Kacang Kedelai sebagai Pupuk

Kacang kedelai dijadikan pupuk? Walau saya baru mengetahui pada pertengahan tahun 2011, menurut keterangan di Wikipedia, informasi mengenai kedelai dapat berfungsi sebagai pupuk sudah ada sejak PD II (1942).

Media tanam, merupakan tempat utama untuk tanaman tumbuh. Kebutuhan pengadaan jenis media tanam yang dapat disesuaikan dengan jenis tanaman, bagi negeri seperti Indonesia adalah mudah… atau bahkan teramat mudah. Dataran kepulauan tropis yang disertai dua musim, panas dan hujan, menjadikan Indonesia sebagai tempat ideal bagi mayoritas tanaman di seluruh dunia untuk dapat tumbuh di atas permukaan tanahnya. Mengagumkan…

Berawal dari rasa malas mengerjakan rutinitas penggantian media tanam dalam pot secara berkala, dimana disisi lain adalah satu keharusan guna menjaga ketersediaan unsur hara pada media tanam agar pertumbuhan dan kesehatan tanaman tetap terjaga dengan baik. Salah satu tindakan terbaik adalah dengan mengganti media tanam lama dengan yang baru dan dicampur sedikit kompos (demikian informasi yang saya dapatkan di awal menekuni bidang ini).

Banyak media cetak dan elektronik menyarankan menggunakan metode penggantian media tanam. Memang benar, menerapkan metode tersebut ditambah sedikit kompos untuk memenuhi ketersediaan unsur hara adalah cara terbaik dan teraman. Jika prosedur kerja ini dilakukan secara berkala, akan terasa amat-sangat membosankan. Ditambah peralatan dan perlengkapan berkebun, menjadikan tuntutan kebutuhan ruang cukup luas mutlak diperlukan. Hal yang tidak dapat dihindari dari pekerjaan ini adalah media tanam lama akan menjadi sampah dan dibuang karena sudah habis kandungan nutrisinya. Terasa sia-sia.

Proses daur ulang (recycling) merupakan cara paling masuk akal agar mikro organisme pada media tanam yang sudah mati kembali aktif (artikel Mendaur Ulang Media Tanam…). Namun, proses ini memerlukan waktu relatif cukup lama (± 1 – 2 bulan) sampai keadaan media tanam dapat digunakan kembali setelah pengomposan. Hal ini menyebabkan perlunya ruang ekstra selama proses pengomposan berlangsung.

Dapatkah proses pengomposan dilakukan langsung di tempat tanaman sedang tumbuh? Meletakkan tanaman berbarengan dengan proses pengomposan akan menjadikannya mati dan membusuk. Beberapa jenis tanaman dapat bertahan, namun mayoritas tidak.

Namun demikian, pemikiran untuk menjadikan sebuah proses pengomposan bisa dilakukan langsung di tempat tanaman sedang tumbuh, merupakan sebuah titik awal untuk saya mencari lebih jauh : adakah bahan yang dapat dijadikan sebagai pemicu proses pengomposan tanpa dengan efek negatif yang rendah terhadap tanaman secara umum?

top

Kacang kedelai sebagai bahan pembuat kompos…

Wikipedia, merupakan satu-satunya situs yang menjadi sumber informasi terbesar bagi saya untuk mendapatkan referensi informasi terkait yang dibutuhkan. Kumpulan informasi dari beberapa situs yang di-referensi-kan menghasilkan satu rangkuman yang menyatakan bahwa kacang kedelai adalah salah satu bahan teraman yang dapat digunakan agar proses pengomposan bisa dilakukan langsung di tempat tanaman sedang tumbuh.

Garis besar rangkuman informasi yang saya dapatkan, menyatakan bahwa kacang kedelai mampu melakukan proses pengomposan dengan sedikit efek negatif terhadap tanaman dewasa, namun sama sekali tidak dapat diterapkan untuk tanaman bibit.

Kacang kedelai selain dapat melakukan proses pengomposan, juga memiliki kandungan mineral dan protein setara dengan daging dan susu. Kandungan nutrisi untuk tanaman (NPK) yang terdapat pada kedelai adalah 7-2-1. Komposisi seperti ini, dapat dikatakan mendekati ideal untuk memenuhi kebutuhan unsur hara pada media tanam. Unsur N memiliki karakter sangat mudah habis (lebih mudah daripada unsur K), menjadikan keperluan pemenuhan kebutuhan unsur tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan unsur hara lainnya.

Kelebihan kedelai lainnya adalah memiliki daya tarik bagi mikro organisme penghasil unsur N untuk datang disekitarnya. Keberadaaan unsur P yang tidak mudah habis tercuci air dan unsur K yang relatif lebih lama habis daripada unsur N, membuat pemenuhan kelayakan unsur hara pada media tanam menggunakan kedelai menjadi relatif lebih seimbang dalam jangka waktu periode tertentu, karena terbantu dengan keberadaan mikro organisme penghasil unsur N. Tingkat pH media tanam (saya telah mengukurnya secara acak) selama dan setelah periode pengaplikasian relatif netral, yaitu dikisaran >= 6,5 s/d < 7.

Jadi, secara teori, kacang kedelai dapat dijadikan sebagai satu paket produk pupuk media tanam yang cukup lengkap dan ideal guna memenuhi kebutuhan proses tumbuh-kembang tanaman.

top

Memulai eksperimen…

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara mengaplikasikan kacang kedelai agar dapat berfungsi sebagai bahan pemicu proses pengomposan sekaligus pelengkap nutrisi bagi tanaman yang sedang tumbuh melalui media tanam?

Jika kita meletakkan atau mengubur kacang kedelai begitu saja pada media tanam, maka kemungkinan terbesar yang terjadi adalah kacang tersebut akan berkecambah. Jadi, perlu dilakukan satu tindakan agar proses “berkecambah” itu dapat dihentikan, dimana dalam kasus ini, saya mengatasinya dengan cara menumbuk / menggiling kacang hingga berbentuk bubuk kasar.

Bubuk kasar kacang kedelai ini saya aplikasikan dalam dua kondisi. Pertama pada permukaan media tanam. Kedua, dikubur sekitar 3 s/d 5 cm di bawah permukaan media tanam. Hasil terbaik secara keseluruhan terlihat pada cara pengaplikasian kedua, yaitu dengan menguburnya.

Melihat efek yang dihasilkan terhadap proses tumbuh kembang tanaman setelah 3 bulan sejak pertama kali diaplikasikan, menurut saya, bubuk kacang kedelai bisa dijadikan sebagai alternatif pengganti pupuk organik padat sintesis. Satu hal yang bagi saya sangat menyenangkan dari penggunaan bubuk kacang kedelai ini adalah saya tidak perlu memikirkan komposisi nutrisi yang harus diaplikasikan untuk tanaman. Semuanya telah menjadi satu paket lengkap. Saya hanya perlu menjaga konsistensi perawatan tanaman setiap harinya selama satu bulan pertama semenjak diaplikasikan.

Kenyamanan lainnya adalah kedelai tidak mengeluarkan bau yang mengganggu, baik saat proses penumbukkan / penggilingan maupun saat pengaplikasiannya. Selain itu, walaupun sudah dalam kondisi bubuk / tepung, kedelai masih memiliki daya simpan relatif cukup lama. Terlebih lagi jika di simpan dalam wadah kedap udara.

Untuk pengaplikasian secara umum (semua jenis tanaman), saya sarankan tidak memberikan bubuk kacang kedelai dalam jumlah banyak, cukup 1 sendok teh per 6 bulan sekali. Tidak semua jenis tanaman dapat beradaptasi dengan jumlah nutrisi yang berlebihan dalam jangka waktu dekat (2 – 3 bulan sekali). Perawatan tanaman secara menyeluruh, terutama perawatan media tanam, akan lebih menjanjikan hasil kondisi tanaman yang lebih baik daripada hanya sekedar mengandalkan pupuk dan pestisida belaka.

Kedelai Giling / Tumbuk

top

Alternatif pengganti Kedelai…

Beberapa jenis biji-bijian selain kedelai, seperti jagung dan kopi (ampas), dapat juga digunakan sebagai pupuk media tanam. Beberapa informasi menyatakan kedua bahan tersebut memiliki efek yang mirip (atau bahkan lebih baik) dengan kedelai. Komposisi NPK pada jagung adalah 9-0-0, dimana lebih dianjurkan pengaplikasiannya dilakukan 3 – 4 bulan sebelum media tanam digunakan untuk menanam. Hal ini disebabkan karena kandungan unsur N yang sangat tinggi dapat  membuat tanaman menjadi hangus jika langsung diaplikasikan. Saya belum pernah mencobanya dan tidak berniat untuk melakukannya, karena waktu dan efek yang ditimbulkan tidak sedikit.

Eksperimen menggunakan ampas kopi menunjukkan hasil lebih baik dari kedelai. Namun, ampas kopi meninggalkan residu asam pada tanah yang cukup tinggi. Hal ini menyebabkan pH tanah turun secara drastis dari posisi normal. Tingginya tingkat keasaman tanah dapat menyebabkan kematian pada beberapa jenis tanaman (artikel Kopi sebagai Pupuk).

Sebenarnya. dari semua bahan organik yang dijadikan eksperimen, hasil terbaik untuk pupuk media tanam adalah dengan menggunakan bahan organik dari biota air (ikan, udang, rumput laut dsb). Hasilnya jauh lebih baik, lebih cepat dan minim efek samping dibandingkan kedelai. Kendala dalam menggunakan bahan dasar biota air adalah tidak dapat disimpan lama. Setidaknya, diperlukan lemari pendingin / freezer untuk menjaga agar bahan tidak berbau busuk. Hal ini sama sekali tidak berlaku pada kedelai. Walaupun juga memiliki waktu kadaluwarsa, prosesnya tidak secepat biota air sehingga kekhawatiran akan terbuang sia-sia karena lama tidak terpakai dapat diminimalisir.

Seandainya berkelimpahan dalam sisa biota air; seperti kulit udang, kepala udang, kepala ikan, kulit kepiting dsb, baik dalam kondisi mentah atau sisa masakan, anda dapat memberdayakannya sebagai pupuk media tanam dengan cara langsung menguburnya ke dalam media tanam tanpa harus melalui proses apapun. Jika hendak dibagi untuk beberapa pot, dapat diblender dahulu dengan air, baru kemudian dibagi rata. Proses blender (dihaluskan), menghasilkan efek bahan menjadi jauh lebih kuat dibandingkan tanpa di blender, sehingga takaran pengaplikasiannya diusahakan sesedikit mungkin agar tidak berefek negatif terhadap tanaman. Frekuensi pengaplikasian, sebaiknya jangan terlalu sering. Beri tenggang waktu minimal 2 – 3 bulan sekali (lebih aman setiap 6 bulan sekali). Hal yang tidak saya ketahui dalam pengaplikasian biota air pada media tanam adalah terjadi atau tidaknya proses pengomposan sebagaimana layaknya kedelai. Saya tidak pernah mencobanya dalam periode lebih dari 3 bulan, karena kendala dalam penyediaan tempat penyimpanan bahan biota air.

Pengaplikasian kedelai sebagai pupuk media tanam, sebagaimana disebutkan sebelumnya, akan menyebabkan proses pengomposan ringan pada media tanam. Berarti, pasti akan menyusutkan massa media tanam dalam pot. Jika, kita menggunakan media tanam jenis pakis, kedelai akan menjadikannya lapuk, sehingga mudah dipatahkan. Waktu yang diperlukan untuk pengomposan, ± 1 bulan lamanya. Kemudian terjadi penyusutan media tanam secara perlahan ± 2 – 3 bulan setelah pengaplikasian. Umumnya media tanam susut hingga ¼ s/d ½ bagian pot dan proses penyusutan ini tidak terlihat secara kasat mata, kecuali bagian permukaan media kita tekan atau mengaduknya.

Saat mengisi ulang media baru, dapat diikuti dengan menyertakan kedelai didalamnya. Boleh juga tidak, karena saat itu, kondisi media tanam lama telah dipenuhi oleh mikro organisme penghasil unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Tetapi, harus diperhatikan, saat pengisian yang ketiga (6 bulan sejak pengaplikasian pertama), kedelai sebaiknya kembali disertakan.

Mengaplikasikan bahan organik sebagai pupuk, sepanjang pengetahuan saya, disamping menyediakan tambahan unsur hara baru juga untuk mengaktifkan kehidupan mikro organisme penghasil unsur hara dalam media tanam. Dengan kata lain, menggunakan pupuk organik sama saja dengan memelihara keberadaan mikro organisme yang hidup dalam media tanam.

top

Menghaluskan kacang kedelai…

Ada dua cara menjadikan kacang kedelai kering ke dalam bentuk bubuk pasir (bukan tepung). Menggunakan batu lumpang (untuk menghaluskan bumbu) dan penggiling biji-bijian manual. Diperlukan sedikit kawat nyamuk guna menyaring dan memisahkan antara kacang kedelai halus dengan kasar secara bertahap selama proses penghancuran. Baik menggunakan batu lumpang maupun penggiling manual, sebaiknya penghancuran dikerjakan sedikit demi sedikit (max. 1 sendok makan) agar lebih mudah. Jangan diberi air untuk melunakkan kacang kedelai, supaya hasilnya dapat disimpan dalam waktu lama. Lapisan kulit kacang kedelai boleh dihaluskan, boleh tidak. Tingkat kehalusan yang dibutuhkan hanya sebatas butiran pasir, tidak perlu sampai menjadi tepung sehingga setelah diaplikasikan tidak mudah terbuang bersama air saat melakukan rutinitas tindakan penyiraman.

Dapat juga penghancuran dilakukan menggunakan mesin penghalus bumbu atau penggiling biji kopi untuk skala rumah tangga. Saya tidak memiliki mesin tersebut dan belum pernah mencobanya. Biasanya, menghancurkan bahan / bumbu dapur kering tidak akan mengurangi kandungan nutrisi dan aroma dalam bahan. Jadi, saya rasa, tidak ada masalah bila hendak menggunakan cara itu.

Namun, saya sarankan, jika hendak menghancurkan dalam jumlah banyak (> 0,5 kg), gunakan mesin khusus menggiling biji kopi. Kekuatan dan kualitas dari mesin serta pisau penghancurnya jauh lebih baik dibandingkan penghalus bumbu dapur biasa. Disamping itu, mesin penggiling biji kopi biasanya dilengkapi fasilitas kemampuan menghancurkan hingga tiga tingkatan. Kasar, butiran pasir dan tepung / bubuk.

Tingkat kehalusan kacang kedelai akan berdampak pada kecepatan waktu disertai tinggi-rendahnya kuantitas kandungan nutrisi dalam media tanam. Semakin halus, semakin mudah terurai menjadikan kuantitas kandungan nutrisi media tanam akan naik dengan cepat. Hal ini harus diperhitungkan agar konsentrasi nutrisi dalam media tanam tetap seimbang / sesuai dengan daya serap akar tanaman, sehingga mencegah terjadinya overdosis pupuk pada tanaman.

top

Kacang kedelai vs kotoran ternak…

Mengapa tidak menggunakan pupuk kotoran ternak saja (mis. kotoran sapi, kelinci, kambing dsb)?

Bisa saja, namun tidak semua orang bersedia mengaplikasikannya sendiri. Mereka lebih cenderung menggunakan pupuk sintesis, karena terlihat lebih mudah dan bersih. Disamping itu, kualitas kotoran ternak sangat bergantung dari makanan yang dikonsumsi oleh si ternak itu sendiri. Kualitas nutrisi pakan ternak berbeda dengan nutrisi rumput. Kualitas nutrisi rumput itu sendiri pun bisa berbeda-beda. Tergantung daerah dan kualitas tanah tempat tumbuhnya.

Hal ini akan berefek sama terhadap mikro organisme pengurai kotoran tersebut dalam media tanam. Jadi, sulit untuk memastikan apakah nutrisi pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak memiliki standar kelayakan unsur hara sebagaimana yang diperlukan media tanam dalam memenuhi kebutuhan proses tumbuh-kembang tanaman.

Saya pribadi tidak mau berspekulasi dengan ketidakpastian kualitas nutrisi pada pupuk kotoran ternak yang banyak dijual dipasaran sebagai pupuk untuk konsumsi koleksi tanaman di rumah. Walaupun harga kacang kedelai jauh lebih mahal, saya cenderung untuk tetap menggunakannya sebagai pupuk karena lebih memiliki kepastian kandungan nutrisi.

top

Jadi…

Sebenarnya, eksperimen penggunaan bubuk kacang kedelai ini lebih ditujukan untuk mencari satu alternatif yang bisa dijadikan ukuran standar dalam mengaplikasikan nutrisi untuk tanaman secara mudah di segala kondisi. Dibutuhkan beberapa faktor pendukung untuk menjadikan satu hal bisa diberlakukan secara umum. Salah satunya adalah faktor kemudahan untuk memperolehnya. Itu adalah faktor terpenting untuk tetap bisa menjaga sebuah proses yang berkesinambungan.

Dengan menggunakan bubuk kacang kedelai sebagai alternatif pupuk tanaman, saya berharap, siapa pun dapat melakukan tindak perawatan tanaman tanpa perlu kekhawatiran akan ketersediaan pupuk sintesis atau bahan lainnya untuk bisa dijadikan sumber nutrisi tanaman di rumah. Selama pasar (baik tradisional maupun modern) dapat ditemukan, maka kita bisa mendapatkan kacang kedelai. Dengan begitu, kita dapat meminimalisir kemungkinan kekurangan nutrisi untuk tanaman yang dipelihara dimana pun kita melakukan tindak perawatan tanaman.

top

Semoga bermanfaat!

17 thoughts on “Kacang Kedelai sebagai Pupuk

  1. Magdalena Kartika

    Saya lagi buat kompas dari kacang kedelai di campur dengan tanah ,udah hampir 2 bulan.Tapi kenapa di dalam pengompasan saya terdapat banyak ulat kecil Dan selalu basah.Saya Ada tutup plastik.

    Balas
    1. Omar Ramlee Penulis Tulisan

      Hai Magda,

      Membuat kompos memang seperti itu kondisinya, tetapi saya kurang mengerti penyebab kompos yang anda buat tidak mengering (seharusnya lembab / tidak berair). Mungkin ada langkah yang terlewatkan selama proses pembuatannya.

      Sebenarnya, anda tidak perlu membuat kompos jika memiliki “kacang kedelai tumbuk”. Cukup membuat parit seukuran ibu jari pada permukaan media tanam mengelilingi tanaman. Taburkan kacang kedelai tumbuk secara merata di dalam parit. Lalu parit kembali di tutup. Maksimal bubuk kacang kedelai yang dibutuhkan untuk pot berukuran 35 – 40 adalah 1 sendok teh (boleh kurang, tetapi jangan lebih). Tindakan tersebut dapat mempertahankan tanaman tanpa pupuk hingga 6 bulan. Anda cukup menyiramkan air secukupnya setiap hari agar kelembaban media tanam tetap terjaga.

      Salam…

      Balas
    1. Omar Ramlee Penulis Tulisan

      Sebatas kapasitas area kebun di halaman rumah pada umumnya, bisa. Namun, seberapa besar tingkat efektifitas dalam memengaruhi tumbuh-kembang tanaman inti agak sulit diprediksi. Karena tindakan tersebut juga akan menyuburkan tanaman-tanaman lain (gulma) yang bisa mengganggu dan tumbuh di sekitar tanaman inti.

      Salam…

      Balas
  2. joanexlibris

    Saya harus membuat percobaan biologi,saya tertarik untuk menggunakan kulit kacang kedelai sebagai pupuk untuk tanaman kacang kedelai itu sendiri.Berdasarkan artikel di atas,bahan yang digunakan adalah kacang kedelai utuh yang ditumbuk,nah saya ingin tau apakah kulit kedelainya saja juga bisa digunakan sebagai pupuk?
    p.s:Harga kedelai relatif mahal sementara maksud saya adalah agar para petani kcg kedelai bisa memanfaatkan ‘ampas’ kulit kedelai mereka
    Terima kasih banyak

    Balas
    1. Omar Ramlee Penulis Tulisan

      Hai Joana,

      Terima kasih atas apresiasi anda untuk blog ini.

      Ide anda untuk mendapatkan pupuk murah dengan menggunakan bahan dari produk tanaman kedelai memang menarik di “explore” lebih jauh. Percobaan yang saya kerjakan tidak mencapai hingga titik yang anda tanyakan. Saya rasa, kandungan nutrisi yang terdapat pada kulit kacang kedelai berbeda dengan biji-nya. Jadi, walau pun bisa digunakan, hasil yang diperoleh memiliki kecenderungan berbeda dengan menggunakan biji kacang kedelai.

      Saya ada ide yang “mungkin” bisa dijadikan alternatif lebih pasti dari “ampas” kulit kedelai, yaitu limbah produk pembuatan makanan yang menggunakan kedelai sebagai bahan baku-nya untuk dijadikan pupuk. Seperti ampas susu kacang kedelai atau air limbah produk makanan tahu (en. = tofu). Tetapi, sejauh mana efektifitasnya, mohon maaf, saya juga tidak tahu.

      Dalam logika saya, walau pun sudah dalam bentuk limbah, kandungan nutrisi yang dimiliki masih sama dengan kondisi aslinya. Hanya kuantitas-nya saja yang berkurang. Jadi, yang perlu dipelajari dan diketahui hanya frekuensi dalam mengaplikasikannya pada tanaman saja.

      Salam…

      Balas
  3. Fitria

    Di atas tertulis : ” Garis besar rangkuman informasi yang saya dapatkan, menyatakan bahwa kacang kedelai mampu melakukan proses pengomposan dengan sedikit efek negatif terhadap tanaman dewasa, namun sama sekali tidak dapat diterapkan untuk tanaman bibit. ”

    Berarti pupuk kacang kedelai ini hanya bisa di terapkan pada tanaman yg sudah terlebih dahulu tumbuh? Dan jika kita baru menanam bibit gabisa langsung di kasih pupuk kedelai itu? Atau bagaimana, mohon di jelaskan. Terima Kasih

    Balas
    1. Omar Ramlee Penulis Tulisan

      Hai Fitria,

      Benar seperti itu maksud dari kalimat tersebut, sama dengan pemahaman yang anda sampaikan. Seandainya anda menggunakannya pada media tanam yang hendak / telah disemaikan tanaman bibit, hasilnya cenderung mematikan tanaman bibit tersebut. Ini akibat tingginya kandungan mineral & protein yang dimiliki kacang kedelai.

      Minimal umur tanaman yang pernah saya coba dan aman untuk menggunakan pupuk kacang kedelai adalah 6 bulan. Di bawah itu, lebih baik menggunakan kompos. Walaupun “agak” lambat pertumbuhannya, tanaman relatif aman dari kemungkinan overdosis pupuk.

      Salam.

      Balas
  4. Fitria

    Terima kasih atas jawabannya🙂
    Tapi boleh tidak saya tahu dimana saya bisa mendapatkan informasi lebih lanjut yang menyatakan bahwa proses pengomposan kedelai bisa dilakukan secara langsung pada tanaman?
    pertanyaan saya ini tidak lain untuk menyelesaikan tugas sekolah saya, terima kasih sekali lagi jika anda mau menjawab pertanyaan ini.

    Balas
    1. Omar Ramlee Penulis Tulisan

      Hai Fitria,

      Mohon maaf, saat ini saya belum bisa membantu pertanyaan anda.

      Sumber awal informasi mengenai “soy bean”, seluruhnya saya peroleh dari Wikipedia. Termasuk, ditambah dari alamat / link yang direferensikan di dalam artikel. Saya tidak mencatat alamat / link yang menyatakan hal sebagaimana anda tanyakan, karena niat awalnya hanya sekedar “ingin tahu” saja.

      Seingat saya pernyataan tersebut ada dalam sebuah artikel tentang pemakaian pakan ternak untuk pupuk tanaman. Disitu disebutkan perbandingan hasil paling ideal untuk dijadikan pupuk, diantaranya menceritakan penggunaan pakan yang mengandung campuran jagung dibandingkan dengan penggunaan pakan yang mengandung campuran kedelai.

      Dan, rasanya, masih berkaitan erat dengan pembahasan pupuk berbahan organik dan non-organik juga. Karena, pada selang waktu yang sama, saya baru mengetahui bahwa kedelai impor merupakan produk genetically modified organism (GMO).

      Hanya informasi itulah yang masih tersisa di ingatan saya. Semoga bisa membantu mengarahkan anda. ☺

      Salam…

      Balas
  5. Didik

    Salam…Bang Omar…saya pernah terbaca artikel tentang kandungan nutrisi dalam daun kelor yang luar biasa, dapatkah daun kelor digunakan sebagai pupuk alternatif , terima kasih.

    Balas
  6. kosim

    Salam kenal admin kebundirumah

    Saya sedang mulai memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami, informasi pupuk delelai ini sangat bermanfaat🙂
    saya sempat baca di blog lain pupuk organik dengan daun bambu, di salah satu pertanian di jawa tengah menggunakannya dan hasil bibit cepat tumbuh tinggi. Apakah admin kebundirumah pernah menggunakan juga daun bambu, klo pernah tolong dibuat artikel hasil pengaplikasian daun bambu sebagai pupuk🙂

    Terimakasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s