pH pada Media Tanam

Pengantar

Pembahasan mengenai pH (potensial Hydrogen) pada media tanam untuk tujuan berkebun, jarang mendapat perhatian. Walau pun tidak banyak usaha yang harus dilakukan yang berhubungan dengan pH, dampak yang dihasilkan dari pH yang tidak sesuai pada media tanam akan membawa efek negatif cukup serius pada tanaman. Di bawah ini adalah salah satu artikel mengenai perilaku pH tanah yang saya terjemahkan dari artikel AZ Master Gardener Manual: Soil pH di situs The University of Arizona, dimana beberapa bagian telah disesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia. Banyak artikel lain yang bertema sama, namun saya mendapatkan lebih banyak pengalaman yang mirip dengan penjelasan yang tertulis dalam artikel ini. Seandainya anda menganggap isi artikel ini kurang cocok atau ada artikel lain yang cenderung lebih tepat untuk diterapkan pada lingkungan dan aktivitas berkebun yang sekarang sedang dilakukan, silahkan untuk tetap menggunakan cara yang sudah ada.

Mohon maaf jika terjadi kesalahan dalam menterjemahkan dengan artikel aslinya.

pH

pH (potensial Hydrogen) adalah skala ukuran yang digunakan untuk mengukur aktivitas ion hidrogen (pembentuk asam) dalam tanah atau media tanam. Skala ukuran ini mengekspresikan derajat keasaman atau alkalinitas (basa) dalam bentuk nilai pH, sangat mirip dengan panas dan dingin yang diekspresikan dalam derajat Celcius atau Fahrenheit. Skala suhu Celcius berpusat pada nilai nol derajat atau titik beku air, dan termometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur intensitas panas dan dingin di atas dan di bawah titik tersebut. Skala ukuran keasaman atau alkalinitas terbagi menjadi 14 bagian yang dikenal sebagai unit pH. Titik pusat ukuran berada pada unit pH adalah 7 yang berarti netral. Nilai di bawah 7 merupakan area untuk ukuran skala keasaman dan nilai di atas 7 merupakan area untuk ukuran skala alkalin (basa).

Skala ukuran ini bukan merupakan skala ukuran linier tetapi skala ukuran logaritmik. Artinya, tanah dengan pH 8,5 adalah sepuluh kali lebih alkalin dari tanah dengan ph 7,5 dan tanah dengan pH 6,5 adalah seratus kali lebih asam dari tanah dengan pH 8,5.

Kondisi pH tanah adalah satu dari sejumlah kondisi lingkungan yang mempengaruhi kualitas pertumbuhan tanaman. Tanah yang mendekati pH netral atau sedikit asam, umumnya dianggap ideal untuk kebanyakan tanaman. Dengan beberapa pengecualian pada beberapa jenis tanaman, dapat tumbuh di mana saja pada kisaran pH 3,5 – 10,0. Tanah dengan tingkat pH pada kisaran 6,0-7,0 tidak memerlukan perlakuan khusus untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Dampak utama dari tingkat pH yang ekstrim terhadap pertumbuhan tanaman adalah ketersediaan nutrisi untuk diserap akar tanaman dan terkonsentrasinya mineral sehingga menjadi racun bagi tanaman. Pada tanah dengan tingkat alkalin yang tinggi, nutrisi mikro seperti unsur besi, seng, tembaga dan mangan akan diikat secara kimiawi dan menjadi sedikit tersedia untuk dapat diserap tanaman. Pada tanah dengan tingkat keasaman tinggi, unsur kalsium, fosfor, dan magnesium akan diikat secara kimiawi dan menjadi tidak tersedia untuk diserap; pada kondisi ini unsur mangan dan aluminium dapat mencapai tingkat beracun. Pengaplikasian bahan-bahan tertentu ke dalam tanah dapat dibuat untuk menyesuaikan nilai pH tanah.

Reklamasi tanah dengan alkalinitas tinggi yang, biasanya, juga disertai dengan tingginya kandungan sodium dapat dibenahi dengan menggunakan gypsum atau media pendukung tanah lainnya. pH tanah akan turun setelah kelebihan unsur sodium habis terbuang, walau hanya pada angka 7,5 saja. Mengaplikasikan unsur asam atau belerang untuk menurunkan pH tanah, biasanya, tidak efektif pada tanah yang mengandung mineral kalsium karbonat (unsur kapur). Mineral (kalsium karbonat) ini menempatkan pH tanah pada kisaran angka 7,5 sampai 8. Hampir semua kalsium karbonat harus dinetralkan dengan asam yang kuat dan kalau pun itu dilakukan, hanya untuk menurunkan pH tanah pada kisaran lumayan (kurang memuaskan).

Sedangkan untuk mengurangi tingkat keasaman pada tanah, dapat dengan mengaplikasikan bahan yang mengandung kapur. Kapur pertanian (dolomit) adalah bahan yang paling sering digunakan, tetapi mungkin sulit untuk ditemukan keberadaannya di toko-toko. Tidak disarankan untuk mengaplikasikan abu kayu (arang) pada tanah di taman kecuali tanah tersebut diketahui memiliki pH di bawah 6,0. Menambahkan abu kayu pada tanah alkalin akan meningkatkan tingkat alkalinitas dari tanah itu sendiri.

Pada tanah yang bersifat alkalin, diperlukan penanganan yang cukup serius untuk menjadikannya layak sebagai media tempat tumbuh tanaman.

 

Ada beberapa prinsip dasar yang perlu dipahami dan dikerjakan jika kita menginginkan area taman yang layak untuk ditanami. Mungkin prinsip yang paling penting untuk dipahami adalah keberadaan garam mineral akan habis terbawa air. Hal tersebut dapat diatur dengan pengadaan tehnik irigasi sederhana untuk penyediaan air dalam jumlah secukupnya dan pengendalian aliran air dalam tanah.

Konsentrasi garam mineral dalam tanah akan meningkat seiring berkurangnya air dalam tanah yang disebabkan proses penguapan dan transpirasi. Secara sederhana, permukaan tanah yang mengering oleh penguapan dan transpirasi akan menciptakan jalur hisap yang mengakibatkan satu pergerakan naik terhadap air dan garam mineral. Kandungan air dalam jumlah cukup besar yang terletak tidak jauh di bawah permukaan tanah akan membuat proses pergerakan ini menjadi berlebihan.

Bertambah atau berkurangnya jumlah garam mineral pada zona akar tanaman, tergantung pada perbandingan antara jumlah garam mineral yang bergerak turun dengan jumlah garam mineral yang masuk bersama air melalui aliran irigasi.

Keseimbangan garam mineral dalam tanah merupakan gambaran kuantitas dan kualitas air dari sistem irigasi dan juga gambaran keefektifan jalur drainase dari sistem pembuangan; dan kunci dalam menangani tanah yang bersifat alkalin adalah dengan cara menggunakan praktek sistem irigasi yang memadai.

Hal lain yang patut diperhatikan adalah bahan-bahan organik. Rendahnya kandungan organik dalam tanah yang belum pernah diolah (ditanami), pada umumnya akan meningkat seiring dengan penerapan sistem irigasi dan pembudidayaan tanaman. Faktor yang paling penting sehubungan dengan bahan organik adalah dapat meningkatkan dampak positif dan menguntungkan pada fisik struktur tanah. Disamping itu, bahan organik cenderung dapat mengatasi dampak negatf dari keberadaan unsur sodium dalam tanah. Cukup dengan mengaplikasikan dedaunan yang telah lapuk dalam jumlah besar, akan meningkatkan kemampuan menahan air, rata-rata pertumbuhan, peningkatan kualitas tanah dan panen. Juga telah dibuktikan bahwa bahan organik dapat mencegah terjadi kerusakan pada struktur fisik tanah dengan berperan sebagai sumber energi (dalam hal ini makanan) bagi mikro organisme yang mana menghasilkan stabilitas kualitas mineral dalam partikel tanah.

Perlu untuk berhati-hati dalam mengaplikasikan kotoran ternak sebagai sumber dari bahan organik karena pada umumnya memiliki kandungan sodium yang cukup tinggi yang mana, biasanya, diikuti dengan tingkat pH yang juga tinggi. Jika tingkat pH dalam tanah terlalu tinggi, unsur sulfur dan kapur pertanian dapat ditambahkan pada tanah guna mengatasi kelebihan sodium yang secara tidak langsung akan mengurangi tingkat alkalinitas.

Kebanyakan tanaman hias memerlukan keasaman tanah dari kadar terendah hingga yang cukup tinggi. Jenis tanaman seperti ini, seringkali sulit untuk tumbuh pada tanah dengan kandungan alkalin yang tinggi. Spesies tanaman ini akan menampakkan gejala kekurangan unsur besi jika tumbuh pada tanah yang bersifat alkalin. Kekurangan unsur besi dapat menyerupai dengan kekurangan unsur nitrogen karena gejalanya (daun menjadi kuning) sangat mirip. Kekurangan dari kedua nutrisi tersebut dapat dikenali dengan meneliti dimana munculnya gejala kekurangan itu sendiri. Pada unsur besi, gejala muncul pada pucuk daun dan dedaunan yang masih muda. Pada unsur nitrogen terjadi pada daun lama, daun pada bagian bawah tanaman yang paling banyak terkena. Penyemprotan pupuk daun yang mengandung unsur besi dapat digunakan untuk mengatasinya. Juga, dampak kekurangan unsur besi dapat dibenahi dengan mengaplikasikan potongan logam (EN – Chelate) yang mengandung unsur besi dalam tanah agar unsur besi tersedia bagi tanaman .

Definisi chelate berasal dari kata Yunani yang berarti cakar. Chelate dapat diumpamakan sebagai cakar dalam bentuk kimiawi yang digunakan untuk menahan ion logam, seperti unsur besi dalam bentuk larutan, sehingga tanaman dapat menyerapnya. Jenis chelate yang digunakan tergantung dari nutrisi yang dibutuhkan dan tingkat pH tanah. Unsur kimia yang berbeda dapat dijadikan dalam bentuk chelate, dari sebuah bahan kimia alami yang sederhana seperti sitrat sampai yang rumit, bahan kimia produk pabrikan. Saat logam chelate dimasukkan ke dalam tanah, kandungan nutrisi yang dimilikinya akan tetap tersedia untuk tanaman dan bertahan lebih lama daripada pupuk biasa. Mayoritas nutrisi tidak memerlukan keberadaan chelate sebagai tambahan untuk tetap dapat diserap. Hanya beberapa jenis logam, seperti besi, yang dapat dijadikan sebagai chelate.

Sumber : AZ Master Gardener Manual: Soil pH

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s