Mensterilkan Media Tanam

halaman 2 dari 3

Mengganti vs Mensterilkan Media Tanam….

Sebenarnya, sejauh mana kepentingan pemakaian media tanam yang telah disterilkan untuk digunakan dalam aktivitas berkebun skala amatir / hobi?

Hingga saat ini, saya tidak melihat hal tersebut sebagai satu keharusan. Boleh dikerjakan, boleh juga tidak. Sudah cukup kiranya hanya dengan menggunakan media tanam non-steril saja, namun kondisinya masih baru. Umumnya, setelah tanaman di pindah-tanamkan menggunakan media tanam baru, permasalahan yang sebelumnya mengganggu bisa teratasi dengan baik. Termasuk mengatasi peredaran hama di media tanam.

Pertanyaannya, apakah ada cara mensterilkan hama media tanam yang lebih mudah dan efisien tanpa harus mengganti dengan media tanam baru?

Pada beberapa artikel lain di situs ini, pembahasan mengenai tindakan mengganti media tanam lama dengan yang baru lebih ditujukan untuk keperluan dalam mengatasi masalah overdosis pupuk atau pestisida (artikel Memelihara Hama Tanaman? ? ? ). Hal itu pun dilakukan jika memang telah dipastikan bahwa penyebab gangguan pada tanaman benar-benar diakibatkan bukan karena hama tanaman.

Jadi, sebenarnya, selama pengaplikasian pupuk / pestisida masih dalam taraf normal, kemungkinan tanaman rusak / sakit akibat overdosis pupuk / pestisida sangatlah kecil. Sehingga, tindakan mengganti media tanam selama masa perawatan / pemeliharaan tanaman dapat dikatakan nyaris tidak diperlukan.

Hal tidak terduga dan sering dialami selama masa perawatan / pemeliharaan tanaman adalah serangan hama di bawah permukaan media tanam yang telah melampaui ambang batas toleransi, tanpa disadari awal dan proses kehadirannya.

Hama tanaman, bagaimana pun caranya, akan tetap ada dan hadir selama tanaman dalam kondisi sehat. Baik hama yang beredar di bawah mau pun di atas permukaan media tanam. Sebelumnya, saya menggunakan pestisida organik bawang putih dalam mengendalikan dan mengatasi hama-hama tersebut. Walau pun efektif, pengerjaannya harus rutin dan telaten untuk dilakukan minimal 1 minggu sekali. Namun demikian, setidaknya, saya dapat terhindar dari pekerjaan mengganti media tanam akibat tidak terkendalinya populasi hama yang beredar dalam media tanam.

Sekitar bulan Maret 2012, saya memodifikasi komposisi resep ramuan pestisida tersebut dengan mengganti salah satu bahan baku ramuan dengan daun mimba segar. Pada saat itu, memang, kondisi persediaan ramuan pestisida bawang putih yang ada telah menipis dan pohon mimba di rumah berdaun cukup rimbun, jadi tidak ada salahnya memberdayakan daun-daun tersebut sebagai bahan baku pestisida. Tidak ada maksud atau tujuan apa pun dari tindakan memodifikasi resep tersebut daripada sekedar iseng dan pemikiran “siapa tahu…?”

Beberapa percobaan telah dilakukan untuk menguji kemampuan ramuan terhadap hama-hama yang terlihat berkeliaran (on the spot), seperti : siput bercangkang, siput telanjang, kutu putih dan belalang. Memang, efeknya tidak seketika mematikan, namun (yang diluar dugaan saya) tetap mematikan! Maksudnya, walau pun hama masih dapat melarikan diri setelah terkena ramuan, pada akhirnya tetap mati.

Perbedaan dengan ramuan sebelum resep dimodifikasi, terlihat jelas pada hama siput telanjang. Cukup sekali semprot, hama akan mati dalam waktu < 5 menit (tergantung tingkat kepekatan ramuan yang digunakan, tapi pasti mematikan). Selama ini, dari beberapa bahan nabati yang pernah dibuat, tidak ada yang mampu membunuh siput telanjang hanya dengan sekali semprot kecuali dengan menggunakan ramuan air rendaman tembakau.

Hal lain yang jelas terlihat berbeda adalah ramuan ini sama sekali tidak berdampak negatif terhadap daun tanaman. Dan yang benar-benar membuat saya terkagum-kagum pada daun mimba adalah kemampuannya dalam membunuh rayap dan mensterilkan keberadaannya dari media tanam.

Bersamaan dengan berhasilnya mengatasi hama rayap dengan cara mensterilkan media tanam tanpa menimbulkan efek negatif pada tanaman, membuat ide baru muncul di kepala saya : “Mengapa tindakan sterilisasi tidak sekalian saja dilakukan saat menambahkan media tanam baru?”.

Hampir setiap 2 bulan sekali, tindakan penggemburan media tanam perlu dilakukan untuk menjaga suplai oksigen dalam media tanam. Biasanya, setelah dilakukan penggemburan, volume media tanam dalam pot terlihat berkurang dikarenakan proses pelapukan. Agar volume media tanam kembali seperti keadaan semula, perlu ditambahkan media tanam baru.

Pada saat itulah, media tanam baru yang hendak ditambahkan, direndam sebentar dalam air campuran ramuan pestisida sebelum dimasukkan ke pot. Perbandingan campuran antara ramuan : air = 1 : 4, sudah dapat berfungsi sebagai pengusir / penolak hama yang bersarang di media tanam. Perbandingan 1 : 2, berefek mematikan hama yang ada di media tanam. Sisa air rendaman dapat disiramkan ke dalam pot setelah penambahan media tanam selesai dilakukan.

Terdapat kemungkinan tindakan sterilisasi dengan menggunakan ramuan pestisida berbahan campuran daun mimba, juga turut mematikan mikro organisme penghasil unsur hara dalam media tanam. Namun, hingga saat ini, saya tidak melihat hal tersebut mengganggu tanaman yang tumbuh di atasnya. Melihat dari hasil akhirnya yang tanpa mencederai fisik tanaman, saya rasa, tidak perlu kiranya untuk melakukan tindakan hingga taraf mengganti media tanam guna mengatasi hama yang beredar di media tanam.

Kandungan nutrisi pada ramuan pestisida…

Menurut beberapa sumber, baik bawang putih maupun daun mimba memiliki kandungan nutrisi yang dapat berfungsi sebagai pupuk tanaman. Melihat efek yang dihasilkan setelah 1 bulan sejak tindakan sterilisasi dilakukan, sulit menilai penyebab kondisi tanaman menjadi tampak lebih segar. Keadaan media tanam yang jauh lebih bersih dari hama ketika dibongkar, merupakan satu-satunya kenyataan yang terlihat oleh kasat mata.

Tidak ada efek negatif teridentifikasi pada proses tumbuh-kembang tanaman setelah 2 bulan kemudian sejak tindakan sterilisasi. Selama masa untuk mendapatkan hasil dari tindakan mensterilkan media tanam tersebut, saya tidak pernah mengaplikasikan bubuk kacang kedelai untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Dalam hal ini, saya hanya berusaha mendapatkan hasil se-realistis mungkin atas tanaman yang disterilkan media tanamnya. Dan, dari sudut pandang saya, tanaman tidak terlihat kekurangan nutrisi selama tenggang waktu tersebut.

Semua berjalan normal, proses tumbuh-kembang tanaman berlangsung sebagaimana apa adanya. Ada kemungkinan kandungan nutrisi dalam kedua bahan tersebut juga berfungsi sebagai pupuk tanaman. Tindakan sterilisasi media tanam ini saya kerjakan juga pada beberapa tanaman lain dalam pot berbeda. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan semua tanaman tersebut tetap berjalan secara normal. Beberapa tanaman tumbuh dengan kondisi fisik daun baru tidak sebesar daun lama. Namun, tetap tumbuh dengan normal.

Jadi, apakah ramuan pestisida tersebut bisa dijadikan sebagai pupuk organik cair media tanam?

Mungkin saja bisa.

Namun, walau pun belum pernah secara serius ditelusuri sejauh mana dampak yang dihasilkan, saya cenderung untuk mengatakan tidak bisa. Ada beberapa kelebihan pupuk organik padat untuk media tanam yang tidak dimiliki oleh pupuk organik cair untuk media tanam. Dan, hingga saat ini, saya tetap berpedoman pada prinsip itu dalam memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman, khususnya melalui media tanam.

Selanjutnya⇒

Iklan

5 tanggapan untuk “Mensterilkan Media Tanam”

  1. Mensterilkan media tanam dilakukan dengan memanaskan media tanam, biasanya media yang perlu disterilkan adalah media jamur, alat untuk mensterilkan namanya autoclave.

    1. Suhu panas air tidak pernah saya ukur. Patokannya, begitu air sudah benar-benar mendidih, media dimasukkan dan direndam paling lama 1 menit dengan kondisi api menyala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Alternatif Cara Memelihara & Merawat Tanaman di Rumah

Iklan
%d blogger menyukai ini: