Media Tanam dan Pot

halaman 2 dari 4

Media Tanam Andam dan Daun Bambu…

Saat ini, saya menggunakan media tanam jenis andam dan daun bambu saja sebagai contoh untuk mewakili media tanam lain pada umumnya. Kedua bahan organik ini, lebih banyak digunakan sebagai hiasan di bagian permukaan media tanam untuk tanaman dalam pot. Tidak ada yang salah untuk itu. Namun, bagi saya, kedua jenis bahan organik ini memiliki efek kelebihan tersendiri yang tidak dimiliki bahan organik lain untuk dijadikan media tanam.

Saya tidak menyatakan kedua jenis bahan organik tersebut merupakan yang terbaik. Bagi mayoritas tanaman dalam pot, pemakaian kedua jenis media tanam ini menghasilkan efek positif pada proses tumbuh-kembang tanaman.

Media Tanam Andam

Media tanam jenis andam, yang lebih dikenal dengan nama “mulch” dalam bahasa Inggris, merupakan salah satu jenis media tanam yang disukai mayoritas tanaman. Berbahan ranting dan dedaunan dari jenis tanaman pakis-pakisan yang sudah mati. Karakternya lembab dan agak rapuh, mudah menyerap air.

Daun bambu, seperti namanya, adalah media tanam yang berasal dari bahan daun bambu yang telah tua dan mengering.

Media Tanam Daun Bambu

Karakternya kering, rapuh dan agak sulit menyerap air.

Pengaplikasian kedua media tanam secara terpisah, tidak membawa hasil sebaik jika keduanya dicampurkan. Saya tidak tahu apa sebabnya.

Pencampuran kedua jenis media tanam ini (andam : daun bambu = 2 : 1), akan menghasilkan komposisi media tanam yang bersifat porous dan lembab. Walaupun tidak berdaya tahan lama, campuran media tanam ini sangat ampuh menjaga stabilitas kondisi kelembaban akar tanaman.

Pengaplikasiannya sangat mudah. Bisa langsung dipakai dalam keadaan kering atau terlebih dulu (lebih baik) direndam dengan air tawar.

Ada hal menarik jika media tanam campuran ini digunakan setelah melalui proses perendaman. Selain menghindari debu yang berterbangan yang berasal dari media tanam, proses perendaman ini akan menghasilkan sejenis zat yang disukai tanaman.

Jika air hasil proses perendaman >= 24 jam disiramkan ke media tanam dalam sebuah pot, akan menjadikan tanaman yang tumbuh di atas media tanam tersebut tampak segar pada 1-2 hari kemudian. Jenis media tanam yang pernah saya coba siram dengan menggunakan air rendaman ini adalah tanah merah, pakis, sekam mentah dan media tanam yang sudah lapuk (mati). Semua tanaman yang tumbuh di atas media tanam tadi, terlihat segar setelah mendapat siraman air rendaman pada media tanamnya.

Berapa lama efek guna air rendaman itu bisa bertahan? Apakah media tanam yang sudah mati menjadi hidup lagi? Apakah bisa dijadikan sebagai POC?

Saya tidak memiliki sumber apa pun yang bisa dijadikan teori untuk menjelaskan kejadian ini, baik secara awam maupun ilmiah.

Namun, saya menemukan persamaan aroma (bau) yang dikeluarkan saat waktu perendaman diperpanjang menjadi 1 minggu dengan perendaman rumput laut selama 3 hari. Mengacu pada nutrisi yang terdapat pada rumput laut, lebih banyak didominasi kandungan nutrisi mikro (micro nutrients) yang cukup lengkap. Jika hal yang sama memang terjadi pada air hasil proses perendaman andam + daun bambu, tentu akan mempermudah dalam melengkapi kebutuhan nutrisi tanaman dengan cara yang lebih mudah dan efektif, karena pengerjaannya sekali jalan. Disamping itu, air rendaman ini dapat diaplikasikan terhadap beberapa jenis media tanam yang berbeda.

Percobaan yang saya lakukan menggunakan air rendaman ini sudah berlangsung cukup lama, dan tidak menimbulkan efek negatif bagi tanaman. Ampas hasil perendaman bisa ditambahkan ke dalam pot yang mengalami pengurangan volume media tanam.

Sisa Nutrisi pada Ampas setelah Perendaman

Apakah ampas andam dan daun bambu tersebut masih memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman?

Saya tidak tahu.

Biasanya, bahan organik memiliki beberapa kandungan nutrisi dengan karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang mudah di ekstrak hanya dengan menggunakan air biasa, ada yang harus melalui proses pemasakan, dan ada juga yang harus menggunakan media kimia tertentu seperti alkohol atau ether. Jadi, ada kemungkinan ampas hasil proses perendaman, masih memiliki kandungan nutrisi lain yang tidak ikut ter-ekstrak oleh air.

Hasil eksperimen menggabungkan ampas hasil proses perendaman dengan bubuk kacang kedelai berefek pada timbulnya bintik-bintik coklat (dead spot) atau cacat pada daun muda / baru tumbuh. Apa yang menjadi penyebabnya jelas karena kelebihan nutrisi tertentu. Namun, saya belum menemukan jenis nutrisi yang menjadi penyebabnya. Terdapat kemungkinan, hal tersebut disebabkan “ketersediaan” nutrisi yang terganggu akibat kadar keasaman (pH) media tanam yang meningkat, karena tindakan perendaman akan menghasilkan proses fermentasi.

Dari beberapa jenis media tanam yang pernah saya coba, pemakaian campuran kedua media tanam ini merupakan yang terbaik dapat diterima oleh mayoritas tanaman, baik tanaman hias (kecuali anggrek) maupun tanaman buah, di rumah saya.

Jika hendak menghemat pemakaian kedua jenis media tanam ini, anda bisa menggunakan jenis media tanam berbeda (mis. tanah) di tambah dengan air hasil rendaman dan ampas campuran andam + daun bambu sebanyak ¼ – 1/3  bagian pada bagian permukaan. Teknik ini cukup efektif melindungi tingkat kelembaban media tanam di bawahnya menjadi relatif stabil.

Cara merendamnya dengan menggunakan ember berkapasitas 6 liter diisi dengan campuran andam + daun bambu hingga ¼ bagian ember, isikan air hingga ¾ bagian ember, aduk hingga merata. Cukup direndam selama 24 jam dalam keadaan tertutup (asal tertutup saja), kemudian di siramkan pada media tanam yang sekiranya membutuhkan.

Cerita andam dan daun bambu di atas adalah salah satu contoh pemanfaatan bahan alami untuk dijadikan media tanam. Tidak ada ruginya untuk mempelajari hal-hal seperti itu, terutama bagi kita yang hobi berkebun. Dampaknya akan sangat terasa dalam mengurangi biaya rutinitas perawatan tanaman di rumah.

 

Selanjutnya⇒

Iklan

8 tanggapan untuk “Media Tanam dan Pot”

    1. Diluar konteks teknologi di bidang pertanian, tanah merupakan media tanam paling netral yang bisa diterima oleh mayoritas tanaman. Bukankah tanah merupakan awal tempat asal-usul tanaman untuk tumbuh dan berkembang?

      Salam…

      1. setuju pak, karena didalam tanah terdapat pabrik – pabrik yang sangat produktif mengolah kebutuhan tanaman. Walau terkadang terdapat penghuni yang sedikit merugukan tanaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Alternatif Cara Memelihara & Merawat Tanaman di Rumah

Iklan
%d blogger menyukai ini: