Media Tanam dan Pot

halaman 1 dari 4

Banyak pembahasan secara sepintas tentang media tanam di beberapa artikel di situs ini. Anda pun bisa memperoleh informasi lebih mendalam dari internet mengenai jenis-jenis media tanam yang dapat digunakan untuk menanam dalam pot.

Namun, terasa ada yang kurang jika berbicara mengenai kehidupan flora tanpa menyertakan topik pembahasan tersendiri terkait media tanam. Keduanya merupakan bagian tak terpisahkan dalam membentuk pemahaman tentang cara merawat tanaman dalam pikiran seseorang. Terlebih lagi jika menggunakan pot sebagai wadah tempat menanam.

Berbeda halnya jika kita menanam langsung di atas permukaan hamparan tanah. Selalu tersedia bantuan bagi tanaman dari lingkungan sekitar untuk memenuhi kebutuhan dasarnya selama proses pertumbuhan berlangsung (mis. mikro organisme). Begitu tanaman menancap di tanah, maka alam lingkungan sekitar yang akan membantu menjaga dan merawatnya.

Menanam menggunakan pot memiliki konsekuensi bagi kita pelaku yang menanam untuk bisa menggantikan peran alam lingkungan sekitar tanaman itu tumbuh. Perilaku tetap konsisten dalam memenuhi tingkat “kelayakan” media tanam untuk tanaman yang kita tanam adalah hal mutlak. Jadi, bukan sekedar cerita tentang menyiram tanaman pagi – sore hari, memberi pupuk dan membasmi hama saja.


Pengertian Dasar Media Tanam

Pengertian media tanam (dalam lingkungan awam) sebagai bahan atau materi tempat tanaman tumbuh, telah mengalami evolusi dari bahan asalnya yaitu tanah. Hal ini, mungkin, hanya terjadi di Indonesia dan negara-negera lain yang terletak di daerah katulistiwa, yang sangat kaya akan materi alam flora.

Informasi-informasi yang beredar di internet mengenai media tanam, mayoritas selalu mengasumsikan bahwa yang disebut sebagai media tanam adalah tanah.

Tidak lebih – tidak kurang.

Sedangkan media tanam yang sering dinyatakan di Indonesia secara umum di pasaran, seringkali berupa bahan pelengkap kelayakan nutrisi untuk tanah, seperti kompos, pakis, sekam mentah dan lain sebagainya.

Pada dasarnya, memang sulit merawat tanah untuk tetap bisa memiliki kecukupan kandungan nutrisi bagi tanaman, terlebih bagi yang tidak memiliki dasar pengetahuan dalam bidang tersebut. Mayoritas penggemar tanaman hias adalah awam botani (termasuk saya). Mereka hanya menyukai tanaman hias dan ingin memeliharanya di rumah.

Kondisi awam dan tidak mengerti ini membuka kesempatan bagi beberapa pedagang tanaman mencari pengganti media untuk menanam yang lebih mudah perawatannya dari tanah. Tersedialah berbagai jenis media menanam pengganti tanah yang sedianya merupakan, mayoritas, bahan pelengkap kebutuhan nutrisi untuk tanah.

Ternyata, apa yang dilakukan para pedagang itu terbukti efektif. Saat ini, banyak para penggemar tanaman hias amatir, mampu merawat dan menjaga koleksi tanaman-nya dengan baik. Sampai pada akhirnya, pengertian media tanam mulai berevolusi di lingkungan pedagang perlengkapan berkebun. Jika kita menanyakan keberadaan media tanam, mereka akan bertanya balik kepada anda, “Media tanam untuk tanaman apa?”.

Dampak negatif penggunaan bahan pelengkap kebutuhan nutrisi untuk tanah yang dijadikan sebagai pengganti tanah ini adalah jumlahnya yang kian hari kian menipis akibat permintaan yang kian meninggi. Memang, ada juga bahan pelengkap kebutuhan nutrisi untuk tanah buatan manusia, seperti kompos. Namun, permintaan akan bahan pelengkap kebutuhan nutrisi untuk tanah yang alami, tetap saja tinggi. Ada beberapa produk alam yang tetap tidak dapat tergantikan oleh buatan manusia. Sehingga, patut untuk kita menyadari dan menanamkan perilaku tindakan pemakaian media tanam alami dengan lebih bijaksana.

