Memelihara Hama Tanaman???

Suatu pernyataan yang terdengar mengada-ada, tapi memang begitulah yang sering terjadi secara tidak sengaja. Ada satu keterkaitan yang cukup erat hubungannya antara ketersediaan unsur hara dengan hama tanaman.

Jika kita menggunakan bahan organik untuk dijadikan pupuk tanaman, berarti kita memutuskan untuk mengundang hewan pengurai (seperti : mikro organisme) turut ambil bagian dalam proses tumbuh-kembang tanaman yang kita pelihara / rawat. Keberadaan para hewan pengurai bahan organik ini, menarik minat hewan-hewan kecil lainnya berkumpul di tempat yang sama. Termasuk hama tanaman dan hewan predator  (pemangsa) – nya.

Sejauh mana cara penerapan perawatan tanaman menggunakan bahan organik yang bisa disebut relatif aman dari keberadaan hama tanaman?

Perawatan tanaman Organik…

Gambaran yang terbayang di pikiran kita saat mendengar / membaca kalimat “perawatan tanaman secara organik”, adalah perawatan tanaman yang ramah lingkungan. Dimana pengertian “ramah lingkungan” ini bisa diartikan sebagai lebih mengutamakan pemakaian bahan-bahan pendukung yang sifatnya ber-efek positif (tidak merusak) terhadap lingkungan selama melakukan perawatan tanaman. Harapannya, lingkungan di sekitar tempat tindak perawatan tanaman dilakukan bisa tetap bertahan seperti sedia kala. Tidak tercemar residu bahan kimia sebagaimana yang biasa dihasilkan jika menggunakan bahan-bahan (pupuk & pestisida) sintesis.

Penggunaan metode perawatan tanaman secara organik pada dasarnya adalah memberdayakan kemampuan atau kandungan bahan organik tertentu untuk dapat memenuhi kebutuhan atau mengatasi masalah pada tanaman. Mungkin, pendefinisian tersebut tidak sepenuhnya benar. Tapi, menurut saya, memang demikianlah adanya. Entah itu, pada akhirnya, peran dari mikro organisme atau bahan yang digunakan atau hal lain, sehingga menjadikannya organik. Saya tidak memahaminya secara jelas. Saat ini, yang saya ketahui adalah kandungan bahan organik inilah, sering kali, secara tidak langsung, mengundang hama-hama berdatangan.

Teori Perawatan Organik dengan Hama Tanaman…

Kondisi seperti apa yang sebenarnya membuat hama berdatangan memangsa tanaman?

Jika kita perhatikan, ada satu kesamaan kondisi dari beberapa jenis tanaman berbeda yang menjadikan hama tertarik untuk mendatanginya, yaitu kondisi tanaman yang sehat. Tidak dibutuhkan seorang profesor untuk menyatakan tanaman yang tumbuh sehat lebih enak rasanya dibandingkan tanaman yang tumbuh sengsara. Hama-hama pun memiliki pendapat yang sama tentang hal itu.

Alasan mengapa tanaman bisa tumbuh dengan sehat adalah karena faktor pendukung proses tumbuh-kembang tanaman terpelihara dan terjaga kondisinya dengan baik. Salah satunya adalah kecukupan ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Unsur hara itu berasal dari pupuk yang kita berikan secara berkala.

Kandungan mineral & protein dalam pupuk organik  (padat / cair), juga memiliki kesamaan dengan yang ada pada tanaman. Karena, kandungan mineral & protein tersebut diperoleh dengan cara mengekstrak-nya dari bahan organik (nabati dan hewani). Hal serupa juga dilakukan oleh hama tanaman untuk mereka dapat bertahan hidup, yaitu mengkonsumsi protein dan mineral melalui bagian-bagian tanaman (seperti daun dan akar).

Dengan kata lain, kandungan mineral dan protein dalam pupuk organik yang telah kita aplikasi-kan untuk tanaman, selain di konsumsi oleh tanaman itu sendiri, juga di konsumsi oleh hama tanaman yang beredar disekitar area tempat tanaman itu tumbuh. Sehingga, dapat dikatakan bahwa salah satu faktor penyebab yang menarik perhatian hama terhadap tanaman adalah pupuk (?).

Benarkah penggunaan pupuk organik juga memiliki peran terhadap keberadaan hama tanaman?

Pupuk Organik vs Hama Tanaman…

Berdasarkan pertanyaan di atas, saya melakukan eksperimen dengan menggunakan beberapa cara pengaplikasian pupuk.

Metodenya :

  • mengaplikasikan pupuk media tanam dan pupuk daun.
  • mengaplikasikan pupuk media tanam saja.
  • mengaplikasikan pupuk daun saja.
  • tidak ada pupuk yang diaplikasikan.

Pembagian metode ini dimaksudkan untuk membatasi tindakan perawatan yang biasa diberikan pada tanaman. Waktu percobaan dari masing-masing metode diaplikasikan secara acak, dibatasi hingga terjadi serangan hama. Setelah periode proses pemulihan selesai dilewati, percobaan kembali dilakukan dengan metode yang lain.

Banyak hal yang terjadi pada saat percobaan dilakukan dan saya tidak membuat detail catatan mengenai semua kejadian itu. Namun, ada beberapa aksi dan reaksi pengulangan tindakan yang dilakukan selama percobaan dengan menggunakan tiga metode pertama diatas.

Keterangan di bawah ini adalah rangkuman / garis besar eksperimen yang berhasil saya ingat.

Pemakaian bahan organik yang dijadikan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara pada tanaman, sebenarnya, juga meninggalkan residu. Residu ini tidak bertahan lama, sebagian besar habis tercuci dan terbawa oleh siraman air. Jika frekuensi pengaplikasian pupuk dilakukan dalam tenggang waktu cukup dekat (2 kali seminggu) dan volume air penyiraman relatif sedikit, maka akan menghasilkan endapan akibat residu pupuk yang tidak tercuci. Endapan residu inilah yang pada akhirnya mengundang hama berdatangan, dimana keberadaan siput bercangkang ukuran kecil merupakan tanda awal kehadiran hama.

Kondisi seperti ini sudah cukup menginformasikan agar pengaplikasian pupuk dihentikan untuk sementara waktu. Mengapa?

Jika pengaplikasian pupuk tidak dihentikan, tingkat serangan hama akan bertambah besar dengan jenis hama yang semakin bervariasi. Walaupun takaran dosis pupuk dikurangi, tidak serta-merta turut mengurangi populasi hama.

Hama, pada dasarnya, merupakan mahkluk hidup yang juga membutuhkan makanan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Mereka mengkonsumsi sari makanan pada tanaman dengan cara menghisapnya dari bagian-bagian tanaman seperti batang dan daun. Pupuk organik juga diperoleh dengan cara mengekstrak bahan organik tertentu. Dengan demikian, ekstrak bahan organik untuk menjadi makanan bagi tanaman merupakan makanan yang sama dikonsumsi oleh hama. Seandainya, ekstrak bahan organik tersebut dapat menjadikan pertumbuhan tanaman berlangsung dengan baik, maka hama yang mengkonsumsinya juga akan mendapatkan efek serupa (bahkan mungkin lebih baik). Inilah sebabnya mengapa saya menyebutnya dengan memelihara hama tanaman.

Menghentikan pengaplikasian pupuk secara otomatis akan menghentikan sebagian suplai makanan bagi hama yang beredar. Berapa lama waktu penghentian harus dilakukan? Kira-kira 6 – 8 minggu sebelum pengaplikasian berikutnya kembali dilakukan. Selain menghentikan sebagian suplai makanan bagi hama, 8 minggu merupakan waktu yang dibutuhkan bakteri dan jamur untuk menyelesaikan fermentasi endapan residu pupuk. Pengaplikasian Pestisida Organik dengan Bawang Putih…atau Pestisida Organik dengan Daun Mimba…, pada pangkal tanaman setiap 2 hari sekali di awal waktu penghentian pemberian pupuk selama 2 minggu pertama, dapat mengatasi dan mengendalikan mayoritas serangan hama dengan baik.

Setelah melewati minggu ke-8, ada baiknya mengurangi frekuensi dan takaran dosis pupuk yang biasa diaplikasikan sebelumnya. Tindakan ini cukup efektif untuk mencegah serangan hama datang kembali.

Overdosis Pupuk dan / atau Pestisida…

Biasanya, pada kasus murni disebabkan akibat serangan hama, kondisi tanaman sudah menunjukkan perubahan ke arah lebih baik pada minggu ke-4. Jika setelah melewati minggu ke-4 kondisi yang terlihat seolah-olah terhenti (stagnant), ada dua kemungkinan yang menjadi penyebabnya :

  1. hama masih bertahan.
  2. overdosis pupuk dan / atau pestisida.

Penyebab hama masih bertahan, menurut saya, kemungkinannya sangat kecil. Hanya pada kasus-kasus tertentu saja, seperti serangan hama busuk batang dalam jaringan batang tanaman, yang masih mungkin dapat bertahan.

Kemungkinan yang disebabkan overdosis pupuk akan menimbulkan reaksi mirip seperti serangan hama. Demikian juga sebaliknya. Misalnya, serangan hama nematoda memiliki efek mirip dengan tanaman yang kekurangan unsur hara Fe (besi). Dimana, kekurangan unsur Fe ini dapat disebabkan karena kelebihan dari unsur P (fosfor). Wajar jika terjadi kemungkinan terjadi kelebihan unsur P, mengingat unsur P adalah nutrisi makro yang mayoritas selalu ada pada kompisisi kandungan bahan organik dan sifatnya sulit larut dalam air. Namun, walaupun terlihat kekurangan unsur Fe, bukan berarti tidak ada kandungan unsur Fe dalam media tanam (artikel Nutrisi untuk Tanaman…). Uuugh…. rumit banget!

Kedua hal tersebut berlangsung di bawah permukaan media tanam dan efek yang ditimbulkan baru terlihat saat tanaman mendekati kondisi cukup parah. Untuk mengetahui secara langsung penyebab masalah, tidak ada cara yang lebih efektif selain dengan membongkar dan mengeluarkan media tanam dari dalam pot. Penggunaan pH meter dapat membantu mendapatkan kepastian penyebab permasalahannya yang sebenarnya sebelum tindakan membongkar media tanam dilakukan. Jika permasalahannya memang terletak pada overdosis pupuk, ada baiknya mengganti media tanam lama dengan yang baru.

Mengatasi overdosis pupuk…

Tidak ada cara tercepat mengatasi overdosis pupuk / pestisida selain mengganti media tanam lama dengan yang baru. Tidak ada cara lain yang lebih baik dari itu. Periksa dan perbaiki lubang ventilasi dan drainase pot (buat lubang baru jika diperlukan). Kembalikan tanaman ke dalam pot dengan menggunakan campuran andam dan daun bambu atau jenis media tanam lain yang sudah direndam selama beberapa jam (< 6 jam), tanpa disertai pupuk apapun.

Tindakan tersebut bertujuan untuk menciptakan tingkat kelembaban media tanam yang tinggi. Letakkan tanaman ditempat yang terkena sinar matahari di bawah naungan paranet. Dengan kondisi mendapatkan sinar matahari dan rutinitas penyiraman setiap hari, akan mengikis kelebihan unsur hara pada tanaman dalam waktu relatif singkat.

Hentikan suplai pupuk sama sekali. Jika yang terjadi adalah overdosis pupuk, kemungkinan besar kondisi tanaman dapat pulih seperti sedia kala. Jika overdosis pestisida yang terjadi, sebagaimana seperti saya pernah alami, hampir tidak ada kemungkinan tanaman dapat pulih kembali.

Jika pengaplikasian pupuk merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya serangan hama pada tanaman; apakah dengan cara tidak ada pengaplikasian pupuk, tanaman akan terbebas dari serangan hama? Jawabannya, TIDAK!

Tanah, tanaman dan mikro organisme (termasuk hama tanaman) merupakan satu bagian dari siklus rantai makanan. Ketiganya saling memiliki keterkaitan yang erat dalam satu lingkaran dengan ketergantungan antara satu dengan lainnya. Di alam bebas, ketiga faktor ini hidup dalam kondisi saling mencukupi. Setiap bagian memproduksi sesuatu untuk dikonsumsi oleh lainnya. Tanah menghasilkan nutrisi bagi tanaman, tanaman menghasilkan bahan-bahan mentah fermentasi untuk mikro organisme, mikro organisme menghasilkan kotoran yang diserap tanah sebagai bahan utama pembuatan nutrisi. Semua ini berjalan seimbang untuk mencukupi kebutuhan satu dengan lainnya tanpa menimbulkan gangguan berarti pada tanaman.

Intinya, pencegahan terjadinya kondisi tidak normal pada pertumbuhan tanaman adalah membatasi suplai berlebih dari pupuk dan pestisida. Takaran dosis pupuk skala kecil dengan pengaplikasian yang jarang, tidak akan mematikan tanaman selama rutinitas penyiraman tetap dijaga. Hal ini akan mencegah berkembangnya populasi hama disekitar tanaman.

Pupuk : Organik vs Sintesis…

Jika yang telah disampaikan sebelumnya menyatakan bahwa bahan organik merupakan salah satu sumber kehadiran hama tanaman, apakah dengan menggunakan bahan sintesis tidak mengundang kehadiran hama? Tidak juga. Hama akan tetap ada dan hadir selama tanaman dalam kondisi sehat. Perbedaannya terletak pada efek yang dihasilkan dari kedua bahan tersebut terhadap daya tahan tanaman terhadap serangan hama. Kondisi “hama terkendali” pada tanaman dengan pasokan bahan sintesis (pupuk / pestisida) hanya berlangsung dalam waktu tidak terlalu lama (1 – 2 minggu) dibandingkan bahan organik (4 – 6 minggu).

Menurut saya, baik menggunakan bahan sintesis maupun organik, kuantitas hama yang menyerang adalah sama. Sasaran dari serangan tersebut yang membedakannya. Pada perawatan menggunakan bahan sintesis, hama hanya memiliki satu pilihan makanan untuk mereka konsumsi yaitu tanaman. Sedangkan pada perawatan menggunakan bahan organik, hama memiliki dua pilihan makanan yaitu tanaman dan pupuk yang diaplikasikan.

Sasaran awal pilihan mereka adalah pupuk organik yang diaplikasikan karena sudah dalam bentuk ekstrak (POC) bahan organik cair. Demikian juga yang terjadi pada pupuk dalam bentuk padat seperti bubuk kacang kedelai atau bahan organik lain yang dikeringkan (mis. kulit / kepala udang / ikan). Walau pun tidak dalam bentuk ekstrak, hama akan memilih bahan ini terlebih dulu sebagai santapan mereka dari pada tanaman.

Masing-masing bahan pendukung perawatan tanaman, baik organik maupun sintesis, memiliki kelebihan dan kekurangan nya sendiri-sendiri. Untuk perawatan secara rutin dan berkala, saya menggunakan bahan organik (pupuk / pestisida). Bahan sintesis yang saya gunakan hanya pestisida. Itupun dilakukan pada saat serangan hama sudah diambang batas kendali (merata di seluruh area kebun). Sulit mengandalkan pestisida berbahan organik pada kasus seperti demikian karena reaksinya yang lambat dan bersifat umum (tidak spesifik untuk hama tertentu). Namun, sejak menggunakan Pestisida Organik Daun Mimba setiap 2 minggu sekali, saya tidak pernah mendapatkan peredaran hama di area kebun hingga di luar ambang batas kendali.

Membatasi takaran dan frekuensi pengaplikasian pupuk pada tanaman akan berdampak pada proses tumbuh-kembang tanaman yang lebih stabil dengan perawatan yang lebih mudah. Pemenuhan unsur hara pada media tanam yang dilakukan setiap ± 3 bulan sekali untuk tanaman berukuran besar dan setiap ± 6 bulan sekali untuk tanaman berukuran kecil, dengan menggunakan sedikit kedelai tumbuk/giling (max. 1 sendok teh per pot berukuran besar) sudah cukup memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Pengaplikasian POC yang dilakukan seperlunya (± 1 – 2 bulan sekali) dengan takaran dosis yang sangat rendah dan menyemprotkan ramuan pestisida organik setiap ±2 minggu sekali, akan menjadikan kondisi tanaman terjaga dan terpelihara dengan baik.

Semoga bermanfaat!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s