Pupuk Organik Padat dan Tanaman

Pupuk media tanam atau pupuk yang diaplikasikan pada media tanam adalah pupuk yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara dalam media tanam. Pentingnya mengaplikasikan pupuk pada media tanam dikarenakan bagian akar tanaman merupakan jalur utama bagi tanaman guna memenuhi kebutuhan nutrisinya secara keseluruhan. Oleh sebab itu, nutrisi yang terdapat pada pupuk media tanam, biasanya bersifat makro (NPK). Sedangkan, pengaplikasian pupuk pada daun (foliar feeding) lebih ditujukan untuk melengkapi kekurangan unsur hara / nutrisi tanaman yang bersifat mikro.

Dulu, saya berpikir, seandainya kebutuhan nutrisi makro bagi tanaman dibuat dalam bentuk cair, tentu akan lebih memudahkan saya melakukan aktivitas berkebun. Cukup dengan menuangkan pupuk cair ke dalam sprayer dan menyemprotkannya di atas permukaan media tanam maka urusan memenuhi kelayakan nutrisi media tanam sudah terselesaikan selama periode jangka waktu tertentu.

Berangkat dari ide tersebut, eksperimen demi eksperimen saya kerjakan untuk mendapatkan satu bentuk pupuk cair yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi makro media tanam. Tentu saja, eksperimen tersebut hanya sebatas kemampuan seorang awam. Saya tidak memiliki perlengkapan atau pengetahuan khusus di bidang ini. Semua itu hanya dilandasi rasa keingintahuan saja.

Bukankah judul artikel ini memberikan gambaran tentang ulasan pupuk organik padat untuk media tanam?  Mengapa pembahasan beralih ke arah eksperimen membuat pupuk cair?

Jika di perhatikan, ada dua macam produk pupuk sintesis untuk media tanam yang beredar di pasaran, yaitu padat dan cair. Sedangkan untuk produk pupuk organik untuk media tanam, cenderung hanya dalam bentuk padat saja. Saya sendiri tidak pernah menemukan peredaran produk pupuk organik cair untuk media tanam di pasaran. Pupuk organik cair yang umum beredar adalah untuk diaplikasikan pada permukaan daun.

Sulitnya menemukan pupuk organik cair untuk media tanam memberikan kontribusi rasa penasaran cukup besar di diri saya. Sebagaimana saya nyatakan di atas, seandainya memang pupuk seperti itu di produksi, sudah tentu akan lebih mempermudah dalam tindak perawatan tanaman, khususnya menjaga kecukupan nutrisi makro di media tanam. Dari eksperimen membuat pupuk organik cair yang saya telah kerjakan, saya mendapatkan ada beberapa kondisi mendasar yang menjadikan alasan pupuk organik cair untuk media tanam tidak pernah saya temukan di pasaran.

Jadi, tidak ada pengalihan dari pokok pembahasan mengenai pupuk organik padat untuk media tanam. Berdasarkan pengalaman dari hasil eksperimen membuat pupuk organik cair,  saya hanya mencoba menyajikan gambaran yang paling mendekati realita dari pentingnya keberadaan pupuk organik dalam bentuk padat untuk media tanam.

top

Nutrisi Makro dalam media tanam…

Nutrisi makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman terdiri dari beberapa unsur (artikel Nutrisi untuk Tanaman), namun ada tiga unsur utama yang mutlak tersedia keberadaannya dalam masa proses tumbuh-kembang tanaman. Yaitu : Nitrogen (N), Fosfor (P) dan Kalium (K). Ketidakseimbangan ketersediaan ketiga unsur tersebut akan berakibat terganggunya proses tumbuh-kembang tanaman.

Akar merupakan bagian tanaman yang berfungsi untuk menyerap dalam jumlah besar ketiga unsur tersebut. Jadi, sudah dapat dipastikan bahwa peredaran terbesar ketiga unsur hara itu adalah di area sekeliling akar atau tanah atau media tanam. Ada dua cara yang biasa dilakukan untuk menjaga kecukupan ketersediaan nutrisi makro dalam tanah, yaitu dengan mengaplikasikan pupuk padat sintesis dan organik.

Pada pupuk sintesis padat, unsur hara yang dihasilkan sudah dalam bentuk unsur itu sendiri, tidak ada proses penguraian. Pupuk akan terkikis dengan sendirinya secara bertahap dan bisa langsung diserap akar. Dengan demikian, waktu penyerapan unsur hara oleh akar tanaman berlangsung dalam waktu relatif singkat setelah pupuk diaplikasikan. Kondisi proses yang sama, juga berlaku pada beberapa jenis bahan pupuk organik padat. Namun, mayoritas pupuk organik padat memerlukan waktu untuk proses penguraian. Sehingga, unsur hara baru bisa diserap tanaman setelah terjadi proses penguraian.

Kelebihan dari pupuk organik padat adalah bahan organik yang menjadi bahan dasar untuk pupuk itu sendiri. Baik dalam keadaan masih baru atau pun sudah menjadi ampas, bahan organik tersebut dapat dikonsumsi oleh mikro organisme di media tanam. Sehingga masa ketersediaan unsur hara menjadi lebih lama dibanding dengan pupuk sintesis. Dengan tersedianya makanan bagi mikro organisme ini, secara otomatis akan lebih mengaktifkan aktivitas mikro organisme dalam media tanam. Aktivitas mikro organisme ini berdampak terhadap kuantitas ketersediaan unsur hara dalam media tanam tempat mereka tinggal.

Kekurangan terbesar dari pupuk organik padat adalah tidak semua bahan organik yang menjadi dasar utama pupuk memiliki komposisi unsur hara yang sama. Bahan yang berbeda, memiliki kandungan berbeda pula. Selain itu, tingkat kepadatan bahan juga menentukan lamanya waktu penguraian. Semakin keras, semakin lama waktu penguraian yang dibutuhkan. Kondisi ini menjadi semakin rumit karena bahan organik yang sama belum tentu memiliki kandungan nutrisi / unsur hara yang sama.

Ketidakseragaman kandungan nutrisi dan waktu yang dibutuhkan untuk proses penguraian menjadikan pupuk organik padat sulit diandalkan untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan nutrisi tertentu dalam waktu yang relatif singkat sebagaimana pupuk sintesis padat. Walaupun kondisi bahan yang sulit terurai dapat diatasi dan dipersingkat dengan menjadikan fisik bahan organik dalam bentuk lebih kecil (serpihan / butiran), tetap saja dibutuhkan waktu untuk serpihan / butiran itu akhirnya bisa terurai.

top

Eksperimen mencairkan pupuk organik padat…

Jika dengan memperkecil ukuran fisik bahan pupuk organik padat dapat mempercepat penguraian, maka bahan pupuk organik berbentuk cairan (mis. air bekas mencuci ikan yang hendak dimasak) sudah tentu tidak dibutuhkan lagi proses penguraian. Dengan begitu, akar tanaman bisa lebih cepat menyerap unsur hara tidak lama setelah pupuk di aplikasikan.

Jadi, apakah pupuk organik cair bisa dibuat menggunakan bahan organik untuk pupuk padat yang dicairkan?

Secara teori, kandungan nutrisi bahan organik padat dapat diekstrak ke dalam bentuk cairan. Cara termudah adalah dengan memasak bahan selama waktu tertentu, tetapi tidak semua kandungan dalam bahan dapat dikeluarkan dengan cara dimasak. Ini dikarenakan titik lebur dari setiap unsur yang berbeda-beda. Agar nutrisi yang tersisa dalam ampas tidak terbuang percuma, dapat dimanfaatkan dengan cara mengaplikasikannya pada media tanam.

Teori tersebut memang benar adanya, dan hal itu memang benar bisa dan mudah untuk dikerjakan. Namun pada kenyataannya, tindakan tersebut bisa dibilang sebagai satu pekerjaan sia-sia.

Dari hasil eksperimen yang saya kerjakan, kendala terbesar setelah pupuk berhasil dibuat adalah mempertahankan keberadaan unsur nitrogen (N) dalam bentuk cairan. Pupuk organik cair dengan kandungan unsur N (pada akhirnya) akan ber-fermentasi di hari ke 3 – 4 sejak produk selesai dibuat. Keadaan ini dapat terdeteksi dari aroma menyengat yang dihasilkan pupuk.

Akibatnya, pupuk hanya bisa berfungsi maksimal kurang dari 4 hari setelah begitu selesai di buat. Dalam waktu dua minggu kemudian, kandungan nutrisi pupuk berubah. Jika diendapkan lebih dari 6 bulan, ramuan cenderung akan menjadi pupuk daun seutuhnya.

Proses fermentasi terjadi tergantung kuantitas unsur N dalam produk pupuk cair. Semakin besar kuantitas unsur N, semakin cepat proses fermentasi dimulai.

Mendinginkan pupuk organik cair dalam lemari es, merupakan salah satu cara alternatif guna memperpanjang umur unsur N relatif lebih lama. Namun, begitu pupuk bersentuhan dengan udara bebas (walau pun disimpan kembali ke dalam lemari es), proses fermentasi tidak dapat dihindari lagi. Jika untuk mengakomodasi keberadaan unsur N ini harus mengandalkan ampas hasil pemasakan, untuk apa saya bersusah payah membuat pupuk cair dengan kandungan nutrisi makro?

Saya kurang mengerti bagaimana caranya pupuk organik cair dengan kandungan NPK yang banyak beredar di pasaran dapat mempertahankan unsur N dalam jangka waktu lama. Mungkin ada kekurangan langkah yang seharusnya saya kerjakan selama dalam proses pembuatan pupuk. Atau, bisa juga dikarenakan ketidaktersediaan perlengkapan yang memadai hingga menjadikan proses fermentasi terjadi dengan mudah pada produk akhir pupuk organik cair yang saya buat.

Beberapa sumber di internet menyatakan hal yang sama sebagaimana saya alami, namun beberapa sumber lainnya membantahnya dengan menyatakan bahwa unsur N dapat dipertahankan dalam produk pupuk organik cair. Saya tidak tahu pernyataan mana yang benar, hingga akhirnya saya menghentikan eksperimen tersebut.

top

Pupuk Cair Media Tanam yang sesungguhnya…

Melihat kenyataan hasil eksperimen yang tidak sesuai harapan, saya pun menyadari kemampuan dan kapasitas saya dalam bidang tersebut, jauh dari memadai. Saya mencoba berdamai dengan diri sendiri dan mencari alternatif lain dengan mem-fokus-kan perhatian pada pencarian bahan organik untuk dijadikan pupuk organik padat. Cerita mengenai itu dapat anda temukan pada artikel kacang kedelai tumbuk / giling sebagai pupuk.

Saat di tengah waktu proses untuk mendapat kepastian kacang kedelai dapat berfungsi dan dijadikan sebagai pupuk organik padat, saya memperoleh informasi mengenai kandungan NPK yang sebenarnya ada dalam pupuk organik cair. Hingga sebelum informasi tersebut diperoleh, saya selalu beranggapan kandungan unsur N pada pupuk organik cair adalah berupa unsur hara murni. Namun, tidak demikian kenyataannya.

Pupuk organik cair dengan kandungan unsur N adalah bukan cairannya yang mengandung unsur N, tetapi bahan dari cairan dari pupuk tersebut yang dapat mengundang mahluk penghasil unsur N.

Jadi, setelah bahan cairan tersebut diaplikasikan, akan mengundang bakteri / mikro organisme penghasil unsur N. Secara logika, produk pupuk seperti itu juga akan ber-fermentasi setelah dibuka kemasannya dan isinya bersentuhan dengan udara bebas. Lalu, bagaimana dengan pupuk organik cair yang menyertakan prosentase kandungan unsur N, P dan K pada kemasannya? Entahlah… saya sudah tidak tertarik untuk mencari tahu lebih jauh mengenai hal itu.

Hanya saja, terpaut di pikiran saya. Jika memang demikian cara kerja dari pupuk organik cair, berarti tidak ada bedanya dengan menggunakan bahan organik padat yang dapat mengundang bakteri / mikro-organisme penghasil unsur N untuk dijadikan pupuk (?). Toh, pada akhirnya tetap saja mikro-organisme yang menjadikan unsur N tersebut ada di dalam media tanam.

Benar begitu konsepnya, bukan?

Setelah eksperimen dari kacang kedelai memperlihatkan hasil positif bahwa bisa dijadikan sebagai bahan pupuk organik padat, saya kembali meng-evaluasi langkah-langkah dari penyebab gagalnya eksperimen membuat pupuk organik cair untuk media tanam. Sampai akhirnya, saya berada pada sebuah pemikiran bahwa merupakan satu kesalahan jika eksperimen tersebut dibilang tidak memberikan hasil apa pun.

Memang saya tidak mendapatkan satu hasil produk pupuk organik cair untuk media tanam dalam bentuk apa pun dari eksperimen tersebut. Namun, saya menjadi mengerti bahwa produk pupuk organik cair seperti itu memang tidak mungkin di buat dengan menggunakan bahan organik. Karena, bahan organik apa pun memiliki batas akhir untuk bisa bertahan, yang mana kita mengenalnya dengan sebutan (proses) fermentasi / pelapukan. Tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghilangkan atau bisa digunakan untuk melewati batas (fermentasi / pelapukan) itu dengan menggunakan bahan organik.

Sebuah pelajaran berharga saya peroleh dari eksperimen tersebut yang bisa diartikan bahwa saya untuk harus bisa lebih menghormati batas-batas dimana manusia tidak boleh sembarangan meng-intervensi kondisi aturan main yang telah ditetapkan / dibentuk sebelumnya oleh alam.

Jika dikaitkan dengan tindak perawatan tanaman, kira-kira bisa saya simpulkan dengan kalimat seperti di bawah ini :

Kita boleh memberikan dukungan pada tanaman untuk selalu mencukupi ketersediaan kebutuhan nutrisi disertai tindak perawatan terbaik selama mereka menjalani proses tumbuh-kembangnya. Namun, kita tidak boleh mengubah kondisi alami proses tumbuh-kembang tanaman dengan cara memaksakan tanaman untuk mengikuti proses tumbuh-kembang sebagaimana yang kita inginkan.

top

Pupuk organik Media Tanam : Padat vs Cair…

Selama bereksperimen menggunakan kacang kedelai untuk dijadikan bahan pupuk organik padat, saya menemukan adanya hubungan saling mengisi antara : pupuk organik padat, kemampuan akar menyerap nutrisi dan proses tumbuh-kembang tanaman. Ketiga faktor tersebut merupakan satu rangkaian dari alur pertumbuhan tanaman yang, menurut saya, memang demikian seharusnya.

Agar dapat lebih jelas terlihat perbedaan efek yang dihasilkan dari mengaplikasikan pupuk organik padat dan pupuk organik cair (sebelum mengalami fermentasi), di bawah ini saya deskripsikan perbandingan kondisi yang terjadi antara kedua jenis pupuk tersebut setelah keduanya diaplikasikan pada media tanam..

Pupuk Organik Padat :

Saya mendapatkan bahwa pengaplikasian skala kecil pupuk organik padat dalam waktu berkesinambungan selama periode tertentu, cenderung diterima dengan baik oleh tanaman. Bahan fisik pupuk yang padat menjadikannya tidak cepat terurai sebagaimana pupuk organik cair, sehingga membuat keberadaannya dalam media tanam dapat bertahan cukup lama. Dengan terbatasnya kemampuan akar tanaman dalam menyerap unsur hara pada media tanam, membuat satu keadaan saling mengisi antara waktu yang diperlukan untuk proses penguraian dengan kemampuan akar menyerap kuantitas unsur hara dari bahan yang telah terurai.

Otomatis, ketersediaan unsur hara dalam media tanam tetap terjaga selama keberadaan bahan masih ada hingga dan setelah bahan habis terurai. Dengan menggunakan kedelai tumbuk / giling sebagai bahan organik pupuk padat media tanam, rata-rata jeda waktu setiap pengaplikasian sekitar 5-6 bulan sekali per pot.

Lambatnya waktu pupuk organik padat untuk bisa terurai, juga memengaruhi tingkat kelembaban media tanam. Mulai dari permukaan hingga dasar pot, tingkat kelembaban media tanam berada pada kondisi bertahap. Tidak ada endapan media tanam yang cukup tebal seperti lumpur di bagian dasar pot. Mungkin disebabkan karena lambatnya proses fermentasi yang terjadi dalam pot. Hal ini menjadikan keadaaan porous dari media tanam relatif terjaga dengan baik, sehingga jalur drainase dan aerasi dalam media tanam ikut terpelihara.

Namun begitu, jeda waktu pupuk organik padat untuk bisa terurai merupakan hal yang sering dijadikan sebagai alasan sebagai satu kelemahan terbesar dari penggunaan pupuk organik padat. Kelemahan ini di-anggap sebagai penghambat percepatan proses pertumbuhan tanaman .

