawang putih saat kepala bagian belakang terasa sakit akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan berbahan jeroan (tensi? kolestrol?).

Pengalaman mengatasi hama siput…

Penggunaan bawang putih sebagai bahan dasar pestisida nabati sudah lama saya praktekkan, namun baru sekitar akhir 2011 mulai diperhatikan secara serius. Khususnya untuk menangani hama siput kecil pemakan daun.

Siput, menurut pengalaman saya, merupakan hama dengan kategori sulit diatasi gangguan dan ancamannya. Apakah semua jenis siput dikategorikan sebagai ancaman? Saya tidak tahu karena saat terjadi serangan, ada 3 jenis siput berkeliaran diantara pucuk tanaman hias di rumah saya.

Sebelumnya, saya menggunakan pestisida sintesis padat khusus mengatasi hama siput. Cukup efektif. Hama dapat dikendalikan, tapi kembali mewabah setelah efek guna pestisida melemah. Permasalahannya, pestisida ini tidak dapat diandalkan, baik dari sisi kualitas mau pun keberadaannya. Beberapa kali saya mendapatkan pestisida sejenis itu dengan kualitas tidak memuaskan.

Di internet, bebarapa situs merekomendasikan penggunaan “umpan” (mis. bir atau daun busuk) untuk memancing siput keluar dari persembunyiannya. Cukup mudah, tapi agak menjengkelkan karena pengerjaannya tidak sekali jalan.

Walaupun penggunaan bawang putih telah dilakukan sejak lama, saya tidak melihat efektivitas pengaruhnya terhadap siput bercangkang, apalagi siput telanjang. Dalam hal ini, ramuan pestisida berbahan bawang putih yang saya buat, “hanya” mampu berperan sebagai penolak (repellent) siput saja. Setelah 2 – 3 hari kemudian, siput kembali datang menyatroni.

Untuk bisa membuatnya mati, dibutuhkan ramuan dengan tingkat kepekatan bahan bawang putih cukup tinggi. Kondisi ramuan yang demikian cenderung berdampak ikut mematikan tanaman yang terserang hama.

Kemudian saya beralih menggunakan bahan dasar tembakau dimana hasilnya sangat memuaskan dalam membasmi siput telanjang (artikel : Tembakau dan Hama Siput Telanjang (Slugs)…). Pengertian membasmi disini adalah 99% melenyapkan keberadaan siput telanjang. Dalam jangka waktu 3 bulan, siput telanjang benar-benar lenyap beredar di lingkungan rumah saya.

Pada siput bercangkang, tembakau hanya mampu mengendalikan, tidak membasmi. Seberapa sering frekuensi pengaplikasian tembakau, tetap tidak dapat membasmi siput bercangkang sebagaimana halnya seperti siput telanjang. Lalu, saya mencoba beberapa bahan dasar organik lain sebagaimana yang disarankan beberapa situs di internet, seperti seperti ampas kopi, kulit (cangkang) telur dan kapur dolomit.

Bahan-bahan tersebut diaplikasikan secara terpisah dengan ramuan dengan cara disebarkan di permukaan media tanam. Sementara itu, pengaplikasian ramuan bawang putih tetap dilakukan setiap 2 – 3 hari sekali. Setelah beberapa kali diaplikasikan, saya tidak mendapatkan hasil yang memuaskan dari efek bahan-bahan tersebut.

Cara berikutnya yang dicoba adalah dengan mencampurkan bahan organik berbeda ke dalam ramuan bawang putih. Pencampuran bawang putih dengan lengkuas dan cengkeh (artikel : Membuat Pestisida Organik dengan Bawang Putih…), pada akhirnya mampu mengendalikan hingga 90% peredaran siput bercangkang.

Sayangnya, ramuan ini bersifat “racun kontak”, sehingga hanya berfungsi sebagai penolak (repellent) jika tidak terjadi kontak dengan hama. Namun, tindakan mengaplikasikan ramuan 1 minggu sekali, sangatlah efektif guna menjaga dan mencegah serangan hewan bertubuh lunak. Pada tingkat serangan cukup parah, pengaplikasiannya dilakukan setiap hari menjelang tengah malam. Frekuensi aplikasi dikurangi sedikit demi sedikit sesuai dengan kecenderungan perkembangan yang telah dicapai tanaman.

Iklan

8 pemikiran pada “Bawang Putih dan Hama Siput (Snails)

  1. Saya sempat geram dengan hama siput ini. Berbagai cara pernah saya coba tapi kurang memuaskan. Sampai akhirnya saya menemukan cara yg paling efektif tp relatif repot/mahal utk lahan yg terhitung luas, yaitu memagari lahan tanaman dengan WARING (jaring yang terbuat dari anyaman plastik). Semoga bermanfaat.

    1. Terima kasih telah mengunjungi “Kebun di Rumah”,

      Bisa dengan cara kedua-duanya. Saya cenderung menumbuk-nya untuk menghindari kemungkinan berkurangnya kualitas bahan akibat proses blending. Lebih baik anda mencoba kedua cara dalam kuantitas sedikit terlebih dulu untuk mendapat perbandingan mana hasil terbaik dengan efek negatif paling minimal terhadap tanaman di rumah.

      Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s