Seperti pembahasan dalam beberapa artikel di situs ini, pengertian media tanam tidak mengacu hanya pada tanah, tetapi bahan atau materi yang bisa dijadikan menanam tanaman. Saya telah mencoba beberapa jenis media tanam yang biasa beredar di pasaran, seperti pakis, andam, daun bambu, sekam mentah (kulit beras), sekam bakar, sabut kelapa dan termasuk tanah. Cara pengaplikasian yang paling sering digunakan adalah dengan mencampur dan mengaduk beberapa jenis media tanam hingga merata. Tujuannya adalah mendapatkan satu komposisi media tanam yang cukup ideal untuk dipakai sebagai media menanam mayoritas tanaman hias pada umumnya.


Media tanam : Siap Pakai vs Sampah

Mengapa saya tidak memakai media tanam siap pakai seperti yang biasa dijual oleh pedagang perlengkapan pertanian?

Jika kita mau memerhatikan dengan lebih teliti, banyak bahan / materi pelengkap kebutuhan nutrisi untuk tanah yang beredar secara “gratis” di sekeliling kita dalam bentuk “sampah”.

Contoh paling mudah adalah sabut kelapa.

Setiap harinya, banyak sabut kelapa beserta kulitnya yang dibuang begitu saja ke tempat sampah. Seandainya kita mau sedikit ber-inovasi, kita dapat memanfaatkannya sebagai salah satu bagian media tanam.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memotongnya empat persegi panjang untuk diletakkan dalam pot di bagian terbawah yang, biasanya, diisikan dengan menggunakan stereo-form bekas. Sabut kelapa + kulitnya, memiliki daya tahan yang relatif “cukup” kuat dan mampu menyerap serta menyimpan air dengan baik. Seiring berjalannya waktu, bahan ini akan mengalami pelapukan dengan waktu “sangat” perlahan. Proses pelapukan ini akan menghasilkan sejenis enzim yang berguna untuk pertumbuhan tanaman.

Selain sabut kelapa, ada banyak bahan / materi lain disekitar kita yang bisa dimanfaatkan sebagai pelengkap kebutuhan nutrisi untuk tanah. Kunci untuk memanfaatkannya terletak pada sejauh mana inovasi kita sendiri.

Namun begitu, tidak ada yang salah dengan media tanam siap pakai. Menggunakan media tanam siap pakai, yang umumnya sudah dicampur dengan kompos, memang efektif. Kita tidak perlu lagi pusing memikirkan kelayakan nutrisi yang ada didalamnya, karena sudah dilengkapi dengan kompos. Dengan harga relatif murah dan volumenya yang banyak, jenis media tanam ini sangat ideal bagi mayoritas penggemar tanaman hias. Di pasaran banyak beredar media tanam siap pakai dengan dua kategori, untuk tanaman buah dan tanaman hias.

Jadi, salah satu alasan terbesar saya yang sebenarnya untuk tidak menggunakan media tanam siap pakai adalah untuk belajar dan mengerti cara memanfaatkan bahan-bahan organik yang ada dan sudah dianggap sebagai sampah di lingkungan sekitar kita.

Jika sampah organik yang telah dijadikan kompos bisa berfungsi untuk menyuburkan tanaman, berarti, bahan-bahan organik lain yang statusnya “hampir” menjadi sampah (seperti sabut kelapa) bisa juga kita manfaatkan sebelum terlanjur dimasukkan ke dalam tong / tempat sampah.

Selanjutnya⇒

Iklan

8 thoughts on “Media Tanam dan Pot”

    1. Diluar konteks teknologi di bidang pertanian, tanah merupakan media tanam paling netral yang bisa diterima oleh mayoritas tanaman. Bukankah tanah merupakan awal tempat asal-usul tanaman untuk tumbuh dan berkembang?

      Salam…

      1. setuju pak, karena didalam tanah terdapat pabrik – pabrik yang sangat produktif mengolah kebutuhan tanaman. Walau terkadang terdapat penghuni yang sedikit merugukan tanaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan

Alternatif Cara Memelihara & Merawat Tanaman di Rumah

Iklan
%d blogger menyukai ini: