Rumput Laut sebagai Pupuk Tanaman

Rumput Laut (EN : Seaweed) lebih dikenal sebagai bahan dasar untuk membuat produk agar-agar. Rumput laut yang belum di olah, jarang kita temui di toko-toko atau pasar tradisional. Kalau pun ada, jumlahnya tidak banyak karena peminat pasar yang memang terbatas. Jenis / spesies rumput laut itu sendiri ada beberapa, namun yang biasa dijadikan pupuk adalah rumput laut bahan pembuat agar-agar. Ada dua produk bahan mentah rumput laut yang bisa ditemukan dipasaran : keadaan basah dan kering.

Saya tidak pernah membuat rumput laut basah untuk dijadikan pupuk karena saya tidak pernah mendapatkannya. Umumnya, sudah dalam keadaan lembab atau hampir kering. Itu pun agak sulit mendapatkannya, karena jarang yang menjualnya.

Apakah rumput laut bisa dijadikan bahan dasar untuk membuat POC? Jawabannya, bisa. Tapi saya sama sekali tidak menyarankan untuk melakukan hal itu. Hanya dengan merendamnya di air tawar selama 24 jam, rumput laut kering sudah dapat dijadikan sebagai biang POC. Namun, biang POC ini hanya dapat bertahan dalam keadaan segar selama (paling lama) 3 hari saja. Selanjutnya akan mengeluarkan aroma (bau) tidak sedap, selayaknya air kotor dalam got yang lama mengendap tidak teralirkan. Namun, bukan berarti air yang sudah berbau busuk ini tidak dapat berfungsi sebagai pupuk lagi. Mungkin dengan cara proses tertentu dapat dihasilkan biang POC berbahan rumuput laut yang lebih tahan lama, saya belum mengetahuinya atau pun mencobanya.

Untuk pengaplikasiannya, cukup dengan ± 10 – 15 mililiter biang POC dicampur 2 liter air tawar, anda akan melihat dampak positif dari proses tumbuh-kembang tanaman dalam 1 minggu sejak diaplikasikan. Rumput laut memiliki kandungan nutrisi mikro cukup lengkap dengan kadar cukup tinggi. POC berbahan mentah rumput laut, selain memiliki kandungan unsur K (Kalium) yang tinggi, sangat efektif untuk menutupi kekurangan nutrisi mikro pada tanaman dengan cepat. Namun, frekuensi pengaplikasian nutrisi mikro ini tidak dapat dilakukan dalam selang waktu yang relatif sering. Setidaknya, setiap enam bulan untuk setiap kali pengaplikasian.

Kemampuan tanaman untuk memanfaatkan POC dalam proses tumbuh-kembangnya, tidak secepat waktu kadaluwarsa yang dimiliki oleh biang POC itu sendiri. Keadaan yang tidak sejalan ini menjadikan rumput laut (juga bahan organik lainnya) kurang nyaman untuk dijadikan sebagai bahan mentah pembuatan POC.

Berbeda halnya jika rumput laut ini dijadikan sebagai pupuk media tanam. Selama disimpan ditempat teduh (terlindung sinar matahari) dan kering, dapat bertahan dalam jangka waktu cukup lama. Pengaplikasiannya sama seperti bubuk kedelai pada artikel Membuat Pupuk Media Tanam dengan Kedelai. Hanya saja dalam kasus rumput laut, anda dapat langsung mengaplikasikannya atau bisa juga dihaluskan terlebih dulu sebelum diaplikasikan. Kandungan garam yang terdapat pada rumput laut, katanya, dapat sebagai repellent (penolak) hama nematoda dalam media tanam. Saya tidak melihat atau merasakan efek tersebut. Yang pasti, kandungan garam ini dapat berfungsi untuk sementara menaikkan pH tanah. Walau pun tidak bertahan lama (tergantung kualitas penyiraman), ada baiknya untuk memeriksa dahulu kadar pH pada media tanam sebelum membenamkan rumput laut ke dalamnya. Mayoritas tanaman hias tidak menyukai keadaan pH tanah yang tinggi.

Perlu diperhatikan bahwa frekuensi pengaplikasian pupuk dengan kandungan nutrisi mikro tidak dapat melebihi frekuensi pengaplikasian pupuk dengan kandungan nutrisi makro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s