Pupuk Cair :

Sama halnya dengan pupuk organik padat, pengaplikasian skala kecil pupuk organik cair dalam waktu berkesinambungan akan berefek positif pada pertumbuhan tanaman. Hanya saja, pupuk organik cair tidak memerlukan waktu untuk proses penguraian. Dengan begitu, unsur hara yang terdapat pada pupuk bisa langsung diserap oleh tanaman. Baik melalui daun maupun akar. Ini merupakan kelebihan pupuk organik cair dalam mengatasi kekurangan satu / beberapa unsur hara tanaman dengan cepat. Jika pengaplikasiannya dilakukan di atas permukaan media tanam, pupuk ini akan menempel pada media tanam. Kondisi ini akan tetap demikian hingga diserap oleh akar atau habis tercuci air saat penyiraman.

Sifat mudah habis tercuci air inilah yang menjadikan pengaplikasian pupuk organik cair bisa lebih sering dilakukan di banding pupuk organik padat. Namun demikian, kondisi itu juga menjadi salah satu kelemahan terbesar dari pupuk organik cair untuk media tanam. Tidak semua unsur hara mudah habis tercuci air. Dengan asumsi kandungan nutrisi makro pada pupuk cair sama dengan pupuk padat, maka kondisi pupuk dalam bentuk cairan akan lebih mempermudah unsur hara yang mudah habis tercuci air hilang. Sementara di saat yang sama, unsur hara yang tidak mudah habis tercuci air akan tetap tinggal di media tanam.

Saat pupuk kembali diaplikasikan, kuantitas unsur hara yang tidak mudah habis tercuci air akan bertambah / berakumulasi. Jika dilakukan secara berkesinambungan, pada akhirnya akan berujung pada kasus overdosis pupuk.

Di sisi tanaman, kemampuan akar dalam menyerap unsur hara sangatlah kecil. Jadi diperlukan parameter yang cukup jelas kapan pupuk harus diaplikasikan, dengan kata lain, kita (setidaknya) harus benar-benar memahami keadaan tanaman saat pupuk diaplikasikan agar tingkat kejenuhan unsur hara yang tidak mudah habis tercuci air dapat dicegah.

Dari deskripsi di atas, kita bisa membandingkan bahwa pengaplikasian antara pupuk organik padat dan cair memiliki perjalanan waktu proses serta efek yang berbeda dengan cara tanaman menyerap unsur hara. Lambatnya waktu yang dibutuhkan yang pupuk padat untuk bisa terurai menjadikan jumlah unsur hara yang dihasilkan pun sangat terbatas. Namun, kondisi seperti itu cenderung memiliki kecocokan dengan karakter akar tanaman dalam menyerap unsur hara.

Sedangkan pupuk organik cair cenderung bisa diterima dengan lebih baik jika di aplikasikan pada daun. Kondisi udara terbuka menjadikan kualitas nutrisi berkurang dengan sangat cepat. Radiasi ultraviolet dari sinar matahari akan menghancurkan kualitas dan menghabiskan efek nutrisi pupuk dengan sangat baik. Oleh sebab itu, kita sering mendengar anjuran untuk mengaplikasikan pupuk cair lebih baik di saat sebelum matahari terbit atau setelah matahari terbenam.

Pada keterangan sebelumnya, saya menyatakan keberadaan unsur N dalam pupuk organik cair tidak dapat bertahan lebih dari 4 hari. Jika memang kondisinya seperti itu, untuk apa saya mendeskripsikan perbandingan kinerja antara kedua pupuk tersebut?

Disini, saya asumsikan keberadaan unsur N pada pupuk organik cair dalam kondisi stabil. Walau pada kenyataannya saya tidak pernah bisa mendapatkan kondisi pupuk organik cair seperti itu dalam jangka waktu lebih dari 4 hari, tidak menutup kemungkinan ada produk pupuk organik cair lain di pasaran yang bisa mempertahankan keberadaan unsur N lebih lama dari 4 hari setelah sejak pertama kali digunakan.

