Kacang Kedelai sebagai Pupuk

halaman 2 dari 3

Memulai eksperimen…

Pertanyaan terpenting adalah bagaimana cara mengaplikasikannya?

Jika kita meletakkan atau mengubur kacang kedelai begitu saja dalam media tanam, maka yang akan terjadi selanjutnya adalah kacang tersebut akan berkecambah dan menjadi tanaman kedelai. Jadi, perlu dilakukan satu tindakan agar proses “berkecambah” itu dapat dihentikan, dimana dalam kasus ini, saya mengatasinya dengan cara menumbuk / menggiling kacang hingga berbentuk bubuk kasar.

Bubuk kasar kacang kedelai ini saya aplikasikan dalam dua kondisi :

  1. Meletakkan begitu saja di permukaan media tanam.
  2. Menguburnya sekitar 3 s/d 5 cm di bawah permukaan media tanam.

Hasil terbaik secara keseluruhan terlihat pada cara pengaplikasian kedua, yaitu dengan menguburnya.

Melihat efek yang dihasilkan terhadap proses tumbuh kembang tanaman setelah 3 bulan sejak pertama kali diaplikasikan, menurut saya, bubuk kacang kedelai memang bisa dijadikan sebagai alternatif pengganti pupuk organik padat sintesis. Satu hal yang bagi saya sangat menyenangkan dari penggunaan bubuk kacang kedelai ini adalah saya tidak perlu memikirkan komposisi nutrisi yang harus diaplikasikan untuk tanaman. Semuanya telah menjadi satu paket lengkap. Saya hanya perlu menjaga konsistensi perawatan dan kelembaban media tanam setiap harinya selama satu bulan pertama semenjak diaplikasikan kacang kedelai tumbuk.

Kenyamanan lainnya adalah kedelai tidak mengeluarkan bau yang mengganggu, baik saat proses penumbukkan / penggilingan maupun saat pengaplikasiannya. Selain itu, walaupun sudah dalam kondisi bubuk / tepung, kedelai masih memiliki daya simpan relatif cukup lama. Terlebih lagi jika di simpan dalam wadah kedap udara.

Untuk pengaplikasian secara umum (semua jenis tanaman), saya sarankan tidak memberikan bubuk kacang kedelai dalam jumlah banyak, cukup 1 sendok teh per 6 bulan sekali. Tidak semua jenis tanaman dapat beradaptasi dengan jumlah nutrisi yang berlebihan dalam jangka waktu dekat (2 – 3 bulan sekali). Perawatan tanaman secara menyeluruh, terutama perawatan media tanam, akan lebih menjanjikan hasil kondisi tanaman yang lebih baik daripada hanya sekedar mengandalkan pupuk dan pestisida belaka.

Kedelai Giling / Tumbuk


Alternatif pengganti Kedelai…

Beberapa jenis biji-bijian selain kedelai, seperti jagung dan kopi (ampas), dapat juga digunakan sebagai pupuk media tanam. Beberapa informasi menyatakan kedua bahan tersebut memiliki efek yang mirip (atau bahkan lebih baik) dengan kedelai. Komposisi NPK pada jagung adalah 9-0-0, dimana lebih dianjurkan pengaplikasiannya dilakukan 3 – 4 bulan sebelum media tanam digunakan untuk menanam. Hal ini disebabkan karena kandungan unsur N yang sangat tinggi dapat  membuat tanaman menjadi hangus jika langsung diaplikasikan. Saya belum pernah mencobanya dan tidak berniat untuk melakukannya, karena waktu dan efek yang ditimbulkan tidak sedikit.

Eksperimen menggunakan ampas kopi menunjukkan hasil lebih baik dari kedelai. Namun, ampas kopi akan menambah kadar asam tanah cukup tinggi. Hal ini menyebabkan pH tanah turun secara drastis dari level normal. Tingginya tingkat keasaman tanah dapat menyebabkan kematian pada beberapa jenis tanaman (artikel Kopi sebagai Pupuk).

Sebenarnya. dari semua bahan organik yang dijadikan eksperimen, hasil terbaik untuk pupuk media tanam adalah dengan menggunakan bahan organik dari biota air (ikan, udang, rumput laut dsb). Hasilnya jauh lebih baik, lebih cepat dan minim efek samping dibandingkan kedelai. Kendala dalam menggunakan bahan dasar biota air adalah tidak dapat disimpan lama. Setidaknya, diperlukan lemari pendingin / freezer untuk menjaga agar bahan tidak berbau busuk.

Hal tersebut sama sekali tidak berlaku pada kedelai. Walaupun juga memiliki waktu kadaluwarsa, prosesnya tidak secepat biota air sehingga kekhawatiran akan terbuang sia-sia karena lama tidak terpakai dapat diminimalisir.

Seandainya berkelimpahan dalam sisa biota air; seperti kulit udang, kepala udang, kepala ikan, kulit kepiting dsb, baik dalam kondisi mentah atau sisa masakan, anda dapat memberdayakannya sebagai pupuk media tanam dengan cara langsung menguburnya ke dalam media tanam tanpa harus melalui proses apapun. Jika hendak dibagi untuk beberapa pot, dapat diblender dahulu dengan air, baru kemudian dibagi rata. Proses blender (dihaluskan), menghasilkan efek bahan menjadi jauh lebih kuat dibandingkan tanpa di blender, sehingga takaran pengaplikasiannya diusahakan sesedikit mungkin agar tidak berefek negatif terhadap tanaman. Frekuensi pengaplikasian, sebaiknya jangan terlalu sering. Beri tenggang waktu minimal 2 – 3 bulan sekali (lebih aman setiap 6 bulan sekali). Hal yang tidak saya ketahui dalam pengaplikasian biota air pada media tanam adalah terjadi atau tidaknya proses pengomposan sebagaimana layaknya kedelai. Saya tidak pernah mencobanya dalam periode lebih dari 3 bulan, karena kendala dalam penyediaan tempat penyimpanan bahan biota air.

Pengaplikasian kedelai sebagai pupuk media tanam, sebagaimana disebutkan sebelumnya, akan menyebabkan proses pengomposan ringan pada media tanam. Berarti, pasti akan menyusutkan massa media tanam dalam pot. Jika, kita menggunakan media tanam jenis pakis, kedelai akan menjadikannya lapuk, sehingga mudah dipatahkan.

Waktu yang diperlukan untuk pengomposan, ± 1 bulan lamanya. Kemudian terjadi penyusutan media tanam secara perlahan ± 2 – 3 bulan setelah pengaplikasian. Umumnya media tanam susut hingga ¼ s/d ½ bagian pot dan proses penyusutan ini tidak terlihat secara kasat mata, kecuali bagian permukaan media kita tekan atau mengaduknya.

Saat mengisi ulang media baru, dapat diikuti dengan menyertakan kedelai didalamnya. Boleh juga tidak, karena saat itu, kondisi media tanam lama telah dipenuhi oleh mikro organisme penghasil unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Tetapi, harus diperhatikan, saat pengisian yang ketiga (6 bulan sejak pengaplikasian pertama), kedelai sebaiknya kembali disertakan.

Mengaplikasikan bahan organik sebagai pupuk, sepanjang pengetahuan saya, disamping menyediakan tambahan unsur hara baru juga untuk mengaktifkan kehidupan mikro organisme penghasil unsur hara dalam media tanam. Dengan kata lain, menggunakan pupuk organik sama saja dengan memelihara keberadaan mikro organisme yang hidup dalam media tanam.

Selanjutnya⇒

17 tanggapan untuk “Kacang Kedelai sebagai Pupuk”

  1. Saya lagi buat kompas dari kacang kedelai di campur dengan tanah ,udah hampir 2 bulan.Tapi kenapa di dalam pengompasan saya terdapat banyak ulat kecil Dan selalu basah.Saya Ada tutup plastik.

    1. Hai Magda,

      Membuat kompos memang seperti itu kondisinya, tetapi saya kurang mengerti penyebab kompos yang anda buat tidak mengering (seharusnya lembab / tidak berair). Mungkin ada langkah yang terlewatkan selama proses pembuatannya.

      Sebenarnya, anda tidak perlu membuat kompos jika memiliki “kacang kedelai tumbuk”. Cukup membuat parit seukuran ibu jari pada permukaan media tanam mengelilingi tanaman. Taburkan kacang kedelai tumbuk secara merata di dalam parit. Lalu parit kembali di tutup. Maksimal bubuk kacang kedelai yang dibutuhkan untuk pot berukuran 35 – 40 adalah 1 sendok teh (boleh kurang, tetapi jangan lebih). Tindakan tersebut dapat mempertahankan tanaman tanpa pupuk hingga 6 bulan. Anda cukup menyiramkan air secukupnya setiap hari agar kelembaban media tanam tetap terjaga.

      Salam…

    1. Sebatas kapasitas area kebun di halaman rumah pada umumnya, bisa. Namun, seberapa besar tingkat efektifitas dalam memengaruhi tumbuh-kembang tanaman inti agak sulit diprediksi. Karena tindakan tersebut juga akan menyuburkan tanaman-tanaman lain (gulma) yang bisa mengganggu dan tumbuh di sekitar tanaman inti.

      Salam…

  2. Saya harus membuat percobaan biologi,saya tertarik untuk menggunakan kulit kacang kedelai sebagai pupuk untuk tanaman kacang kedelai itu sendiri.Berdasarkan artikel di atas,bahan yang digunakan adalah kacang kedelai utuh yang ditumbuk,nah saya ingin tau apakah kulit kedelainya saja juga bisa digunakan sebagai pupuk?
    p.s:Harga kedelai relatif mahal sementara maksud saya adalah agar para petani kcg kedelai bisa memanfaatkan ‘ampas’ kulit kedelai mereka
    Terima kasih banyak

    1. Hai Joana,

      Terima kasih atas apresiasi anda untuk blog ini.

      Ide anda untuk mendapatkan pupuk murah dengan menggunakan bahan dari produk tanaman kedelai memang menarik di “explore” lebih jauh. Percobaan yang saya kerjakan tidak mencapai hingga titik yang anda tanyakan. Saya rasa, kandungan nutrisi yang terdapat pada kulit kacang kedelai berbeda dengan biji-nya. Jadi, walau pun bisa digunakan, hasil yang diperoleh memiliki kecenderungan berbeda dengan menggunakan biji kacang kedelai.

      Saya ada ide yang “mungkin” bisa dijadikan alternatif lebih pasti dari “ampas” kulit kedelai, yaitu limbah produk pembuatan makanan yang menggunakan kedelai sebagai bahan baku-nya untuk dijadikan pupuk. Seperti ampas susu kacang kedelai atau air limbah produk makanan tahu (en. = tofu). Tetapi, sejauh mana efektifitasnya, mohon maaf, saya juga tidak tahu.

      Dalam logika saya, walau pun sudah dalam bentuk limbah, kandungan nutrisi yang dimiliki masih sama dengan kondisi aslinya. Hanya kuantitas-nya saja yang berkurang. Jadi, yang perlu dipelajari dan diketahui hanya frekuensi dalam mengaplikasikannya pada tanaman saja.

      Salam…

  3. Di atas tertulis : ” Garis besar rangkuman informasi yang saya dapatkan, menyatakan bahwa kacang kedelai mampu melakukan proses pengomposan dengan sedikit efek negatif terhadap tanaman dewasa, namun sama sekali tidak dapat diterapkan untuk tanaman bibit. ”

    Berarti pupuk kacang kedelai ini hanya bisa di terapkan pada tanaman yg sudah terlebih dahulu tumbuh? Dan jika kita baru menanam bibit gabisa langsung di kasih pupuk kedelai itu? Atau bagaimana, mohon di jelaskan. Terima Kasih

    1. Hai Fitria,

      Benar seperti itu maksud dari kalimat tersebut, sama dengan pemahaman yang anda sampaikan. Seandainya anda menggunakannya pada media tanam yang hendak / telah disemaikan tanaman bibit, hasilnya cenderung mematikan tanaman bibit tersebut. Ini akibat tingginya kandungan mineral & protein yang dimiliki kacang kedelai.

      Minimal umur tanaman yang pernah saya coba dan aman untuk menggunakan pupuk kacang kedelai adalah 6 bulan. Di bawah itu, lebih baik menggunakan kompos. Walaupun “agak” lambat pertumbuhannya, tanaman relatif aman dari kemungkinan overdosis pupuk.

      Salam.

  4. Terima kasih atas jawabannya 🙂
    Tapi boleh tidak saya tahu dimana saya bisa mendapatkan informasi lebih lanjut yang menyatakan bahwa proses pengomposan kedelai bisa dilakukan secara langsung pada tanaman?
    pertanyaan saya ini tidak lain untuk menyelesaikan tugas sekolah saya, terima kasih sekali lagi jika anda mau menjawab pertanyaan ini.

    1. Hai Fitria,

      Mohon maaf, saat ini saya belum bisa membantu pertanyaan anda.

      Sumber awal informasi mengenai “soy bean”, seluruhnya saya peroleh dari Wikipedia. Termasuk, ditambah dari alamat / link yang direferensikan di dalam artikel. Saya tidak mencatat alamat / link yang menyatakan hal sebagaimana anda tanyakan, karena niat awalnya hanya sekedar “ingin tahu” saja.

      Seingat saya pernyataan tersebut ada dalam sebuah artikel tentang pemakaian pakan ternak untuk pupuk tanaman. Disitu disebutkan perbandingan hasil paling ideal untuk dijadikan pupuk, diantaranya menceritakan penggunaan pakan yang mengandung campuran jagung dibandingkan dengan penggunaan pakan yang mengandung campuran kedelai.

      Dan, rasanya, masih berkaitan erat dengan pembahasan pupuk berbahan organik dan non-organik juga. Karena, pada selang waktu yang sama, saya baru mengetahui bahwa kedelai impor merupakan produk genetically modified organism (GMO).

      Hanya informasi itulah yang masih tersisa di ingatan saya. Semoga bisa membantu mengarahkan anda. ☺

      Salam…

  5. Salam…Bang Omar…saya pernah terbaca artikel tentang kandungan nutrisi dalam daun kelor yang luar biasa, dapatkah daun kelor digunakan sebagai pupuk alternatif , terima kasih.

  6. Salam kenal admin kebundirumah

    Saya sedang mulai memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami, informasi pupuk delelai ini sangat bermanfaat 🙂
    saya sempat baca di blog lain pupuk organik dengan daun bambu, di salah satu pertanian di jawa tengah menggunakannya dan hasil bibit cepat tumbuh tinggi. Apakah admin kebundirumah pernah menggunakan juga daun bambu, klo pernah tolong dibuat artikel hasil pengaplikasian daun bambu sebagai pupuk 🙂

    Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Alternatif Cara Memelihara & Merawat Tanaman di Rumah

%d blogger menyukai ini: