Media Tanam Pakis dan Arang

Setiap kali pikiran saya membentuk kata “pakis”, selalu berbuntut dengan “anggrek”. Kedua hal itu membentuk bayangan / image sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan di kepala saya. Sebelum aktif memelihara anthurium, anggrek merupakan tanaman idola yang ada di rumah saya.

Pakis…

Media tanam pakis, menurut saya, sangat ideal sebagai media sarana tempat tumbuh anggrek. Selain berdaya tahan relatif lebih lama dari media tanam pada umumnya, pakis bersifat porous. Dapat menyimpan air namun tidak basah. Keunggulan ini diikuti juga dengan resiko akan serangan hama yang cukup tinggi. Karakter fisik pakis yang keras sangat ideal bagi hama untuk berlindung dari bahaya yang mengancamnya. Baik berupa predator maupun suhu ekstrim. Saat itu, kebutuhan akan pupuk dan pestisida masih bergantung pada pasokan yang tersedia di pasaran.

Pengalaman memelihara dan merawat anggrek ini mengajarkan saya untuk harus mengerti dengan lebih baik tehnik dan metode perawatan tanaman secara mandiri. Mengandalkan sepenuhnya kebutuhan pupuk dan pestisida dari pasokan yang tersedia dipasaran tidak akan menjadikan saya lebih baik secara kualitas dalam pemeliharaan tanaman. Ini juga yang pada akhirnya membuat saya berpikir bahwa harus ada sarana untuk perawatan dan pemeliharaan anggrek yang cukup mumpuni, namun mudah dan murah diperoleh.

Kembali ke pakis. Di pasaran, pakis biasa dijual dalam dua kondisi. Berbentuk papan dan serpihan (biasa disebut “pakis karungan”). Saat ini, ada beberapa anthurium di rumah saya menggunakan pakis serpihan sebagai media tanam. Tidak seluruhnya diisikan dengan pakis, hanya pada bagian dasar pot saja. Di bagian atas diisikan dengan campuran media tanam andam dan daun bambu. Tujuannya untuk memastikan perbandingan terhadap proses tumbuh-kembang anthurium yang hanya menggunakan campuran andam dan daun bambu saja.

Dulu, saya pernah mencoba dengan menggunakan pakis saja, tanpa campuran andam + daun bambu. Hasilnya, tidak sebaik dibandingkan dengan hanya menggunakan campuran andam + daun bambu. Eksperimen yang saat ini saya lakukan, setelah 6 bulan, menunjukkan hasil pada proses tumbuh kembang tanaman yang lebih stabil dan berdaya tahan terhadap kondisi tanpa penyiraman rutin. Tanaman tetap tumbuh normal walau hanya disiram 2 kali seminggu.

Walau pun pertumbuhan relatif lebih lambat, tidak terlihat gejala yang menunjukkan ke keadaan negatif. Pada bulan ke delapan, tanaman tetap tumbuh sehat tanpa bantuan pupuk sama sekali. Hanya terlihat pertumbuhan daun baru (pucuk baru) yang sedikit mengecil (berkurang 5-10% dari daun terakhir), tanpa ada cacat. Dibandingkan dengan tanaman yang tanpa menggunakan pakis, boleh dibilang secara keseluruhan tanaman yang menggunakan pakis jauh lebih bagus. Bentuk fisik seluruh tanaman tampak proporsional.

top

Arang…

Keunggulan pakis untuk dapat menyimpan cairan dalam waktu relatif lama dapat digunakan sebagai sarana penyimpanan zat berbahaya bagi hama namun ramah terhadap tanaman. Kondisi ini membuat area bagian perakaran tanaman terlindungi dari serangan hama untuk jangka waktu relatif cukup lama. Tidak seperti arang, yang juga banyak digunakan sebagai media tanam anggrek. Arang memiliki kemampuan untuk menetralisir zat racun yang menempel pada permukaannya dan daerah sekitarnya.

Pada prakteknya, beberapa racun yang diakibatkan karena kelebihan pupuk atau pestisida, dapat diminimalisir juga oleh arang. Pengaplikasian pupuk dan pestisida organik pada bagian pengakaran anggrek bermedia tanam arang akan memperlemah efek dari masing-masing zat tersebut. Selain itu, arang cenderung untuk menjadikan pH media tanam pada kondisi basa. Kondisi ini dapat mengubah ketersediaan nutrisi tertentu menjadi hilang / tidak dapat diserap oleh akar tanaman.

Saya tidak mendeskriditkan keberadaan arang. Bagaimanapun juga arang memiliki kelebihan dan keunggulan sendiri. Selain mudah diperoleh dan murah, arang dalam kuantitas terbatas dapat menjadi penyeimbang keadaan unsur-unsur yang berlebih dalam media tanam.

Penggunaan arang dalam menanam anthurium pernah saya coba untuk beberapa kali, namun hasil yang diperoleh kurang memuaskan. Kurang memuaskan disini dalam arti karena kemampuan arang dalam menetralisir pestisida yang diaplikasikan pada media tanam.

Saya meletakkannya pada bagian area bagian bawah pot dan mengisikan area bagian atas menggunakan campuran andam + daun bambu. Kira-kira 2 / 3 minggu kemudian, di area tempat arang diletakkan banyak beredar hama-hama tanaman seperti siput dan nematoda, yang lama-kelamaan merambah ke bagian atas pot dan akhirnya seluruh media tanam. Sesering dan sebanyak apapun kuantitas pestisida yang diaplikasikan, tidak berefek hingga tingkat membasmi hama. Hanya mengendalikan saja. Kemudian dalam jangka waktu tidak terlalu lama, hama kembali berdatangan dengan jumlah lebih besar.

Beberapa pot yang berisi komposisi media tanam seperti itu, mengalami kasus yang sama. Saya mencoba menganalisa keadaan tersebut dan berakhir pada kesimpulan, arang memiliki kemampuan menetralisir racun yang cukup kuat dan berakumulasi terhadap area disekitarnya. Setelah kejadian itu, saya tidak pernah lagi menggunakan arang sebagai bagian dari komposisi campuran media tanam.

Ada satu kasus yang cukup menarik saya alami saat menggunakan arang. Salah satu pot, saya isikan komposisi media tanam dengan campuran arang dengan kuantitas tidak sebanyak pot yang lain. Tidak dengan sengaja untuk tujuan tertentu, hanya dikarenakan persediaan arang yang ada tinggal sisanya saja. Saat pot dengan kuantitas arang lebih banyak terserang hama, anthurium dalam pot ini tumbuh sangat baik dengan pertumbuhan akar tanaman yang “meng-gurita” di area dasar pot.

Sayangnya, saya tidak terlalu memperhatikan hal tersebut, karena perhatian lebih terfokus pada pot-pot lain yang terserang hama. Jika anda bertanya, berapa banyak kuantitas arang yang terdapat dalam komposisi media tanam saat itu, maaf, saya sama sekali sudah melupakannya. Saya pun menyesal untuk tidak memiliki catatan mengenai hal itu, saat ini saya belum berniat untuk melakukan eksperimen lagi untuk menemukan komposisi tersebut.

Setelah menemukan daun mimba sebagai salah satu bahan dasar pestisida, saya belum pernah mencoba penerapannya pada komposisi media tanam yang menggunakan arang. Saya tidak pernah mengalami secara langsung efek pestisida ini pada tanaman yang bermedia tanam arang. Namun, dari salah satu penggemar anggrek yang pernah mencobanya, mengatakan pestisida ini mampu mengendalikan peredaran hama pada daerah perakaran anggrek di rumahnya dengan sangat baik. Hal itu berlaku bagi anggrek yang bermedia tanam pakis mau pun arang. Level kemampuan pengendalian hama yang dimaksudkan tidak pernah saya ketahui secara pasti, dugaan saya adalah lebih baik dari pada pestisida yang sebelumnya pernah digunakan.

top

Pakis atau Arang…???

Pakis merupakan media tanam yang banyak di-favorit-kan oleh penggemar tanaman hias. Di banding arang, pakis memiliki banyak kelebihan dan manfaat untuk dijadikan media tanam.

Jadi, mana di antara keduanya yang lebih baik untuk diaplikasikan untuk tanaman di rumah?

Saya cenderung menyerahkan pilihan pada anda yang hendak menggunakan salah satu atau kedua media tersebut sesuai dengan kebutuhan dari koleksi tanaman di rumah anda.

top

Semoga bermanfaat!

2 thoughts on “Media Tanam Pakis dan Arang

  1. Agustini

    yth bp. Ryan,
    salam kenal, sy Tini. sy ingin belajar bertanam anggrek, pertanyaannya, apakah media pakis yg sdh hancur, sebelum dimasukkan ke dalam pot, harus disterilkan lebih dulu? jika ya, dengan apa?
    Mohon penjelasannya, terimakasih.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s