Jika proses menghasilkan unsur hara dari pupuk padat memiliki kecocokan dengan cara akar tanaman menyerap unsur hara, untuk apa pupuk cair dengan kandungan nutrisi makro masih banyak dijual di pasaran?

top

Kebutuhan pupuk cair dengan kandungan nutrisi makro…

Tidak semua tanaman memiliki habitat untuk tumbuh di atas permukaan media tanam / tanah. Jenis tanaman tertentu, seperti anggrek (kecuali anggrek tanah), sangat membutuhkan keberadaan pupuk cair dengan kandungan nutrisi makro. Karena, anggrek merupakan tanaman yang (boleh dibilang) tidak memerlukan keberadaan media tanam.

Di alam liar, anggrek biasa tumbuh di permukaan batang pohon, baik yang masih hidup maupun sudah mati. Sumber kebutuhan nutrisi diperoleh melalui udara dan media tempat dia berpijak. Anggrek yang di pelihara di halaman rumah, membutuhkan asupan nutrisi tambahan karena lingkungan sekitarnya tidak menyediakan kondisi layaknya di alam liar. Tempat pertumbuhan akar anggrek biasanya terbuka (biasa disebut dengan akar udara) dan langsung bersentuhan dengan keadaan alam dan cuaca sekitarnya.

Dengan karakter seperti ini menjadikan anggrek tidak memerlukan tempat khusus (media tanam) untuk menyimpan cadangan nutrisi dan kelembaban dalam waktu cukup lama diluar fisik tanaman. Sehingga untuk memenuhi kedua kebutuhan tersebut, sepenuhnya hanya mengandalkan pada cadangan yang ada dalam fisik tanaman serta kondisi lingkungan disekitarnya saja.

Itulah sebabnya frekuensi pemenuhan kebutuhan air dan nutrisi pada anggrek relatif lebih tinggi dibandingkan jenis tanaman lain yang tumbuh di atas tanah / media tanam. Keberadaan pupuk cair dengan kandungan nutrisi makro, dalam kasus seperti ini, sangat dibutuhkan untuk mengatasi keterbatasan pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anggrek yang dipelihara di halaman rumah agar dapat tumbuh sebagaimana habitat aslinya.

top

Jadi…

Setiap produk pupuk organik, baik padat maupun cair, yang ada di pasaran dibuat dengan tujuan dan kebutuhannya masing-masing. Kita perlu memahaminya sebelum meng-aplikasi-kan produk-produk tersebut secara serampangan.

Pengaplikasian pupuk organik padat pada media tanam, bukan semata-mata untuk menjadikan media tanam yang layak tanam saja. Tetapi, juga mengundang mikro-organisme untuk hadir dan beraktivitas di dalam media tanam. Proses penguraian bahan organik merupakan salah satu contoh yang bisa kita lihat dari keberadaan dan aktivitas mikro-organisme.

Kondisi media tanam yang “hidup” (istilah lain dari “dipenuhi aktivitas mikro-organisme”) akan mempermudah kita dalam merawat dan menghasilkan tanaman yang lebih baik. Selain meniadakan residu bahan kimia yang biasa dihasilkan pupuk sintesis, pupuk organik tidak membuat media tanam menjadi “mati” setelah masa guna pupuk habis terpakai. Kita tinggal mengaplikasikan pupuk organik baru untuk menjaga kelangsungan hidup mikro-organisme yang ber-semayam di media tanam.

Memang kondisi seperti itulah yang diinginkan dan menjadi tujuan sebenarnya dari mengaplikasikan pupuk organik padat, yaitu meng-aktif-kan / menghidupkan dan memelihara keberadaan mikro-organisme dalam waktu selama mungkin dalam media tanam.

top

Semoga bermanfaat!

One thought on “Pupuk Organik Padat dan Tanaman

  1. nbariro

    hallo
    sy sgt tertarik dg artikel anda mengenai uji coba pembuatan pupuk organik.
    jika suatu hr nanti sy butuh bantuan bapak u membuat pupuk organik apakah sy bs main ke rmh bpk?
    karena sy selama ini hanya melihat pembuatannya dn tdk prng praktek sendiri. jd sy tdk yakin u menproduksi yg banyak u di berikan ke petani. sdgkan sebentar lg sy akan mendapat tugas dr komunitas lingkungan di kampus u menjadi ketua divisi pembuatan pupuk. kalau boleh tahu bpk di daerah mn y?
    mhn bls ke email sy: ************

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s